wara wara

Pertunjukan Studio TaKsu: Kalpataru, Ikan-ikan dan Nota Berwarna Hitam

Tim detikJateng - detikJateng
Selasa, 06 Sep 2022 20:16 WIB
Pementasan Studio Taksu Solo.
Foto: dok Istimewa
Solo -

Pertunjukan Studio TaKsu: Kalpataru, Ikan-Ikan dan Nota Berwarna Hitam

Ide Gagasan

Melihat dan membuat pertunjukan (kesenian) harus selalu disertai dengan rabaan rasa, naluri dan pengalaman batin sehingga imajinasi bisa bebas dan dapat terbang ke mana pun dalam memaknai sebuah pertunjukan yang tersaji.

Berangkat dari keyakinan tersebut, pertunjukan Kalpataru, Ikan-Ikan dan Nota Berwarna Hitam adalah sebuah rekayasa dongeng tentang pohon Kalpataru, pohon yang selalu bisa mengabulkan permintaan dan permohonan. Akan tetapi, permintaan dan permohonan itu menjadi bersifat rakus, serakah, rasa lupa yang menimbulkan kekecewaan. Sedangkan kekecewaan sendiri merupakan sebuah hasrat yang telah usai namun selalu melahirkan hasrat yang baru dan selalu melahirkan sebuah kebosanan.


Di bawah pohon Kalpataru yang dermawan terjadi tragedi-tragedi tetapi tanpa adanya orang-orang yang resah di bawah pohon Kalpataru, hidup akan menjadi mustahil. Tetapi, berdesak-desakan di bawah pohon Kalpataru untuk memohon pasti juga akan menjadi busuk.

Nilai pesan yang tersirat dari dongeng pohon tersebut adalah pilihan yang harus disertai dengan rasa tanggung jawab.

Pertunjukan Kalpataru, Ikan-Ikan dan Nota Berwarna Hitam adalah sebuah pertunjukan lintas medium dan vokabulen (gerak, tari, suara, kata) yang diberi beban cerita dan suasana-suasana menyentuh pikiran, perasan, lepas dari benar dan salah, baik dan buruk, diterima atau tidak.

Pertunjukan Kalpataru, Ikan-Ikan dan Nota Berwarna Hitam adalah sebuah rekayasa pertunjukan bagaimana penampil, aktor, pelaku mampu mengada dalam pertunjukan dan mengada dalam kesenian. Pertunjukan Kalpataru, Ikan-Ikan dan Nota Berwarna Hitam adalah sebuah 'anekdot' pemahaman lingkungan hidup di era globalisasi menjadi nilai pesan yang akan disampaikan lewat pertunjukan.

"Semua orang menuju kita untuk hidup menjadi keren, tetapi mengapa hutan menjadi gundul, sampah menyumpal di segala sudut desa, sudut pulau, sawah-sawah berubah fungsi? Seharusnya hutan itu bisa lebih menjadi lebat, desa, sawah, ladang akan lebih menjadi asri. Hidup tidak mengurai tangkap, menakar lepas bukan?"

Profil Singkat Studio TaKsu

Sebuah grup teater tari dan komunitas seniman Sanggar TaKsu didirikan oleh Djarot B Darsono, Eko Supendi dan Budi S Susilo pada tahun 1995. Semenjak berdiri hingga saat ini, Studio TaKsu konsisten mengangkat sebuah karya dengan menggarap tema-tema tentang isu-isu sekitar yang sedang menghangat seperti konsekuensi dari perubahan sejarah Indonesia, efek kemajuan teknologi, hubungan antara alam dan manusia serta perubahan peran perempuan dan aspek terkait gender lainnya.

Hingga saat ini Studio TaKsu telah menghasilkan lebih dari 40 karya dan telah dipresentasikan ke berbagai kota di Indonesia maupun di luar negeri.

Kalpataru, Ikan-Ikan dan Nota Berwarna Hitam

Naskah/Sutradara: Djarot B Darsono
Aktor: Dery Sukaik, Djarot BD, Sutrisno
Komposer: Iwan Darmawan Chaniago
Audio Enginer: Mahawang Agung Prabowo
Artistik: Wawan Artistika
Make up: dr Drama
Lighting Desainer: Yanuar Edi

Pertunjukan tanggal 13 September 2022 di teater arena pukul 20.00 WIB, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta.

Pengirim:

Studio TaKsu

[Pembaca detikJateng dapat berbagi informasi yang sekiranya perlu untuk diketahui khalayak luas melalui platform wara-wara ini. Informasi bisa dikirim melalui email: infojateng@detik.com]



Simak Video "Keseruan Gelaran Musik Solo City Jazz di Keraton"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/ahr)