Mbah Sudarti Malah Sedih Usai Terima Ganti Rugi Tol Rp 3,4 M, Ini Ceritanya

Mbah Sudarti Malah Sedih Usai Terima Ganti Rugi Tol Rp 3,4 M, Ini Ceritanya

Tim detikJateng - detikJateng
Kamis, 16 Okt 2025 12:22 WIB
Warga Grabag, Kabupaten Magelang menerima UGR Tol Jogja-Bawen senilai Rp 3,4 miliar di Balai Desa Banyusari, Rabu (15/10/2025).
Warga Grabag, Kabupaten Magelang menerima UGR Tol Jogja-Bawen senilai Rp 3,4 miliar di Balai Desa Banyusari, Rabu (15/10/2025). Foto: dok. detikJateng
Solo -

Raut wajah Mbah Sudarti (65) malah sedih usai menerima uang ganti rugi (UGR) Tol Jogja-Bawen senilai Rp 3,4 M. Warga Desa Kalikuto, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang itu harus merelakan semua sawah yang diwariskan orang tuanya. Berikut ceritanya.

Kala menerima UGR itu, Mbah Sudarti tidak sendiri, melainkan bersama putranya, Ahmad Solikun (32). Dua bidang sawah milik Mbah Sudarti harus dilepas.

Adapun satu bidang sawahnya seluas 24 meter persegi mendapat UGR senilai Rp 68 juta. Satu bidang sawah lainnya seluas 232 meter persegi diganti rugi Rp 3,4 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini tanah punya ibu, cuma mendampingi. Lagi, tanah ini banyak saudara (7 bersaudara). Jadi misalnya banyak (dapatnya) ya dibagi banyak (saudaranya dan kedua orang tuanya)," kata anak kelima Sudarti itu kepada wartawan di Balai Desa Banyusari, Kecamatan Grabag, Rabu (15/10/2025).

ADVERTISEMENT

"Telas sedanten (habis semuanya). Rencana mau cari lagi, insyaallah. Soalnya kalau nggak beli (tanah lagi) kan biasanya padi nggak beli kok biasa petani nggak punya (sawah) sayang kan. Apa-apa beli kan susah," sambung Ahmad.

Ahmad menjelaskanUGR tersebut bakal dirembukkan bersama saudara-saudara lainnya.

"Satunya Rp 68 juta, terus satunya lagi Rp 3,4 miliar. Nanti masih rembukan bagaimana, harus kumpul lagi," ujar Ahmad.

Proses pencairan UGR itu, kata Ahmad, berlangsung sekitar 3 tahun. "Nenggoni kalih mumet (menunggu pencairan sambil mumet). Lha itu (sawah) hilang semua. Senang (dapat UGR), nggak senang biasanya bertani terus nggak punya lahan kan (bingung)," tuturnya.

"Senang (dapat uang), sedih (sawah habis). Tapi, kan beda kalau uang. Kalau sawah ada penghasilannya, kalau uang sekali dipakai ya sudah hilang," ujar dia.

Mbah Sudarti menyebut tanah yang diganti rugi itu adalah hasil pembelian dan warisan. Namun, dia tidak begitu paham kapan membeli tanah tersebut.

"Dulu beli dari Mbah. Tidak menyangka terkena tol. Itu berupa sawah, sekarang nggak punya sawah," kata Sudarti.

"Nanti dibagi sembilan (7 anak dan bapak serta ibu). Nanti kalau dikasihkan anak semua, terus saya bagaimana. Ya penginnya beli (sawah) lagi karena dulu dari orang tua," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Banyusari, Taryono, menyebut tanah kas desa (TKD) yang terdampak proyek tol seluas 4 hektare. Adapun TKD itu merupakan bengkok untuk sekdes, kasi dan kadus.

"Itu beberapa tempat. Ada yang di Kalirejo, Jantur, Kalibendo. Itu yang tanah kas desa," kata Taryono.

Tanah milik sekitar 400-an warga Desa Banyusari, lanjut Taryono, sebanyak sekitar 630-an bidang yang terdampak pembangunan tol.

"Banyak. Paling banyak (tanah warga yang terkena) di Desa Banyusari. Itu kurang lebih 4 km. Yang kena rata-rata persawahan, ada yang rumah, ada yang lahan di Dusun Jantur, Banyusari dan Kalitejo. Kalau di Kayupuring itu semuanya lahan persawahan," ujarnya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Tanah Jalan Tol Jogja-Bawen, Muhammad Fajri Nukman, menyebutkan total progres pengadaan tanah untuk tol Jogja-Bawen hingga kini di angka 66,82 persen. UGR yang dibagikan kemarin, lanjut Fajar, senilai Rp 57,1 miliar untuk 68 bidang tanah.

"Ya, 66,82 persen. Hari ini ada 68 bidang dari tiga desa, Banyusari, Kalikuto, sama Candiretno. Yang Candiretno ini satu bidang penjadwalan ulang dari yang sebelumnya belum bisa dibayarkan karena kekurangan (persyaratan)," kata Fajri.




(apu/aku)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads