Biografi Raden Saleh asal Semarang, Pelopor Seni Rupa di Indonesia

Biografi Raden Saleh asal Semarang, Pelopor Seni Rupa di Indonesia

Tim detikJateng - detikJateng
Jumat, 23 Sep 2022 04:05 WIB
Lukisan Raden Saleh
Salah satu lukisan karya Raden Saleh. Foto: (Agnes/detikhot)
Solo -

Raden Saleh memiliki nama panjang Raden Saleh Syarif Bustaman. Pelopor seni rupa di Indonesia ini lahir di Terbaya, Semarang, Jawa Tengah. Beberapa sumber menyatakan tahun 1807, 1811, dan 1814 sebagai tahun kelahirannya. Berikut biografi Raden Saleh.

Biografi Raden Saleh

Dikutip dari laman resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud) pada Kamis (22/9/2022), Raden Saleh adalah putra dari pasangan Mas Ajeng Zarip Husen dan Sayid Husein bin Alwi bin Awal-Bupati Terbaya pada waktu itu (awal abad ke-19).

Sejak belia, Raden Saleh sudah belajar banyak hal pada orang-orang yang ahli di bidangnya. Ia menajamkan goresan sketsanya di bawah bimbingan Antonie A J Paijen dan J Th Bik. Bakat dan kemampuannya ini membawa kesempatan bagi Raden Saleh untuk mengembangkan diri di Eropa.


Pada 1829, Raden Saleh muda bertolak ke Belanda naik kapal Pieter en Karel untuk mengikuti perjalanan dinas seorang pejabat keuangan Hindia Belanda. Di Belanda, ia belajar melukis potret pada Cornelis Kruseman dan melukis panorama pada Andreas Schelfout.

Gairah sebagai ilmuwan muda juga mendorong Raden Saleh memanfaatkan kesempatan untuk mempelajari banyak hal di luar melukis.

Pada 1851, Raden Saleh mengakhiri petualangannya di Eropa dan kembali ke Batavia (Jakarta). Ia menikahi Raden Ayu Danudiredjo setelah mengakhiri pernikahannya dengan istri pertama yang berkebangsaan Belanda.

Pada 1865, Raden Saleh memulai perjalanan menjelajah Pulau Jawa dan berhasil menemukan sejumlah fosil. Selain itu, ratusan benda purbakala juga berhasil ia kumpulkan.

Obituari untuk Raden Saleh

Raden Saleh yang punya julukan 'Sang Pelukis Raja' ini meninggal pada Minggu 25 April 1880. Kepulangan Raden Saleh ke peristirahatan terakhir diantar oleh banyak orang dari berbagai kalangan.

Hal itu disebutkan dalam obituari Koran Java Bode, 28 April 1880, sebagaimana dikutip dari laman Kebudayaan Kemdikbud.

"Kita poenja corespondent dari Bogor toelis kabar jang berikoet: pada hari Minggoe tanggal 25 April djam 6 pagi maitnya Raden Saleh diiringi oleh banjak toean-toean ambtenaar, kandjeng toean Assistant, toean Boetmy dan lain-lain toean tanah, hadji-hadji, satoe koempoelan baris bangsa Islam, baik jang ada pangkat jang tiada berpangkat dan orang Djawa, sampe anak-anak Djawa dari Landbouwschool semoea anter itoe mait ke koeboer. Penghoeloe-penghoeloe, kiai-kiai dan orang-orang alim soedah djoega ikoet anter. Itoe orang-orang Selam dan Djawa dan apa lagi itoe jang alim-alim soedah njanji sepandjang djalan dengan soeara jang sedih."-ISB-



Simak Video "Meski Fobia Ketinggian, Iqbaal Ramadhan Sukses Lakukan Adegan Lompat Gedung"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/apl)