Keraton Surakarta Berdiri, Era Baru Kepujanggaan Sastra Jawa Dimulai

Bayu Ardi Isnanto - detikJateng
Rabu, 19 Jan 2022 21:42 WIB
Peresmian patung Ronggowarsito di Museum Radya pustaka oleh Presiden Sukarno.
Presiden Sukarno meresmikan patung Ronggowarsito di Museum Radya Pustaka. (Foto: Arsip Museum Radya Pustaka)
Solo -

Perpindahan Keraton Kartasura ke Desa Sala tak hanya menjadi sejarah berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta. Masa awal Keraton Kasunanan Surakarta itu sekaligus menjadi era baru kapujanggan atau kesusastraan Jawa.

Nama Yosodipuro I, Yosodipuro II, Ronggowarsito, dan Ki Padmosusastro seperti tak lekang oleh zaman. Karya mereka masih menjadi rujukan hingga kini.

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo mengatakan pujangga tak sekadar menulis atau membuat karya sastra. Pujangga sudah menjadi kebutuhan penguasa.

"Setiap raja diharapkan mempunyai pujangga, karena itu sudah menjadi kebutuhan raja. Keraton ini kan menjadi sumber kebudayaan Jawa," kata Dipokusumo kepada detikcom, Jumat (24/12/2021).

Pujangga juga memiliki kemampuan membuat prediksi masa depan yang disebut jangka. Itulah yang membuat keberadaan pujangga penting di lingkungan istana.

"Karena ada fungsi kedudukan dan peran raja di situ. Kebetulan para pujangga itu usianya panjang, jadi seorang pujangga bisa hidup pada beberapa masa. Seperti Yosodipuro I itu hidup pada masa PB II, PB III dan PB IV," katanya.

Yosodipuro hingga Padmosusastro

Yosodipuro I lahir dengan nama Bagus Banjar pada 1729. Semasa kecil dia belajar ilmu agama, sastra Jawa dan Arab, dan ilmu kebatinan di pesantren daerah Kedu.

Bagus Banjar menyelesaikan pendidikannya pada usia 14 tahun karena dinilai telah menguasai ilmu secara lahir dan batin. Dia kemudian mengabdi sebagai abdi dalem di Keraton Kartasura era Pakubuwono II.

Bagus Banjar mengalami beberapa masa pergolakan politik, dari Geger Pecinan, perpindahan Kartasura ke Desa Sala, hingga pecahnya Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta karena Perjanjian Giyanti. Sampai suatu saat dia diangkat sebagai pujangga taruna atau pujangga muda dengan gelar Yosodipuro.

Mengutip karya Hamid Nasuhi (2006) berjudul "Yasadipura I (1729-1803): Biografi dan Karya-karyanya" dalam jurnal Al-Turas, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Yosodipuro menuliskan sejarah Surakarta dalam Babad Giyanti.

Selain mencatat sejarah, Yosodipuro juga bertugas merestorasi keilmuan dan kesusastraan Jawa setelah hancurnya Keraton Kartasura, termasuk kitab-kitab yang tersimpan di dalamnya. Dari situlah Yosodipuro mulai menuliskan kitab kuno menggunakan bahasa yang lebih modern.

Yosodipuro kemudian memiliki putra yang kelak menyandang gelar Yosodipuro II. Di masa mudanya, Yosodipuro II sudah banyak membantu ayahnya membuat karya sastra.

Yosodipuro dikenal dengan sejumlah karyanya, antara lain Serat Rama yang merupakan gubahan dari Ramayana Kakawin (898-910), Serat Bharatayuda gubahan dari Bharatayuddha Kakawin karya Empu Sedah (1157), dan Serat Arjuna Wiwaha gubahan dari Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa yang hidup pada era Raja Airlangga (1019-1042).

Setelah Yosodipuro II wafat, cucunya yang bernama Bagus Burhan (lahir pada 1802) melanjutkan tugas sang kakek sebagai pujangga dengan sebutan Ronggowarsito. Dia mengabdi pada masa Pakubuwono VII sampai Pakubuwono IX.

Ronggowarsito menjadi sosok fenomenal karena karya sastranya. Dia pun dianggap sebagai filsuf Jawa yang mampu melihat masa depan.

Karya Ronggowarsito antara lain Serat Jaka Lodhang yang populer karena meramal kemerdekaan Indonesia. Dia menuliskan sengkalan Wiku Sapta Ngesthi Janma yang berarti tahun 1877 Saka, bertepatan dengan 1945 Masehi.

