Seorang siswa kelas 10 Sekolah Rakyat Kabupaten Pati diduga menjadi korban pengeroyokan belasan temannya hingga dilarikan ke rumah sakit. Orang tua siswa mengungkap kondisi korban sampai saat ini masih trauma dan tidak mau sekolah.
"Anaknya nggak mau sekolah, anaknya masih trauma ketemu orang banyak. Pelan-pelan kata dokternya," kata Orang tua korban, Dewi kepada wartawan ditemui di rumahnya Pati Kota, Sabtu (10/10/2026).
Dewi mengatakan anaknya sempat dua kali dirawat di rumah sakit. Pertama pada Rabu (30/9) lalu setelah mengalami pengeroyokan di asrama sekolah pada Selasa (29/9) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu korban DA menjalani perawatan intensif beberapa hari. Namun belakangan, DA mengalami sesak dan kembali dirawat ke rumah sakit pada Rabu (7/10).
"Anak saya baru pulang semalam habis isya, gigi masih berdarah entah yang patah atau tidak," jelas dia.
Kondisi ini membuat pihak sekolah melakukan kunjungan ke rumah DA di Pati Kota siang tadi. Kepala Sekolah Rakyat Kabupaten Pati, Wulan Fitrianti, mengatakan ingin memberikan hak-hak kepada korban agar pendidikannya tidak berhenti.
"Kami ingin menyampaikan dan memberikan hak-hak kepada si anak, meskipun si anak belum bisa kembali ke asrama tetapi kita berusaha memberikan haknya agar tetap memperoleh pendidikan," jelas Wulan ditemui di rumah DA siang tadi.
"Nanti secara rutin tim sekolah rakyat akan datang ke rumah si anak, wali asuh, bapak ibu guru juga akan kami jadwalkan ke sini sampai si anak mau kembali ke sekolah lagi," lanjut dia.
Wulan mengatakan pihak sekolah pun akan memberikan pendampingan kesehatan bagi korban. Sebab kata dia korban masih membutuhkan rawat jalan setelah mengalami luka pada bagian gigi.
"Pendampingan kesehatan, kita memberikan pendampingan apabila si anak membutuhkan pendampingan, karena si anak perlu kontrol," terang dia.
Wulan juga mengaku akan melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
"Kami akan melakukan evaluasi dan kami menguatkan kepada anak-anak kami karena bagaimanapun dan bentuk apapun namanya kekerasan tidak diperkenalkan," jelasnya.
Kesempatan yang sama, Pendamping anak dan perempuan dari Astuti Foundation, Padina Mahardikasari, mengatakan ikut memberikan pendampingan setelah mendapatkan laporan adanya seorang anak siswa SR diduga mengalami bullying.
"Kita baru saja dapat laporan kasus bullying, di mana adiknya baru masuk ke sekolah rakyat, terus ada indikasi dikeroyok 14 anak seperti itu, dan hari ini kami memberikan bantuan berupa materi dan moral," jelas Padina ditemui di lokasi.
Menurutnya program sekolah rakyat membantu warga kurang mampu. Akan tetapi ia berharap perlu ada pengawasan lebih agar kejadian bullying tidak terulang lagi.
"Harapan kedepan program bagus ya, tapi harus benar-benar diawasi, dari pusat, dari pemerintah Kabupaten Pati dan kita berkolaborasi agar SR tidak ada kejadian seperti ini lagi," tambah dia.
Diberitakan sebelumnya, siswa kelas 10 Sekolah Rakyat Kabupaten Pati diduga menjadi korban bullying oleh belasan temannya karena dituduh mengambil sabun cuci muka. Akibatnya korban dibawa ke rumah sakit setelah mengalami luka di bagian gigi.
