Ada sosok baru yang diangkat dalam teatrikal Pertempuran 5 Hari di Semarang tahun ini. Dia adalah Raden Mas (RM) Bambang Soeprapto.
"Tahun yang lalu saya belum menampilkan Bambang Soeprapto. Anakannya Bambang Soeprapto bertemu dengan kami mengatakan, 'terima kasih, kapan-kapan kita ketemu lagi'," ucap pembuat naskah Pertempuran 5 Hari di Semarang, Stephanus Sukirno (74), saat ditemui detikJateng usai acara teatrikal Pertempuran 5 Hari di Semarang yang bertempat di Tugu Muda, Kota Semarang, Rabu (14/10/2026) malam.
Sukirno menjelaskan, Bambang merupakan anak dari mantan Bupati Batang, Raden Mas Arya Adi (RMAA) Dipokoesoemo. Bambang juga mantan tentara Hindia Belanda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kelupaan pangkatnya, tapi kalau beliau itu putra dari Bupati Batang. Dan dia toko pemuda bekas tentara Hindia Belanda," sebutnya.
Usai menjadi tentara Hindia Belanda, Bambang Soeprapto masuk di Polisi Istimewa Jawa Tengah. Posisinya saat itu menjadi Wakil Ketua Polisi Istimewa.
"Masuk di sini ada pembentukan Polisi Istimewa langsung menjadi Wakil Ketua Polisi Istimewa Jawa Tengah," bebernya.
Bambang pernah diajak Jepang ke Bandung untuk melawan musuh saat itu. Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia, namun Bambang menolaknya.
"Dia mewakili Semarang datang ke Bandung ketemu sama Jepang diminta, 'ikut saya melawan sekutu. Nanti kalau menang dihadiahi kemerdekaan'. Yang menolak Bambang Soeprapto," jelasnya.
Sukirno menggarap naskah tersebut kurang dari sebulan. Namun, dirinya tidak dapat mendampingi para aktor untuk latihan lantaran didera sakit.
Pantauan detikJateng di Tugu Muda, upacara dimulai pada pukul 18.45 WIB. Berbagai unsur mulai dari TNI, Polri, hingga pelajar mengikuti upacara peringatan Pertempuran 5 Hari di Semarang.
Pertempuran ini tercatat dalam sejarah terjadi pada 15-19 Oktober 1945. Tugu Muda adalah monumen yang didirikan untuk mengenang peristiwa itu.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, warga juga tampak berkerumun antusias di sekitar Tugu Muda untuk menyaksikan upacara hingga teatrikal.
Usai upacara lampu mulai redup, naskah proklamasi dibacakan. Para pemeran rakyat berbondong-bondong datang. Mereka meminta proklamasi kembali dibacakan.
"Merdeka, merdeka, merdeka!" riuh para aktor bergembira menyambut kemerdekaan.
Sesaat kemudian, seorang dari mereka menyela perayaan. Dia menanyakan apa itu merdeka. Perdebatan pun berlangsung.
Teatrikal dibawakan dengan sisipan jenaka, namun tidak meninggalkan esensi nuansa kemerdekaan. Suasana semakin kental terasa dengan iringan orkestra dan paduan suara.
"Eh, sek-sek ada suara mobil. Jangan-jangan ada tentara Jepang," ungkap salah satunya.
Mereka lari terbirit-birit ke arah barat. Dari timur, tampak dua mobil peleton dan satu peleton berjalan kaki datang.
"Mana? Mana warga Semarang katanya wani perang?" ungkap salah satu aktor yang memerankan tentara Jepang.
Seorang wanita kemudian datang dan menjawab pertanyaan prajurit. Dia menyatakan siap untuk berperang.
Seorang tentara Jepang mengatakan bahwa mereka merupakan saudara tua. Dia mengatakan saudara tua tidak bakal tega dengan saudara muda.
Tentara Jepang kemudian berkeliling Tugu Muda. Seorang warga mengajak untuk membunuh serdadu Jepang.
Tak lama kemudian, aktor yang memerankan Dr. Kariadi datang. Dia menanyakan mengapa mereka ingin membunuh tentara Jepang.
Masyarakat menjawab karena tentara Jepang meracuni tandon air Wungkal atau Resevoir Siranda. Lalu, Dr. Kariadi mengatakan dirinya bakal mengeceknya langsung.
Sejurus kemudian istri Dr. Kariadi datang. Dia mengatakan sebagai warga Indonesia rela melepas Dr. Kariadi untuk melakukan perjalanan berisiko itu, namun dia tidak rela sebagai istri.
"Selamat jalan Mas Yadi," ucap aktor yang memerankan istri Dr. Kariadi.
Seorang lainnya datang membawa kabar bahwa Jepang mengamuk di daerah Pendrikan. "Para lelaki dibunuh," katanya.
Seorang lainnya datang mengabarkan bahwa Kampung Batik kebakaran. Warga pun berbondong-bondong untuk pergi memberi bantuan.
Namun, orang lain menginformasikan bahwa terjadi kekacauan di wilayah Bulu. Warga pun kebingungan.
Seorang pria lalu mengingatkan agar warga tak terpecah-belah. Dia menyarankan agar datang berkonsultasi ke Gubernur Wongsonegoro.
Tak lama kemudian, Gubernur Wongsonegoro datang. Warga melaporkan kekacauan yang terjadi akibat kedatangan Jepang.
Dua warga lantas datang melapor ke Wongsonegoro bahwa tentara Jepang memberhentikan Sang Dokter dan menyuruh pulang. Namun tentara Jepang menembak Dr. Kariadi karena dia kukuh ingin mengecek kabar sumber air yang diracun.
Kabar tersebut lantas menyulut emosi warga. Mereka meminta agar perang segera dimulai.
Bambang Soeprapto dalam teatrikal Pertempuran 5 Hari di Semarang di Tugu Muda, Kota Semarang, Rabu (14/10/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng |
Kemunculan Bambang Soeprapto
Adegan berikutnya adalah Gubernur Wongsonegoro mengenalkan seorang Polisi Istimewa, Bambang Soeprapto. Bambang yang dalam teatrikal ini baju hijau dan celana panjang krem mengatakan bahwa Indonesia cinta perdamaian.
Di tengah kondisi tersebut, seorang warga menginformasikan bahwa pembunuhan dan pembakaran dilakukan tentara Jepang. Dia mengatakan bahwa serdadu Jepang malah memberikan senjata yang telah rusak.
"Kalian akan berperang walaupun dengan senjata seadanya," ucap Sang Gubernur.
Lalu Wongsonegoro meminta pertimbangan Bambang Soeprapto terkait keinginan warga untuk berperang. Bambang pun menyatakan siap untuk bersama masyarakat melawan Jepang.
Singkat cerita, pertempuran dimulai. Warga menyerang tentara Jepang. Sisa sedikit warga yang bertahan, begitu pula dengan Bambang Soeprapto.