Ada juga Serat Kalatida yang menggambarkan zaman edan. Di dalam syairnya tertulis pesan yang populer hingga kini, yaitu begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling lan waspada (bagaimanapun beruntungnya orang yang lupa, masih beruntung orang yang sadar dan waspada).

Selain itu, Ronggowarsito juga menulis Serat Sabda Jati yang diyakini sebagai ramalan tentang kematiannya sendiri. Dia menulis dirinya akan meninggal delapan hari lagi. Ternyata benar, delapan hari kemudian dia meninggal secara misterius.

Banyak karya Ronggowarsito yang masih tersimpan di Museum Radya Pustaka. Sosoknya pun menjadi simbol museum tertua yang berada di Jalan Slamet Riyadi, Solo itu. Patung Ronggowarsito di depan museum itu diresmikan oleh Presiden Sukarno.

"Ronggowarsito menjadi pujangga terakhir. Setelah Ronggowarsito tidak ada yang levelnya mencapai pujangga, walaupun tugas-tugas menulis itu masih ada penerusnya sampai sekarang," kata KGPH Dipokusumo.

Sepeninggal Ronggowarsito, salah satu muridnya yang bernama Ki Padmosusastro meneruskan peran gurunya dalam membuat karya sastra. Padmosusastro tak menyebut dirinya sebagai pujangga, tapi tiyang mardika ingkang marsudi kasusastran jawi (orang merdeka yang mengembangkan sastra jawa).

Meski mengabdi di Keraton Kasunanan Surakarta, Padmosusastro juga memiliki percetakan sendiri dan membuat koran Djawi Kandha. Pada era inilah sastra Jawa semakin maju dengan gaya penulisan yang lebih bebas.

Perkembangan Sastra Jawa

Sebelum era Keraton Kasunanan Surakarta, sebenarnya ada banyak pujangga hebat dengan mahakaryanya. Namun pada era Surakarta, karya para pujangga itu jadi lebih membumi dan menginspirasi lahirnya karya sastra baru.

Pakar Sastra Daerah Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sahid Teguh Widodo, mengatakan sastra kuno dulu berpusat di Jawa Timur. Saat itu pujangga disebut resi atau empu.

"Setelah berbagai pergolakan politik, Surakarta berhasil menjadi pusat kesusastraan Jawa yang hingga kini masih menjadi sumber. Yogyakarta pun tidak memiliki pujangga sekelas Ronggowarsito," kata Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UNS itu.

Menurut Sahid, tidak ada lagi pujangga setelah Ronggowarsito. Sebab, syarat menjadi pujangga itu banyak. "Setidaknya ada 21 (syarat). Seperti awicarita, kawi kawindra, mandraguna, dan lain-lain. Pujangga harus bisa menerjemahkan bahasa illahiah, memiliki kepandaian lahir dan batin," ujarnya.

Sahid menambahkan, sastra kemudian berkembang pesat pada era Padmosusastro. Saat itu, bermunculan banyak sastrawan dengan gaya penulisan gancaran atau prosa.

"Era Padmosusastro bisa dikatakan sebagai tonggak kebangkitan sastra Jawa era itu. Jika sebelumnya sastra banyak dibuat dengan gaya puitis, kemudian berubah menjadi prosa," kata Sahid.

Pada masa itu juga muncul karya sastra yang mengadopsi kisah-kisah modern dari Eropa dan Asia. Tapi karya-karya itu banyak yang anonim.

"Menyusul Ki Padmosusastro, muncul Sindhupranata, Sastrakusuma, Tandhanegara, hingga Balai Pustaka. Baru kemudian era kemerdekaan hingga sekarang," katanya.

Pada 1926, berdiri sekolah multikultural Algemeene Middelbare School (AMS) di Solo. Pendirian AMS meneruskan sejarah Panjang kepujanggaan di Solo. Dari AMS, lahirlah para pemuda yang menjadi sastrawan ternama, seperti Tjan Tjoe Siem, Armijn Pane, dan Amir Hamzah.

Ada pula Poerbatjaraka, pakar sastra Jawa kuno dari Solo, cikal bakal Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dari kampus itu lahirlah WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, Arswendo Atmowiloto. Jangan lupa, Wiji Thukul hingga Sosiawan Leak juga dari Solo.

(dil/mbr)