Sejumlah proyek perbaikan jalan di Solo terancam terhambat. Penyebabnya, harga aspal hotmix melambung buntut kenaikan solar nonsubsidi.
Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Solo, Joko Supriyanto, mengungkapkan bahwa kenaikan harga aspal dipicu oleh naiknya harga bahan bakar pengolah di Asphalt Mixing Plant (AMP), yakni solar nonsubsidi. Kondisi ini membuat harga penawaran dari produsen naik signifikan hingga mencapai 30 persen.
"Ini kan harganya terdampak kenaikan solar industri, kan itu bahan... untuk mengolah aspal hotmix itu. Jadi harga dari AMP itu naiknya cukup signifikan, hampir 20-30 persen. Ini yang jadi kendala kami karena harga kontrak atau pagu awal masih menggunakan harga lama," ujar Joko saat dihubungi awak media, Kamis (23/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan adanya kenaikan tersebut, empat jalan yang akan diaspal diprediksi akan tertunda. Empat ruas jalan itu meliputi Koridor Yos Sudarso, Jalan Kolonel Sugiyono, Jalan dr. Cipto Mangunkusumo dan Jalan Ontorejo
"Iya, kemungkinan itu tertunda, tetap kita kan nggak mungkin kita lelang sekarang, nggak bakal mungkin pabrik aspalnya pakai harga lama," ucapnya.
Joko mengatakan nilai pengerjaan empat jalan tersebut berbeda-beda. Untuk Koridor Yos Sudarso nilai pengerjaan Rp 11 miliar, Jalan Kolonel Sugiyono sebesar Rp 4 miliar, Jalan dr. Cipto Mangunkusumo sebesar Rp 1,3 miliar dan Jalan Ontorejo sebesar Rp 900 juta.
"Ini sebenarnya sudah tahapan proses ini, kami sudah mau proses membuat permohonan lelang. Iya, baru menyesuaikan karena kan ada eskalasi harga atas keputusan pemerintah menaikkan harga itu, solar industri itu tadi karena kan AMP itu kan pakainya solar non-subsidi," ucapnya.
Untuk menyiasati hal tersebut, Pemkot Solo tengah melakukan koordinasi dengan Inspektorat guna mengubah Peraturan Wali Kota (Perwali) terkait Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP). Langkah ini diambil agar proses lelang tetap bisa berjalan sesuai dengan harga pasar saat ini.
Joko menegaskan pihaknya tidak akan menunggu hingga APBD Perubahan karena akan memakan waktu terlalu lama.
"Kalau nunggu APBD Perubahan ya cukup lama, nanti malah beberapa paket nggak bisa dilaksanakan. Kita kejar perubahan Perwali-nya dulu untuk menyesuaikan harga sekarang," terangnya.
Meski harga satuan naik, Joko memastikan pagu anggaran atau nilai total proyek tidak akan ditambah. Konsekuensinya, target volume atau panjang jalan yang akan diperbaiki terpaksa dikurangi.
"Umpamanya Jalan Kolonel Sugiyono pagunya Rp 4 miliar. Pagu tetap, tapi karena harga aspal naik, pasti target panjang penanganannya berkurang. Misal harusnya 100 meter, mungkin hanya jadi 90 meter," jelas Joko.
Sisa pengerjaan yang belum tertangani akibat pengurangan volume tersebut rencananya akan diusulkan kembali pada APBD Perubahan atau anggaran tahun 2027.
Terpisah, Wali Kota Solo, Respati Ardi mengakui sejumlah proyek pembangunan infrastruktur jalan di Kota Solo mengalami penyesuaian akibat lonjakan harga material, khususnya aspal. Meski ada penundaan teknis, memastikan seluruh pekerjaan fisik akan tetap diselesaikan pada tahun anggaran ini.
"Intinya kami skala prioritas. Ada penundaan tapi kami sesuaikan HPS-nya dengan harga sekarang. Agak tertunda tetapi tetap akan kita lakukan di tahun ini, karena kita yakin fiskal kita kuat," ujarnya.
Terkait titik lokasi yang terdampak, Respati menyebutkan bahwa fokus utama perbaikan tetap menyasar wilayah Solo Utara. Beberapa ruas jalan yang menjadi prioritas utama adalah Jalan Piere Tendean dan Jalan Sugiyono.
"Semua prioritas yang jelek dulu, pokoknya yang paling jelek kita bereskan dulu. Dan yang kita utamakan di Solo Utara dulu. Jadi di Piere Tendean dan Sugiyono itu menjadi utama," pungkasnya.
Baca juga: Penggugat CLS Ijazah Jokowi Ajukan Banding |
(apu/alg)











































