Membaca Cerita Saksi Pertempuran 5 Hari di Rumah PoHan Semarang

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Kamis, 15 Okt 2026 16:22 WIB
Suasana pameran Pertempuran Lima Hari Semarang di Rumah PoHan, Kawasan Kota Lama Semarang, Kamis (15/10/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Semarang -

Pameran sejarah Pertempuran Lima Hari bertajuk "Dari Semarang Kita Mulai" digelar di Rumah PoHan, Jalan Kepodang Nomor 64, Kawasan Kota Lama, Kota Semarang. Ada cerita sejumlah saksi yang ditampilkan dalam pameran ini.

"Tagline 'Dari Semarang Kita Mulai' itu kita merujuk pada buku milik Jenderal Besar Abdul Haris Nasution yang bilang pertempuran di Semarang ini adalah pertempuran akbar terbesar pertama sepanjang Revolusi Kemerdekaan Indonesia," kata Kurator Pameran, Mozes Christian Budiono saat ditemui detikJateng di Rumah PoHan, Kamis (15/10/2026).

Saat detikJateng datang pada Kamis (15/10) siang, terlihat pengunjung datang silih berganti. Para kurator juga terlihat tengah menjelaskan isi pameran ini kepada para rombongan yang datang.

Pameran ini diselenggarakan selama enam hari, mulai Kamis-Selasa 15-20 Oktober. Pengunjung dapat datang pukul 09.00-21.00 WIB secara gratis.

Mozes menjelaskan pameran tahun ini menonjolkan cerita para saksi selama pertempuran itu terjadi. Arsip itu diambil dari Museum Mandala Bakti Kota Semarang.

"Fokusnya lebih ke kronologi dan mengangkat cerita-cerita dari para saksi-saksi hidup, veteran, maupun tokoh-tokoh terkenal selama pertempuran, dari perspektif yang berbeda-beda. Ada yang punya pengalaman di ketentaraan seperti PETA atau Heiho, ada yang warga sipil biasa, ada perempuan juga," jelas Mozes.

Diketahui Pertempuran Lima Hari terjadi di wilayah Kota Semarang pada 15-19 Oktober 1945. Isu peracunan air di Reservoir Siranda dan gugurnya dr Kariadi menjadi salah satu pemicu pecahnya pertempuran ini.

"Cerita tuturnya itu dari arsip Museum Mandala Bakti. Jadi di sana ada kumpulan arsip di tahun 80-an isinya orang-orang yang diwawancara, orang-orang yang terlibat ketika pertempuran berlangsung, entah itu warga sipil atau mereka yang ikut bertempur," imbuhnya.

Suasana pameran Pertempuran Lima Hari Semarang di Rumah PoHan, Kawasan Kota Lama Semarang, Kamis (15/10/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng

Cerita-cerita tersebut terpajang di salah satu sudut pameran dengan judul 'Ketika Mereka Bercerita Kesaksian Veteran dan Saksi Hidup Pertempuran Lima Hari di Semarang'. Terlihat ada 39 foto orang-orang yang menjadi saksi peristiwa bersejarah itu.

Dari 39 orang itu, ada delapan orang yang ceritanya dimuat, yaitu A Kamisan, Abu Sudjak, Drs Jachja, Indera Dharmawan, K Soekamto, Martha Soekinah, Rachmad Loekito, dan S Sukarjo. Mereka menceritakan detik-detik menegangkan dari ketika pertempuran ini meletus.

Salah satu cerita yang cukup mengiris hati adalah cerita dari Martha Soekinah. Saat pertempuran itu pecah, dia dalam kondisi hamil tua.

Suasana pameran Pertempuran Lima Hari Semarang di Rumah PoHan, Kawasan Kota Lama Semarang, Kamis (15/10/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng

Suami Martha merupakan seorang Polisi Istimewa bagian persenjataan berat bernama Idrus. Sang suami harus meninggalkan dirinya untuk ikut dalam Pertempuran Lima Hari kala itu.

Sebelum pergi ke medan laga, suami Martha sempat berpesan agar dia tidak bersedih. Menurut suaminya, hidup mereka akan makmur setelah penjajah pergi dari tanah air.

"Jangan menangis, ingat, jika Indonesia sudah merdeka, kita akan hidup tenang dan makmur. Tidak diinjak-injak oleh penjajah yang kejam," kata Martha menirukan ucapan suaminya sebelum pergi bertempur sebagaimana tertulis dalam arsip tersebut.

Saat ditinggalkan suaminya ke medan laga, perasaan Martha tidak tenang. Dia akhirnya memberanikan diri keluar dari rumah untuk mencari keberadaan suaminya.

Suasana pameran Pertempuran Lima Hari Semarang di Rumah PoHan, Kawasan Kota Lama Semarang, Kamis (15/10/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng

Situasi perang yang begitu panas bahkan membuat Martha yang tengah hamil tua, kerap kali harus tiarap ketika mendengar suara tembakan saat mencari keberadaan suaminya.

Waktu itu Martha menyusuri Kantor Polisi Istimewa, Banjir Kanal Barat, Randusari, hingga Pandanaran. Namun dalam pencarian itu, dia tak menemukan petunjuk tentang suaminya.

Beberapa hari kemudian, Martha mendapat kabar banyak Polisi Istimewa yang gugur di Jalan Imam Bonjol. Dia kemudian mendatangi lokasi itu dan mendapati suaminya sudah meninggal dunia.

Suasana pameran Pertempuran Lima Hari Semarang di Rumah PoHan, Kawasan Kota Lama Semarang, Kamis (15/10/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng

"Dan akhirnya saya dapati jenazah Mas Idrus dalam keadaan yang mengenaskan, badan dan kepalanya terpisah. Saya mengenalinya dari gigi emas yang dipakainya," ucap Martha.

Mozes kembali menerangkan bahwa cerita-cerita semacam ini sengaja ditonjolkan pada pameran kali ini agar pengunjung dapat memandang Pertempuran Lima Hari di Semarang secara utuh.

"kehadiran kisah dari tokoh-tokoh, orang-orang biasa, maupun para veteran yang sudah bertempur ini juga memberi kita cerita dari masyarakat Semarang sendiri selama masa pertempuran," tutur Mozes.

"Perspektif dari kita kan sering kali ngelihat suatu peristiwa dari sudut pandang yang lebih luas, ini sudut pandang dari mereka yang masing-masing jadi saksi, jadi enggak sekadar kronologis yang lebih akademik sehingga lebih manusiawi," pungkasnya.



Simak Video "Menyebrangi Marine Bridge yang Menantang dengan Keamanan Terjamin di Semarang"

(afn/apu)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork