Coffee shop atau kedai kopi mulai menjamur di Kota Solo. Wali Kota Solo, Respati Ardi menyebut kedai-kedai kopi itu bisa menyumbang pendapatan daerah hingga Rp 20 miliar per tahun.
"Kami langsung cek, itu ada 174 coffee shop baru. Kami hitung, kira-kira rata-rata pendapatan kota dari coffee shop baru saja, proyeksinya sekitar Rp 20 miliar dalam 1 tahun," kata Respati dalam podcast Gendurasa detikJateng, Senin (25/5/2026).
Respati mengatakan, proyeksi pendapatan kota Rp 20 miliar per tahun itu baru dari sektor usaha kedai kopi kekinian, belum ditambah dari usaha kuliner lainnya seperti warung sate buntel Pak Manto, warung gudeg, dan lain-lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Respati, pajak restoran dan hotel inilah yang menjadi tulang punggung APBD Solo untuk membiayai pelayanan publik.
"Jangan salah, anggaran kesehatan kita itu Rp 500 miliar, anggaran pendidikan juga Rp 500 milar. Kalau bukan dari pajak (restoran dan hotel), dari mana lagi? Ini uang masyarakat yang kembali ke masyarakat," ujar dia.
Di sisi lain, Respati mengatakan, menjamurnya ratusan coffee shop baru di Kota Solo juga mencatatkan nilai transaksi yang cukup besar.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) di awal tahun, nilai transaksi digital menggunakan QRIS di Kota Solo menyentuh angka Rp 1 triliun hanya dalam waktu satu bulan.
"Perputaran QRIS di Januari 2026 di awal tahun jumlah transaksinya adalah 1 triliun dari QRIS. Berarti dia kan berarti transaksi kecil Rp 1 triliun berarti kan perputarannya luar biasa," ucapnya.
"Cuci uang apa? Saya kemarin ketemu teman-teman pengusaha, mereka bilang, 'Mas, kalau cuci uang numpake Lamborghini Mas, ini numpake NMax.' Kalau cuci uang itu indikatornya warungnya sepi tapi kuat buka terus sampai 5 tahun. Lha kalau di Solo ini kan ramai semua, riil," imbuh Respati.
Menyikapi jalur city walk Slamet Riyadi yang sempat terkesan 'dikuasai' oleh pebisnis kopi, Respati memastikan bahwa fungsi utama kawasan tersebut harus tetap sebagai jalur pedestrian, mencontoh kiblat awalnya seperti Orchard Road di Singapura.
"Kami sepakat dengan semua pelaku usaha, ayo boleh berjualan sampai ke depan tapi hanya satu garis. Kedua, di jam-jam tertentu. Kita menghormati para pejalan kaki bahwa ini fasilitas publik," pungkas Respati.
