Makin Pedas! Harga Cabai di Pasar Boyolali Tembus Rp 80 Ribu/Kg

Makin Pedas! Harga Cabai di Pasar Boyolali Tembus Rp 80 Ribu/Kg

Jarmaji - detikJateng
Jumat, 09 Okt 2026 13:54 WIB
Suasana pedagang bahan pokok di Pasar Sunggingan, Boyolali, Jumat (9/10/2026).
Suasana pedagang bahan pokok di Pasar Sunggingan, Boyolali, Jumat (9/10/2026). Foto: Jarmaji/detikJateng
Boyolali -

Harga cabai di pasar tradisional Boyolali makin pedas. Kini di angka Rp 80 ribu per kilogram, di mana sejumlah komoditas pokok lainnya seperti beras juga naik hingga Rp 17 ribu per kg.

"Harga cabai naik. Cabai teropong merah sekarang Rp 80 ribu/kg, sebelumnya sekitar Rp 40 ribu/kg. Cabai keriting juga naik dari Rp 50 ribu menjadi Rp 80 ribu/kg," kata pedagang di Pasar Sunggingan Boyolali, Rokayah, kepada awak media, Jumat (9/10/2026).

Kenaikan harga, kata dia, berlangsung secara bertahap sejak sekitar satu bulan terakhir. Keterbatasan pasokan dan meningkatnya permintaan diduga menjadi penyebab kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kemungkinan (penyebab tingginya harga) ini karena enggak banyaknya barang. Barangnya terbatas, terus peminatnya banyak, jadi harganya naik," jelas Rokayah.

ADVERTISEMENT

Rokayah melanjutkan, harga bawang, baik merah maupun putin, juga mengalami kenaikan.

"Harga bawang merah dan bawang putih juga naik, dari semula Rp 36 ribu/kg, menjadi Rp 40 ribu/kg," jelasnya.

Tak hanya di komoditas sayuran, harga beras juga mengalami kenaikan. Salah seorang pedagang beras, Sutiyem, mengemukakan kenaikan harga terjadi secara bertahap, sekitar 4 pekan terakhir. Kenaikan harga terjadi untuk semua jenis kualitas beras.

Dia menyampaikan, beberapa jenis beras yang sebelumnya dijual Rp 13 ribu/kg, saat ini telah mencapai Rp 14 ribu/kg. Kemudian yang semula Rp 14 ribu/kg, sudah menjadi Rp 15 ribu/kg. Beras Rp 14 ribu/kg tersebut untuk yang kualitas paling rendah.

Sedangkan beras medium, berkisar antara Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu/kg. Sementara beras kualias premium mencapai Rp 19 ribu/kg.

Menurut dia, kenaikan harga beras ini berkaitan dengan kondisi pertanian saat ini yang terdampak kekeringan di musim kemarau. Selain itu juga terjadinya serangan hama, serta petani yang kemudian memilih tanam jagung.

Saat ini, lanjut dia, pasokan beras ke pedagang juga berkurang. Jika sebelumnya mereka bisa menerima pasokan hingga tiga kuintal beras dalam sepekan, belakangan jumlahnya tidak lebih dari satu kuintal.

Kenaikan harga kebutuhan pokok ini pun dikeluhkan sejumlah ibu rumah tangga. Siti, salah seorang warga, mengatakan masyarakat tidak memiliki banyak pilihan, karena beras merupakan kebutuhan pokok. Sehingga, warga pun tetap harus membeli meski harganya mahal. Namun biasanya volume pembelian yang dikurangi.

"Maunya murah, tapi saat ini semuanya mahal. Ya harus tetap membeli karena bantuan sembako juga tidak dapat. Harapannya harganya turun, murah," ucapnya.

Warga lainnya, Murti, berharap harga-harga kebutuhan pokok stabil. Apalagi, kondisi perekonomian yang saat ini dirasakan cukup berat

"Penginnya ya stabil. Dengan pendapatan kita yang belum naik juga, harganya ya distabilkan," harapnya.

Mereka pun harus berhemat, agar uang belanja cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

"Ya gimana lagi, kebutuhan pokok mau enggak mau ya harus dibeli," imbuhnya.



(apu/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads