Mengenal Mahakarya Keris Brojoguno, Dipercaya Mampu Menembus Pelat Baja

Bayu Ardi Isnanto - detikJateng
Rabu, 19 Jan 2022 15:24 WIB
Keris Brajaguna koleksi warga Solo, Sugiyatno Ronggojati.
Keris Brajaguna koleksi warga Solo, Sugiyatno Ronggojati. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikjateng
Solo -

Keris sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa sejak ratusan tahun yang lalu. Bagi masyarakat Jawa, keris bukan hanya senjata. Mereka menggunakannya sebagai ageman untuk menunjukkan kelas sosial hingga barang pusaka untuk sipat kandel.

Berbagai mahakarya telah dihasilkan oleh empu-empu ternama, salah satunya keris karya empu ternama Keraton Surakarta, Empu Brojoguno. Keris ini dibuat dengan bentuk dan bahan khusus yang menjadikan karya itu menjadi senjata yang sangat kuat dan tajam.

Kekuatan Keris Brojoguno membuat senjata tersebut diyakini mampu menembus perisai baja. Hal itu yang menjadikan Keris Brojoguno disebut-sebut sebagai karya yang dirancang untuk berperang.

Dosen jurusan Keris dan Senjata Tradisional Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Basuki Teguh Yuwono, menjelaskan bahwa Keris Brojoguno merupakan keris yang dibuat oleh Empu Brojoguno. salah satu empu di era Keraton Surakarta.

"Awalnya di era Kartasura, Pakubuwono (PB) I mendatangkan Empu Brojokaryo dari Madura. Dari Brojokaryo, dilanjutkan Brojoguno I di era PB II saat peralihan Kartasura ke Surakarta. Kemudian berlanjut Brojoguno II, III dan seterusnya. Bahkan sampai PB X masih ada penerusnya," kata Basuki kepada detikcom, Selasa (21/12/21).

Empu Brojoguno ini melahirkan konsep keris yang menjadi acuan untuk tangguh PB Surakarta. Keris tersebut banyak dibuat dengan dhapur leres (tanpa lekukan) dan terkesan lebih besar dan gagah.

"Brajaguna melahirkan prototipe keris tangguh Surakarta yang dikenal dengan konsep nggodhong pohung atau seperti daun singkong, mengacu konsep agraris," ujar dia.

Menurutnya, keris terus berkembang dari era Brojoguno I hingga III. Di masa Brojoguno I, keris buatannya masih agak kaku, dengan kualitas pamor agak kusam.

Kemudian, di masa Brojoguno II, keris terlihat lebih indah namun masih mengedepankan pola garap. Sedangkan Brojoguno III sudah mampu menciptakan keris dengan proporsi garapan dan pamor yang indah.

"Di masa PB IV ada tiga Brojoguno yang hidup bersamaan. Saat itulah masa kejayaan Brojoguno hingga menghasilkan berbagai varian. Di era ini juga lahir dhapur parungsari yang mengiringi perjalanan PB IV ke Madura, lahir juga tombak berkualitas tinggi. Era ini juga mulai ditemukan keris luk buatan Brojoguno, walaupun agak sulit ditemukan sekarang," katanya.

Mitos Brojoguno

Terkait mitos Keris Brojoguno untuk perang, Basuki mengaku belum menemukan literatur yang terpercaya. Sebab di era PB IV, keris dinilai sudah tidak pas jika difungsikan untuk peperangan.

"Mitos itu masih hipotesis, karena di era PB IV sudah lebih difungsikan sebagai simbol keagungan raja. Kalau di era Brojokaryo memang untuk melahirkan senjata yang bisa mencongkel pintu gerbang. Produknya tidak hanya keris, tapi juga tombak," katanya.

Keris Brajaguna koleksi warga Solo, Sugiyatno Ronggojati.Keris Brajaguna koleksi warga Solo, Sugiyatno Ronggojati. F(oto: Bayu Ardi Isnanto/detikJateng)

Sementara itu, pakar keris asal Solo, Adi Sulistyono, meyakini bahwa Keris Brojoguno tidak dipakai sebagai senjata. Menurutnya, keris sejak lama dibuat sebagai simbol ketuhanan, yakni sebagai doa kepada Tuhan.

"Mungkin saja kemampuannya bisa menembus baja, tapi fungsinya bukan untuk itu, karena memang sebetulnya keris dibuat bukan untuk senjata. Dibuat runcing ke satu titik itu sebagai simbol ketuhanan. Di tiap bagiannya ini memiliki filosofi dan doa," kata Adi.

Menjadi fenomena

Adi menjelaskan bahwa Keris Brojoguno tersebut adalah keris fenomenal karena bentuknya yang tak biasa. Salah satu yang khas adalah bilahnya didominasi oleh ada-ada.

"Ada-ada lebih mendominasi pada bilah. Jadi kalau dilihat dari samping, ketebalan ada-ada sampai ke atas penurunannya secara kasatmata tidak terlihat, padahal itu semakin tipis, jadi terlihat seperti linggis," ujar dia.

Menurutnya, kebanyakan Keris Brojoguno memiliki dhapur leres. Ada beberapa yang memiliki lekukan, namun masih berciri khas Brojoguno.

"Yang dhapur leres nggak pakai tungkakan, gandhik lugas, pada ganja bawah ada pamor sumber berupa bulatan-bulatan. Kemudian di ujung besi ada tanda silang atau plus. Kalau yang berlekuk ada yang luk sembilan, itu pakai tungkakan, tapi gandhik tetap lugas," pungkasnya.

(ahr/mbr)