Eskalasi ketegangan yang terjadi di wilayah Timur Tengah mulai berdampak pada perjalanan ibadah umrah di tanah air. Pengusaha biro umrah menceritakan saat ini ada jemaah tertahan di Arab Saudi dan ada juga jemaah yang terancam gagal berangkat.
Ketua Perhimpunan Pengusaha Biro Ibadah Umrah dan Haji Indonesia (Perpuhi) Solo, Her Suprabu, mengungkapkan bahwa dampak utama dirasakan oleh jemaah yang menggunakan maskapai dengan sistem transit.
Beberapa keberangkatan dan kepulangan terpaksa dibatalkan karena situasi keamanan di wilayah transit yang tidak menentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada beberapa keberangkatan yang ter-cancel, ada yang kepulangan ter-cancel juga. Jadi ada yang keberangkatan nunggu di sini, kalau yang kepulangan ya terpaksa balik ke hotel lagi," ujar Her Suprabu saat dihubungi, Senin (2/3/2026).
Her menjelaskan, jemaah yang menggunakan maskapai direct atau penerbangan langsung seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Saudi Arabian Airlines (SV) relatif lebih aman dan tetap bisa beroperasi. Namun, jemaah yang menggunakan maskapai transit seperti Scoot (via Singapura) atau maskapai Timur Tengah lainnya masih tertahan di negara asal maupun di Arab Saudi.
"Yang pakai maskapai baru transit, kayak Scoot transit Singapura, atau yang transit di mana, ini masih di sana, belum bisa pulang. Harusnya tanggal 2 ini sudah pulang, ini ada satu grup yang harinya pulang," jelasnya.
Ia mengatakan bagi jemaah yang kepulangannya tertunda, pihak maskapai disebut telah bertanggung jawab dengan menyediakan fasilitas hotel di Saudi.
"Sebagian masih di Saudi, yang apa hari ini masih satu grup, tapi kan besok ada kepulangan lagi, besok ada kepulangan lagi. Tiap hari kan ada kepulangan," ucapnya.
Her mengatakan bahwa dengan eskalasi Timur Tengah mengganggu keberangkatan jemaah umrah dari 2 Maret hingga 27 Maret 2026. Ia mengatakan dari bironya ada 750 jemaah dari Solo Raya dan Jogja yang keberangkatan terganggu.
"Ya ini kita tiap hari ada pemberangkatan juga. Jadi yang per kemarin satu grup, ya 45 orang kita pindah ke SV. Terus sambil lihat perkembangan dari maskapainya apakah besok sudah bisa jalan apa belum gitu. Kita masih ada 750 yang belum berangkat," terangnya.
"Itu berangkat dari Solo Raya, Jawa Tengah, kan ada juga yang berangkat dari Jogja, ada yang berangkat dari Solo, ada yang berangkat dari Jakarta starting-nya. Seluruh Indonesia malah," sambungnya.
Terkait nasib 750 jemaah yang dijadwalkan berangkat antara 2 Maret hingga 27 Maret 2026, Her menegaskan pihaknya terus melakukan mitigasi. Salah satu langkah yang diambil adalah memindahkan jemaah dari maskapai yang batal ke maskapai yang masih beroperasi normal, meski harus merogoh kocek tambahan untuk tiket baru.
"Sekarang kita skala prioritasnya ya mementingkan jemaah dulu, yang penting berangkat. Jadi kayak yang kita ganti pesawat, kan kita beli lagi itu. Kita pindah ke pesawat yang masih jalan," tambahnya.
Dengan adanya konflik tersebut, pihaknya mengakui ada kerugian yang dirasakan biro umrah. Salah satunya tiket hotel yang hangus.
"Ya pasti ada ya, pasti ada. Karena pertama kalau yang sudah harusnya berangkat nggak berangkat kan hotelnya bisa hangus. Tapi kan kita nggak tahu situasi force majeure seperti ini apakah dari pihak hotel nanti mau di-reschedule atau bagaimana. Jadi sekarang kita skala prioritasnya ya mementingkan jemaah dulu, yang penting berangkat. Jadi kayak yang kita ganti pesawat kan kita beli lagi itu," bebernya.
"Nah, mudah-mudahan nanti dari pesawat yang nggak jalan ini ada kebijakan-kebijakan gitu. Jadi sementara ini kita skala prioritasnya yang penting jemaahnya bisa berangkat dulu untuk menekan kerugian kan hotel dan sebagainya kan sudah dipesan sesuai dengan jadwal," pungkasnya.
