PLTP Gunung Ungaran Dibangun 2 Km dari Candi Gedong Songo

PLTP Gunung Ungaran Dibangun 2 Km dari Candi Gedong Songo

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Kamis, 17 Sep 2026 19:21 WIB
Dialog soal panas bumi Gunung Ungaran di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Kamis (17/9/2026).
Dialog soal panas bumi Gunung Ungaran di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Kamis (17/9/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Semarang -

Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran masih terus digodok. PT PLN mengungkapkan rencananya lokasi PLTP tersebut akan berada di jarak dua kilometer dari Candi Gedong Songo.

"Jauh (dari Candi Gedong Songo), tadi kalau bahasa tadi sekitar dua kilo dari perimeternya itu, dua kilometer itu," kata Executive Vice President Management Geothermal PT PLN, John Yudi Steve Rembet, usai acara dialog soal panas bumi Gunung Ungaran di Universitas Diponegoro Semarang, Kamis (17/9/2026).

John menyebut ada kemungkinan jarak PLTP masih bisa bergeser lebih jauh. Dia pun memastikan wisata Gedong Songo tidak akan terganggu dengan adanya proyek ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi bisa lebih jauh lagi ketika, itu kan perimeternya ya, jadi bisa tidak persis di dua kilometer itu. (Wisata candi) Masih (bisa operasional), kami berusaha menghindari itu," ujar John.

ADVERTISEMENT

John membeberkan pihaknya telah memiliki rencana titik proyeksi untuk pengeboran panas bumi untuk PLTP. Namun, ia tak memerincinya karena tak ingat.

"Masih proyeksi kalau desa-desanya kemarin sudah kita sampaikan ke pemda tapi titik persis titik koordinatnya ini masih dalam studi. Makanya kami juga meminta bantuan Undip untuk ikut membantu merumuskan itu. Waduh nanti coba, saya lupa juga (lokasinya)," ucap John.

Lebih lanjut, Direktur Panas Bumi Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Priatin Hadi Wijaya menambahkan satu megawatt listrik yang dihasilkan dari panas bumi memerlukan maksimal 0,9 hektare lahan. Oleh karena itu untuk menghasilkan daya 55 megawatt sesuai target awal, PLTP Gunung Ungaran memerlukan lahan maksimal 50 hektare.

"Yang dipakai sebetulnya antara 0,5 sampai 0,9 hektare per megawatt, sehingga perkiraan kami sekitar 40 sampai 50 hektare saja," ucap Hadi.

Hadi juga menerangkan alasan wilayah kerja panas (WKP) PLTP Gunung Ungaran memerlukan lahan seluas 29.800 hektare. Menurut dia, hal ini dibutuhkan untuk mencari potensi panas bumi di wilayah itu.

"Jadi kenapa (WKP) harus luas? Karena itu perlu menentukan di mana potensi panas bumi terkandung di dalamnya," ungkap Hadi.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) izin panas bumi kepada PT PLN (Persero) untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran.

Hal ini diungkapkan Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi dalam acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta, Rabu (19/8).

"Kami berterima kasih kepada Bapak Menteri karena telah merilis penerbitan SK untuk Izin Panas Bumi yang nanti akan diberikan untuk wilayah kerja panas bumi Gunung Ungaran, nanti akan diberikan kepada PLN, dan wilayah kerja panas bumi Telaga Ranu diberikan kepada PT Telaga Ranu Geothermal," ujar Eniya dikutip dari detikNews.

Lebih lanjut, Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan (Kabid EBT) Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono mengungkap operasional PLTP tersebut direncanakan akan dimulai pada 2031.

"Kalau melihat timeline-nya, kalau lancar baru bisa beroperasi COD, comersial of date, itu di tahun 2031," kata Dwi kepada awak media di Kantor Gubernur Jateng, Rabu (26/8).

Dwi juga menyebut PLTP Gunung Ungaran akan memiliki daya hingga 55 megawatt. Daya sebesar itu akan mengaliri listrik di pulau Jawa hingga Bali. Dwi membeberkan wilayah kerja panas bumi (WKP) di Gunung Ungaran mencapai 29.800 hektare yang terbagi di dua kabupaten.

"Sesuai dengan yang ada di dalam SK itu 29.800 hektare. Ada di dua kabupaten yaitu Semarang dan Kendal. Tetapi tadi saya sampaikan, tidak serta semuanya 29.800 hektare itu akan digunakan semuanya," ujar Dwi.

"Karena akan dipilah lagi lokasi-lokasi mana yang potensial terkait dengan keberadaan titik sumurnya dan infrastruktur pendukungnya," tambahnya.

Dwi menyampaikan nilai investasi dalam proyek ini juga mencapai angka yang fantastis yakni ratusan juta dolar AS.

"Nilai investasinya kurang lebih di angka 300 juta US Dolar ya. Kalau dikonversi ke rupiah, anggap saja sekitar berapa sekarang ya? 16 atau 17 ribu ya. Nah, tinggal dikalikan aja itu," ungkap Dwi.



(ams/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads