Bukan di Keraton Kasunanan, Masjid Tertua Solo justru di Laweyan

Bayu Ardi Isnanto - detikJateng
Kamis, 20 Jan 2022 12:28 WIB
Masjid Laweyan atau Masjid Ki Ageng Henis.
Masjid Laweyan atau Masjid Ki Ageng Henis. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikJateng
Solo -

Sebagai daerah yang memiliki peran vital dalam perkembangan Islam di Jawa, Kota Solo punya banyak masjid kuno yang sarat sejarah. Tapi, masjid manakah yang paling tua di Solo?

Masjid tertua di Solo ternyata bukan Masjid Agung Surakarta yang berada di kompleks Keraton Kasunanan. Meski dibangun pada masa kekuasaan Paku Buwana II (1745 - 1749), masjid di barat Alun-alun Utara itu terbilang masih muda.

Sebab, ada satu masjid lagi yang lebih tua, yaitu Masjid Laweyan. Masjid Laweyan terletak di Jalan Liris No.1 Kampung Belukan, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan. Masjid yang tersembunyi dari riuhnya Jalan Dr. Rajiman itu juga dikenal sebagai Masjid Ki Ageng Henis.


"Masjid Laweyan atau Masjid Ki Ageng Henis berdiri sejak 1546," kata Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, Alpha Febela, saat ditemui detikJateng, Minggu (20/12/2021).

Sosok Ki Ageng Henis

Ki Ageng Henis adalah putra Ki Ageng Selo sekaligus cucu Raden Brawijaya V, raja Majapahit terakhir. Ki Ageng Henis juga guru spiritual Joko Tingkir atau Mas Karebet, pendiri dan raja pertama Kerajaan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya.

Oleh Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Henis diberi tanah perdikan yang kini bernama Laweyan. Laweyan sebelumnya wilayah kekuasaan Pengging dengan peradaban Hindu.

Setelah Ki Ageng Henis tinggal di Laweyan, dakwahnya berhasil membuat Laweyan menjadi pusat perkembangan Islam saat itu. Ki Beluk, tokoh Hindu Jawa di Laweyan, pun tertarik dengan ajaran Islam yang dibawa Ki Ageng Henis.

"Selanjutnya Ki Ageng Beluk ini memeluk Islam dan mewakafkan pura untuk dijadikan tempat ibadah umat Islam," kata takmir Masjid Laweyan, Rofik (47), kepada detikJateng (26/4/2021).

Pura itu tak serta-merta dipugar menjadi masjid. Rofik menyebut, bagian pura awalnya dirombak menjadi musala dulu.

Bentuk Bangunan

Alpha mengatakan, periodisasi perubahan bangunan dari pura menjadi masjid itu belum diketahui. "Karena literatur tentang masjid ini sangat terbatas. Mungkin yang bisa menjadi bukti dulunya tempat peribadatan Hindu adalah tempatnya yang naik, meninggi," kata Alpha.

Dari struktur bangunannya, Alpha menambahkan, Masjid Laweyan seperti Masjid Demak dan Masjid Agung Surakarta. Ada serambi, ada tiang saka di bangunan utama, lalu di kanan kiri bangunan utamanya ada ruangan tersendiri.

Di sebelah barat masjid terdapat kompleks pemakaman. Di situlah Ki Ageng Henis dimakamkan. Konon, Ki Ageng Henis berwasiat agar dimakamkan di tempat tetirah Sunan Kalijaga. "Sunan Kalijaga kalau ke Pajang biasa tetirah di barat lokasi masjid itu," ujar Alpha.

Menurut Ketua Harian Takmir Masjid Laweyan, Sutanto, sebagian bangunan Masjid Laweyan sudah mengalami perubahan. "Sekarang sudah tidak ada sekat antara ruangan utama dengan (ruangan) kanan kirinya. Tempat wudu yang dulu berupa bak besar juga sudah dibongkar. Dulu wudunya pakai gayung," kata Sutanto.

Meski sebagian struktur bangunannya mengalami perubahan, Sutanto berujar, beberapa peninggalan lama di Masjid Laweyan masih dipertahankan. "Kalau dilihat kayunya, (tiang saka di bangunan inti masjid) itu kemungkinan peninggalan lama. Bedug kayunya juga lama, kami hanya mengganti kulitnya," ujar Sutanto.

Cikal Bakal Mataram

Menurut salah satu tokoh masyarakat di Laweyan, Prasetyo Adi Wisnu Wibowo, Ki Ageng Henis adalah cikal bakal raja-raja Mataram. "Ki Ageng Henis adalah ulama besar yang melahirkan raja-raja Mataram," kata Prasetyo, Minggu (19/12/2021).

Prasetyo yang merupakan keturunan Samanhudi, pahlawan pergerakan nasional asal Laweyan, menjelaskan Ki Ageng Henis memiliki putra bernama Ki Ageng Pemanahan. Dari Ki Ageng Pemanahan, lahirlah Danang Sutawijaya sang pendiri Kerajaan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati.

"Danang Sutawijaya ini juga dikenal sebagai Ngabei Loring Pasar karena tinggal di utara Pasar Laweyan bersama Ki Ageng Henis. Sutawijaya kemudian pindah ke hutan Mentaok, dalam perjalanannya dia mendirikan Kerajaan Mataram Islam," ujar Prasetyo.



Simak Video "Melihat Masjid Selo, Peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono I"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/aku)