Aduan soal penarikan parkir di depan salah satu sekolah di Kota Solo viral di media sosial. Aduan tersebut dikeluhkan oleh pengguna Threads @habiebah.j.
Dalam aduan tersebut, akun @habiebah.j menyebut sedang menjemput anaknya di dalam mobil. Namun, saat itu kaca mobilnya diketuk dan diminta uang parkir.
"Beberapa hari terakhir saya jemput sekolah tidak membayar parkir, karena menurut saya sekolah diparkirin nggak make sense, dan hari ini kaca mobil diketuk tukang parkir, saya buka jendela," tulis akun tersebut seperti dikutip detikJateng, Selasa (27/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adanya keluhan tersebut, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo memanggil juru parkir tersebut. Dalam pemanggilan, Dishub meminta jukir untuk membuat surat pernyataan.
"Hari ini kita panggil jukir yang bersangkutan. Juru parkir ini bertugas di badan jalan, termasuk di depan SD Al-Islam 2, Jalan Veteran, Banjarsari, Solo. Di lokasi tersebut ada aturan dan ketentuan parkir resmi," kata staf Bidang Pengelolaan dan Pembinaan Parkir Dishub Solo, Sutanto, Selasa (27/10/2026).
Sutanto mengatakan kejadian tersebut bermula ketika ada wali murid yang menjemput anaknya. Saat itu, kata dia, wali murid memang berada di dalam mobil.
"Saat itu, ibu tersebut masih berada di dalam mobil dan secara spontan dimintai uang parkir oleh juru parkir. Akhirnya, ibu tersebut menyampaikan komplain," ungkapnya.
Sutanto menegaskan bahwa pelayanan juru parkir di lapangan harus teliti. Di mana, pengemudi yang berada di dalam mobil tidak perlu ditarik uang parkir.
"Harus bisa membedakan mana kendaraan yang memang parkir dan mana yang tidak perlu ditarik uang parkirnya. Kalau hanya berhenti untuk menjemput anak dan pengemudi masih berada di dalam mobil, seharusnya tidak perlu ditarik uang parkir. Kecuali kendaraan memang sudah parkir dan juru parkir membantu mencarikan tempat parkir yang aman, itu berbeda," terangnya.
Sutanto mengatakan, jukir tersebut juga telah menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya. "Beliau sudah mengakui salah, nanti tidak akan diulang kembali. Ini sudah membuat surat pernyataan. Artinya, kami dari dinas sudah menindaklanjuti apa yang dilaporkan," terang Sutanto.
Di kesempatan yang sama, juru parkir tersebut, Yani Saputra Arbi (41), menyebut permintaan uang parkir yang dilontarkan kepada ibu tersebut terjadi secara spontan karena melihat kendaraan lain membayar parkir.
"Sebenarnya, sejak awal tahun pelajaran hingga hampir enam bulan ini, saya belum pernah menarik uang parkir dari ibu tersebut. Bahkan, satu rupiah pun belum pernah saya terima dari beliau," kata jukir tersebut.
Yani menjelaskan, saat kejadian, dirinya datang sekitar setengah jam sebelum jam pulang sekolah. Dia kemudian menunggu sekitar 20 menit hingga anak-anak bubar. Saat itu, dia melihat kendaraan lain membayar parkir, sedangkan ibu tersebut tidak.
"Saya bilang, 'Mbak, kok njenengan mboten bayar, lainnya bayar.' Saya melihat kendaraan lain membayar, sedangkan ibu tersebut tidak. Akhirnya, saya spontan menegur seperti itu dan kemudian terjadi masalah," ujarnya.
Dia mengatakan, aktivitas parkir di depan sekolah kerap menimbulkan kepadatan, terutama saat akhir pekan. Banyak kendaraan yang keluar masuk untuk menjemput siswa.
Menurutnya, selisih waktu kepulangan siswa pada hari Sabtu biasanya sekitar 15 menit hingga setengah jam. "Pada akhir pekan, banyak mobil keluar masuk sehingga jalanan pasti agak macet. Saya juga membantu mengurai kemacetan di depan sekolah," ungkapnya.
Terkait persoalan yang terjadi, dia mengaku telah dipanggil oleh perwakilan sekolah. Meski demikian, menurutnya, pihak sekolah masih bersedia bekerja sama dengannya. Dia menilai keberadaan jukir turut membantu mengatur kendaraan saat jam antar-jemput siswa.
"Saya sebenarnya berniat menolong, tetapi akhirnya mengalami kejadian seperti ini. Saya pasrah saja. Namun, alhamdulillah, pihak sekolah masih bersedia bekerja sama," pungkasnya.
