Semringahnya Petani Timun Suri di Pekalongan Raup Cuan Saat Ramadan

Semringahnya Petani Timun Suri di Pekalongan Raup Cuan Saat Ramadan

Robby Bernardi - detikJateng
Senin, 11 Apr 2022 13:38 WIB
Petani palawija mengubah tanaman ke timun suri atau barteh jelang Ramadan, di Desa Silirejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Senin (11/4/2022).
Petani palawija mengubah tanaman ke timun suri atau barteh jelang Ramadan, di Desa Silirejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Senin (11/4/2022). Foto: Robby Bernardi/detikJateng
Kabupaten Pekalongan -

Sejumlah petani di Desa Silirejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, meraup cuan pada bulan Ramadan ini. Ya, setiap tahun sekali, mereka mengubah jenis tanaman dari palawija ke tanaman timun suri atau biasa disebut dengan barteh. Dari tanaman ini, para petani setiap hari bisa panen.

"Rata-rata, petani di desa ini, memang mengubah tanaman dua bulan sebelum bulan puasa. Yang semula palawija, berubah ke barteh," kata Tasreb (50), petani warga Desa Silirejo, saat ditemui detikJateng di lahan pertaniannya, Senin (11/4/2022).

Menurutnya, dengan beralih timun suri, petani dapat meraup keuntungan besar. Sebab, dari tanaman yang telah ditanam sekitar dua bulan sebelum memasuki bulan Ramadan, bisa dipanen setiap harinya.

"Sebelumnya saya palawija. Biasa, setahun sekali kita ubah ke barteh. Kita tanam dua atau tiga bulan sebelum bulan puasa. Saat bulan puasa, bisa dipanen setiap hari," ungkapnya.

Ia sendiri dalam sehari bisa memanen 70 hingga 100 buah timun suri siap konsumsi. Timun suri dijualnya di tepi lahan, dan para pembeli baik pedagang maupun pembeli perseorangan pun berdatangan dengan sendirinya. Rata-rata ia jual Rp 10 ribu per buah.

Petani palawija mengubah tanaman ke timun suri atau barteh jelang Ramadan, di Desa Silirejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Senin (11/4/2022).Petani palawija mengubah tanaman ke timun suri atau barteh jelang Ramadan, di Desa Silirejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Senin (11/4/2022). Foto: Robby Bernardi/detikJateng

Hal yang sama dikatakan Ahmad Kholiq (35), petani lainnya di Desa Silirejo. Ia mengubah lahan palawija seluas 500 meter persegi dengan buah timun suri sebelum memasuki bulan Ramadan.

"Kalau panen saat ini ya setiap hari sampai puasa selesai. Kita memilih buahnya yang sudah agak pecah. Biasanya pagi dan sore. Sekali ambil bisa 50 atau 100 buah," kata Ahmad Kholiq.

Petani musiman ini, tidak perlu repot-repot memasarkan buah timun suri. Pasalnya, setiap hari, pedagang timun suri akan datang di pagi hari, yang langsung dipasarkan. Harga dari tangan petani sendiri satu buah berkisar Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu, berdasarkan ukuran buah.

"Setiap pagi kita ambil buah, di tepi jalan sudah banyak pedagang. Ya, senanglah tidak repot memasarkannya. Selain pedagang juga ada warga perseorangan yang membeli," katanya.

Harga di pasaran timun suri mencapai Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu per buah. Ia mengaku dari ratusan petani palawija di desanya, hampir rata-rata mengubah tanam ke timun suri karena menjanjikan.

"Ya, paling sebulan saat bulan puasa ini saja kok. Ya karena harga per buahnya masih tinggi. Setelah bulan puasa, kami kembali lagi ke palawija. Kalau diteruskan, harga sudah turun, mending kita kembali ke palawija," ungkapnya.



Simak Video "Melihat Sentral Penghasil Timun Suri untuk Takjil"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/ams)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT