Jualan Hewan Kurban di Semarang Lesu, Pedagang: Baru Jual 50 Ekor Sapi

Jualan Hewan Kurban di Semarang Lesu, Pedagang: Baru Jual 50 Ekor Sapi

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Kamis, 21 Mei 2026 19:23 WIB
Peternakan sapi dan kambing di Jalan Pandansari, Kecamatan Gayamsari, dekat kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Kota Semarang, Kamis (21/5/2026).
Peternakan sapi dan kambing di Jalan Pandansari, Kecamatan Gayamsari, dekat kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Kota Semarang, Kamis (21/5/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Penjualan sapi dan kambing untuk kurban di Kota Semarang mulai mengalami peningkatan menjelang Idul Adha 2026. Namun, sejumlah pedagang mengaku kondisi pasar tahun ini lebih lesu dibanding tahun sebelumnya.

Pantauan detikJateng di sekitar Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) banyak lapak penjual kambing yang dibuka di pinggir jalan. Memasuki perkampungan di Jalan Pandansari, Kecamatan Gayamsari, belakang Pasar Johar, terdapat penjual sapi dan kambing yang buka hingga sore.

Tampak ada puluhan ekor sapi yang ditempatkan dalam tiga kandang di kawasan tersebut. Sapi-sapi itu juga berdampingan dengan puluhan kambing yang juga dijual dan ramai dicari untuk kurban.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pedagang sapi, Maskan (70), mengatakan pembeli mulai berdatangan sekitar sebulan terakhir. Namun, penjualan tahun ini dinilai belum seramai tahun lalu. Jelang Idul Adha seperti ini, biasanya dia sudah berhasil menjual 70 ekor sapi, namun saat ini sapi yang terjual baru 50 ekor.

"Sebulan yang lalu sudah pada beli, sudah pada tanya-tanya. Kalau yang terjual kira-kira 50 ekor. Tapi tahun ini agak lesu," kata Maskan saat ditemui di kandangnya, Kamis (21/5/2026).

ADVERTISEMENT

Maskan yang sudah 22 tahun menjalani usaha penggemukan sapi itu menyebut, harga sapi yang dijualnya bervariasi, mulai Rp 18-32 juta per ekor. Sapi yang paling banyak dicari pembeli berada di kisaran harga Rp 22-24 juta.

"Yang paling banyak dicari itu yang harga Rp 22-24 juta. Kalau beratnya 3-6 kuintal. Ini yang sudah terjual ya sampai sekarang kira-kira puluhan ekor," ujarnya.

"Kalau dibanding hari biasa kadang sehari kosong, kadang satu ekor, kadang dua ekor. Namanya juga jualan. Tapi dibanding tahun lalu ramai tahun kemarin. Ini agak lesu di tempat saya," ungkapnya.

Menurut Maskan, lesunya penjualan tak hanya dikarenakan ekonomi yang menurun, tapi juga dipengaruhi merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) yang masih menghantui peternak dan pedagang sapi.

"PMK itu ganas, menular. Sekali kena satu, bisa kena semua. Nggak bisa disembuhkan," katanya.

Maskan mengaku sempat menghadapi banyak sapi yang terkena PMK. Ia pun kini rutin memanggil dokter hewan untuk memantau kondisi ternaknya setiap hari.

"Saya ada dokter langganan, dokter tiap hari kontrol, inisiatif dari saya sendiri. Kalau perlu disuntik ya disuntik, dikasih vitamin. Harapannya ya segera ada obatnya untuk PMK," ujarnya.

Ia menyebut hingga kini belum ada pengawasan rutin dari dinas peternakan setempat. Karena itu, ia memilih menggunakan dokter hewan pribadi untuk memastikan ternaknya tetap sehat dan layak dijual.

"Kalau kena PMK nggak cuma rugi. Kalau mati 2-3 ekor, keuntungan hasil kerja sebulan ya habis," jelasnya.

Hal senada disampaikan pedagang kambing dan sapi lainnya, Ahmad Gumilar (28). Ia mengatakan, pembeli mulai ramai sejak sebulan terakhir, terutama pelanggan lama yang sudah memesan lebih awal.

"Sejak awal sebulan itu sudah banyak yang tanya. Customer lama biasanya beli stok awal karena harganya masih lebih murah," kata Gumilar.

"Terus kalau kambing itu saya ada 30-an, sudah pada terjual semua, tinggal tiga aja. Tapi nanti bisa tambah stok lagi," ungkapnya.

Sapinya itu dijual dengan harga Rp 18-45 juta, dengan bobot mulai 250-750 kilogram. Sedangkan kambingnya dijual dengan harga Rp 3-3,5 juta, dengan bobot sekitar 20-40 kilogram.

"Jenisnya ada sapi limosin, simental, jawa, pegon. Limosin dan simental itu banyak penggemarnya, dan sudah mahal bibitnya," ucapnya.

Menurut Gumilar, sapi dengan harga Rp 18 juta juga banyak diburu untuk latihan kurban kelompok-kelompok kecil ataupun anak-anak sekolah seperti TK dan playgroup.

Gumilar juga mengaku merasakan adanya penurunan penjualan karena kondisi ekonomi masyarakat yang tengah menurun. Terlebih, kata dia, sekarang sudah semakin banyak orang berjualan kambing.

"Kenaikan harga itu kalau hari raya ada mungkin Rp 2 jutaan naiknya. Dibanding hari biasa, sebulan paling terjual 2-3 ekor untuk orang hajat. Kalau Idul Adha bisa terjual 50-70 ekor," ungkapnya.

"Tapi ini pasar lesu, yang jualan itu sekarang semakin banyak. Tapi yang beli nggak ada. Ekonomi di Indonesia sekarang kan sedang tidak baik-baik saja, jadi pasarnya juga lesu. Orang yang mau berkurban juga semakin menurun," lanjutnya.

Gumilar mengaku sapinya juga ada yang sempat terdampak PMK. Meski demikian, ia memastikan seluruh ternak yang dijual dipantau dokter hewan dan diberikan garansi kesehatan hingga hari penyembelihan.

"Kita sistemnya garansi. Kalau ada sapi sakit atau kena PMK sebelum hari H, bisa tukar sapi atau uang kembali," jelasnya.




(afn/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads