Beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada kenaikan harga minyak goreng. Perannya sebagai salah satu kebutuhan pokok membuat kenaikan harga minyak goreng ini mulai membebani pengeluaran rumah tangga.
Lonjakan harga yang terjadi kali ini tentu bukan tanpa sebab, melainkan dipicu sejumlah faktor. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar bagi banyak orang terkait apa sebenarnya yang membuat harga minyak goreng makin mahal tiap bulannya.
Lantas, kenapa harga minyak goreng akhir-akhir ini semakin mahal? Berikut penyebab di balik kenaikannya yang perlu detikers ketahui.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab Harga Minyak Goreng Makin Mahal
Kenaikan harga minyak goreng yang drastis di berbagai daerah tidak terjadi tanpa sebab. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir detikFinance, harga minyak goreng mengalami peningkatan di minggu ketiga April 2026. Kenaikan harga ini terjadi di lebih dari separuh wilayah Indonesia, yakni sekitar 207 kabupaten/kota atau 57,50%.
Secara nasional, rata-rata harga minyak goreng ikut naik dari sekitar Rp 19.358 per liter menjadi Rp 19.592 per liter. Bahkan, di beberapa daerah tercatat menembus Rp 60.000 per liternya.
Salah satu penyebab utama kenaikan ini adalah melonjaknya harga plastik untuk kemasan. Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik ini terjadi karena pasokan biji plastik mengalami gangguan. Akibatnya, harga minyak goreng kemasan terkena dampaknya. Kondisi inilah yang membuat harga jual minyak goreng ikut terdorong naik.
"Nah, tadi kami sudah komunikasi dengan para produsen, yang pada prinsipnya stok barang ada, nggak ada masalah. Memang salah satu imbas kenaikan (minyak goreng) itu karena harga plastik," ujarnya pada Selasa (21/04/2026).
Tak hanya itu, dampak kenaikan harga plastik juga memicu perubahan pola konsumsi masyarakat. Berdasarkan keterangan Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, konsumen yang sebelumnya membeli minyak goreng curah mulai beralih ke produk kemasan seperti Minyakita.
"Ini memang kita tidak pungkiri karena terus terang dampak dari kenaikan harga plastik, ini minyak curah, jadi para konsumen minyak curah beralih kepada Minyakita. Karena kenaikan harga plastik, kemasan dan lain sebagainya, sehingga beralih ke Minyakita," tutur Ahmad Rizal pada Selasa (14/04/2026).
Lebih lanjut, berdasarkan laporan Parlementaria, lonjakan harga minyak goreng juga tidak lepas dari pengaruh kondisi global saat ini. Adanya konflik geopolitik yang terjadi turut mendorong kenaikan harga energi dan berbagai bahan kebutuhan pokok, termasuk minyak goreng.
Kenaikan harga minyak goreng ini disebabkan oleh harga bahan baku utama, yakni minyak sawit mentah (CPO) yang terus menguat di pasar internasional. Akibatnya, harga minyak goreng di dalam negeri ikut naik secara drastis.
Harga Minyak Goreng Terbaru
Berdasarkan situs Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag yang didasarkan dari indikator Harga Nasional Tertimbang (HNT) dari 514 kabupaten/kota dan bobot konsumi SBH 2022 BPS, harga minyak goreng secara nasional memang menunjukkan tren kenaikan di semua produk minyak goreng.
Mengacu pada harga minyak goreng terbaru per 24 April 2026, harga minyak goreng sawit kemasan premium saat ini tercatat berada di level Rp 21.889 per liter. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 2,92% dibandingkan harga bulan lalu (20/03/2026) yang masih berada di Rp 21.269 per liter.
Kemudian, untuk minyak goreng sawit curah, harga saat ini berada di angka Rp 19.542 per liter, dibandingkan bulan sebelumnya yang dibanderol Rp 18.913 per liter terjadi kenaikan sebesar 3,33%. Kenaikan ini membuat jenis minyak goreng ini menjadi yang paling tinggi kenaikannya.
Sementara itu, produk Minyakita saat ini dibanderol Rp 15.889 per liter dan naik tipis sebesar 0,08% dari harga sebulan lalu yang berada di angka Rp 15.877 per liter. Harga tersebut juga sudah melebih harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan, yakni Rp 15.700 per liter.
Itulah penjelasan terkait penyebab harga minyak goreng kian mahal. Semoga membantu detikers!
Artikel ini ditulis oleh Desi Rahmawati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
