Makan di Warteg Semarang Makin Mahal Imbas Kenaikan Harga Bahan Pokok

Makan di Warteg Semarang Makin Mahal Imbas Kenaikan Harga Bahan Pokok

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Rabu, 03 Jun 2026 15:25 WIB
Suasana Warteg yang mengalami kenaikan harga, di Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Rabu (3/6/2026).
Suasana Warteg yang mengalami kenaikan harga, di Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Rabu (3/6/2026). (Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng)
Semarang -

Kenaikan harga sejumlah bahan pokok mulai berdampak pada warung tegal (warteg). Beberapa warteg di Kota Semarang memilih menaikkan harga demi terus bertahan.

Pemilik Warteg Arman di Semarang, Fifah (23) mengatakan, harga sejumlah bahan makanan seperti ayam dan ikan naik dalam sepekan terakhir. Kenaikan itu membuat biaya belanja harian ikut membengkak.

"Semisal sayur, ikan-ikan, semuanya pada naik. Yang tadinya satu kilogram Rp 30 ribu jadi Rp 35 ribu," kata Fifah di Warteg Arman, Kecamatan Semarang Selatan, Rabu (3/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, kenaikan harga bahan baku membuat harga lauk di warteg juga harus disesuaikan. Salah satunya lauk ikan yang sebelumnya dijual Rp 5 ribu kini menjadi Rp 8 ribu per porsi.

Harga menu makanan pun ikut berubah. Nasi rames dengan lauk ikan yang sebelumnya dijual Rp 13 ribu kini menjadi Rp 16 ribu per porsi.

ADVERTISEMENT

Fifah mengaku tak punya banyak pilihan selain menaikkan harga jual mengikuti harga pasar. Namun, kenaikan itu diakui berdampak pada jumlah pelanggan yang datang.

Ia juga melihat kenaikan ini membuat sejumlah pembeli memilih untuk berganti lauk. Pembeli yang sebelumnya memilih lauk ayam kini beralih ke lauk yang lebih murah.

Keluhan serupa disampaikan pemilik warteg lainnya, Siti (40). Menurutnya, kenaikan tidak hanya terjadi pada bahan makanan, tetapi juga kebutuhan lainnya seperti kertas pembungkus nasi dan plastik.

"Kertas nasi naik, plastik juga naik semua, terus gara-gara MBG, dan orang-orang kantoran kan juga pada efisiensi, jadi porsinya dikurangi sekarang," kata Siti.

Meski demikian, ia mengaku hanya berani menaikkan harga sekitar Rp 1.000 per porsi di 'Warteg Dewi' agar pelanggan tidak kabur.

"Paling naik Rp 1.000. Nasi rames yang dulu Rp 4 ribu sekarang Rp 5 ribu. Kalau lauknya paling Rp 7 ribu, ayam Rp 8 ribu," ujarnya.

Siti mengatakan, pelanggan sebenarnya memahami kondisi tersebut. Namun sebagian tetap mempertanyakan kenaikan harga yang terjadi di warungnya.

"Paling tanya, biasanya Rp 12 ribu kok naik. Ya saya jelaskan karena semuanya naik," tuturnya.

Menurut Siti, keuntungan usaha warteg saat ini semakin tipis karena biaya belanja harian terus meningkat. Jika sebelumnya membawa uang Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu sudah cukup untuk belanja, kini Rp 500 ribu pun sering kali masih kurang.

"Sekarang bawa Rp 500 ribu dapatnya sedikit, masih kurang, ayam semua naik. Belanja sekarang mahal semua, gara-gara MBG," keluhnya.

Meski menghadapi berbagai kenaikan biaya, ia pun berharap pelanggan tetap bertahan di tengah kondisi harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik.

"Pusing banget, nggak ada pemasukan, nombok (rugi) malah iya. Sirahe ngelu 'kepala pusing'," lanjut Siti.

Sementara itu, salah seorang pembeli di warteg, Wahyu (27), mengaku mulai mengganti pilihan lauk. Jika sebelumnya ia kerap memilih ayam, kini ia lebih sering memilih telur karena harganya lebih terjangkau.

"Biasanya ayam, sekarang jadi telur, karena mahal sekarang harganya," katanya.

Wahyu menyebut kenaikan harga bahan pokok mulai terasa signifikan setelah Idul Adha. Menurutnya, harga telur menjadi salah satu komoditas yang paling terasa kenaikannya.

"Setelah Lebaran kemarin itu naik banget. Telur aja sekarang sudah naik banget," ucapnya.

Pembeli lainnya, Nizar (29) mengatakan, dirinya juga merasakan ada kenaikan harga di warteg. Ia menyebut terdapat kenaikan harga Rp seribu sehingga ia memilih lauk jeroan.

"Tadi habis beli terus dikasih tahu menu makan rames harga nasi ati Rp 12 ribu kata pedagang itu naik seribu karena bahan pokok naik," ucapnya.

Menurutnya, hal itu membuatnya lebih memilih untuk memasak. Terlebih, dia bisa lebih hemat jika memasak untuk satu keluarganya.

"Setelah tahu ini aku lebih pilih masak aja, kalau untuk masak sedikit mungkin lebih murah beli. Tapi aku masak bertiga jadi lebih murah dan emang lebih suka masak," ucapnya.

"Tadi karena jam kerjanya padat jadi cari makan di warteg, eh ternyata harganya juga naik," lanjutnya.




(aku/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads