Tumpukan kulit durian biasanya berakhir menjadi sampah. Dibiarkan membusuk, dibuang ke sungai, atau berserakan di pinggir jalan. Namun, pemandangan itu perlahan berubah di Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Banyumas.
Di desa yang dikenal sebagai salah satu sentra durian itu, kulit buah berduri tersebut justru dikumpulkan dan diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Mulai dari gantungan kunci, isian bantal dan boneka, lap penyerap minyak atau oil absorbent, hingga keripik.
Ide tersebut bermula dari kegelisahan Roniyah, Ketua Pokdarwis Berkah Durian, Desa Alasmalang, yang melihat banyaknya limbah durian. Terlebih saat musim durian tiba, jumlah kulit yang dihasilkan bisa mencapai berton-ton.
"Limbah kami yang kulit durian itu banyak banget. Karena kulit berduri kalau diinjak itu bahaya, pegalnya awet," kata Roniyah kepada detikJateng saat ditemui, Rabu (26/8/2026).
Saat musim durian, penjual dadakan bermunculan di sepanjang jalan. Tumpukan kulit durian pun mudah ditemui.
"Setiap penjual durian, apalagi kalau lagi musim, banyak penjual dadakan di sepanjang jalan. Itu di setiap tumpukan-tumpukan di sepanjang jalan kami sampai ton-tonan. Belum yang rumahan, karena di Alasmalang hampir setiap rumah punya pohon durian," ujarnya.
Kondisi tersebut kemudian mendorong kelompok masyarakat mengajukan program pengelolaan limbah kepada Pertamina. Asesmen awal dilakukan pada akhir 2024, sebelum program mulai berjalan pada awal 2025.
Kulit Durian Jadi Keripik
Salah satu produk yang cukup unik adalah keripik kulit durian. Bahan bakunya bukan kulit durian dari buah yang sudah matang, melainkan durian kecil yang jatuh sebelum berkembang sempurna.
Durian muda tersebut kemudian diolah. Bagian durinya dibuang, kemudian direbus, dan dicampur dengan tepung serta bumbu.
"Kalau keripik kulit durian itu durian yang kecil-kecil yang jatuh sebelum dia menjadi besar. Dibuang durinya, lalu direbus. Setelah itu dicampur sama tepung, dikasih bumbu," jelas Roniyah.
Karena masih muda, bagian kulit dan daging buahnya masih menyatu. Setelah melalui proses pengolahan, bahan tersebut berubah menjadi camilan renyah.
detikJateng berkesempatan menyicip keripik kulit dan basreng durian produksi setempat. Rasanya asin gurih hampir menyerupai kerupuk rambak. Hanya saja teksturnya lebih tebal. Tidak ada aroma durian tercium sama sekali.
Keripik kulit durian itu dikemas dan dijual dengan harga Rp 15 ribu per toples berisi 250 gram. Tak hanya kulit, biji durian pun tak luput dari pengolahan. Di bawah pengelolaan Kelompok Wanita Tani (KWT), biji durian diolah menjadi basreng.
"Jadi durian itu kalau di kami ada grade A, grade B, grade C. Grade C yang hanya beraroma itu kami buat menjadi dodol durian," ujarnya.
Basreng biji durian dijual sekitar Rp 20 ribu. Sementara dodol durian dipasarkan dengan harga sekitar Rp 85 ribu per kilogram.
Dengan berbagai inovasi tersebut, mereka berupaya mengubah anggapan durian hanya menghasilkan buah yang bisa dimakan. Bagian yang selama ini dianggap sampah pun ternyata dapat memiliki nilai ekonomi.
Pengolahan limbah durian di Alasmalang tidak berhenti pada produk makanan. Kulit durian berukuran besar juga diolah menjadi serat yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan isian bantal dan boneka.
Ada pula produk oil absorbent atau bahan penyerap minyak. Produk tersebut dibuat dari serat kulit durian yang memiliki kemampuan menyerap cairan.
"Yang ini oil absorbent untuk lap minyak. Dari kulit durian, yang serat-serat ini. Jadi lebih meresap," kata Roniyah.
(afn/ams)