Sejarah Panjang Warna-warni Cantiknya Batik Pesisir Pekalongan

Robby Bernardi - detikJateng
Kamis, 20 Jan 2022 12:24 WIB
Koleksi Museum Batik Pekalongan, Rabu (19/1/2022).
Koleksi Museum Batik Pekalongan, Rabu (19/1/2022). (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Pekalongan -

Pekalongan, Jawa Tengah tidak bisa lepas dari batik dan serba-serbinya. Ya, sudah sejak sebelum masa kemerdekaan banyak warga di pesisir utara Jawa Tengah ini yang berprofesi sebagai perajin batik.

"Di Solo-Jogja dan pesatnya tahun 1800-an. Keduanya mempunyai ciri khas masing-masing dan hampir sama. Kalau Solo itu motif keemasan warna soga emas kalau Jogja warna soga matang dan putih itu. Motifnya klasik ada ribuan yang diciptakan berdasarkan pemikiran kemudian pengetahuan pada zaman dahulu," ujar salah seorang Pengurus Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Indonesi (APPBI), Ahmad Failasuf, yang juga pengusaha Batik Pesisir, kepada detikJateng, di Kampung Batik Pesisir Wiradesa, Pekalongan, beberapa hari lalu.

"Batik kemudian menyebar ke area pesisiran ke Pekalongan, Semarang, Lasem, Kudus bahkan Madura. Kemudian di pesisir bagian barat sampai ke Cirebon, Garut, Indramayu yang masing-masing punya ciri khas batik sendiri-sendiri," jelasnya.

Pengaruh Eropa hingga Jepang

Failasuf mengatakan batik di daerah pesisir pantai banyak dipengaruhi oleh kolonial Belanda. Pengaruh ini terjadi sejak tahun 1840 hingga 1940-an.

"Sehingga muncul desain-desain motif yang ke-Eropan-an, katakanlah warna biru, merah, hijau, itu muncul dalam masa kolonial kemudian motifnya berkembang motif Eropa kayak buket-an atau setangka bungai yang diikat," tutur Failasuf.

Koleksi Museum Batik Pekalongan, Rabu (19/1/2022).Koleksi Museum Batik Pekalongan, Rabu (19/1/2022). Foto: Robby Bernardi/detikcom

Kemudian, lanjut Failasuf, masuknya Jepang ke Indonesia pada tahun 1940-an juga mempengaruhi motif batik yang dikenal dengan motif batik Java Hokokai.

"Batik Java Hokokai itu dibuat pada zaman Jepang sebagai pemberian hadiah pada para pengusaha atau orang yang kerjasama ekonomi Indonesia. Nama Hokokai sendiri merupakan organisasi ekonomi Indonesia yang dibentuk oleh Jepang," katanya.

Batik Java Hokokai diwarnai dengan motif bunga sakura dan kupu-kupu. Pada motif inilah kemudian muncul warna Kuning, coklat, biru, merah.

Pengaruh Budaya Tionghoa

Kepala Musium Batik Pekalongan, Akhmad Asror, menambahkan batik di Pesisir Utara Jawa terutama Pekalongan memang dipengaruhi oleh masuknya budaya asing ke Pekalongan. Salah satunya peranakan Tionghoha yang memang awalnya menggunakan berapa teknik-teknik (motif batik) mitologi.

"Batik (kain) yang awalnya dibuat untuk menutup altar meja sembahyang, itu namanya tokwi. Itu dibatik motifnya ada hewan naga, dewa. Namun perkembangan waktu, untuk dikenakan busana mereka lebih cenderung menyebut istilahnya batik encim," jelas Akhmad Asror.

Batik Encim di masa lalu hanya dikenakan wanita-wanita Tionghoha yang sudah mapan atau dewasa. Namun bicara soal motifnya sendiri, jelas Akhmad Asror, lebih banyak dipengaruhi Indo-Erop.

"Tapi ada bedanya walaupun terpengaruh motif dari Indo-Eropa. Kalau batik peranakan Tionghoha itu warnanya lebih ngejreng kalau peranakan Indo-Eropa warnanya lebih soft," jelasnya.

Pelabuhan Pekalongan

Diwawancara terpisah, pemerhati sejarah di Kota Pekalongan, Muhammad Dirkham, menjelaskan akulturasi budaya di Pesisir Utara terutama Pekalongan terjadi karena Pelabuhan Pekalongan pada waktu lampau merupakan pelabuhan eksport-import. Sehingga pedagang dari sejumlah negara berkumpul di pelabuhan Pekalongan bahkan ada yang memilih menetap di Pekalongan.

Karena itulah motif batik di Pesisir Utara khususnya di Pekalongan, berwarna-warni karena terpengaruh kedatangan budaya asing, dengan tidak meninggalkan budaya asli yakni Jawa.

"Pelabuhan di Pekalongan zaman dulu berstatus sebagai pelabuhan ekspor-impor tahun 1882. Selain itu kedatangan bangsa asing yang lama di Pekalongan juga ikut berpengaruh," kata Dirkham.



Simak Video "Penampakan Air Sumur Warga Pekalongan yang Berubah Jadi Hitam"
[Gambas:Video 20detik]
(sip/aku)