Warga Semarang Gelar Salat Istisqa di Alun-alun Panjangan

Warga Semarang Gelar Salat Istisqa di Alun-alun Panjangan

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Minggu, 04 Okt 2026 12:33 WIB
Suasana salat istisqa di Alun-alun Panjangan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (4/9/2026).
Suasana salat istisqa di Alun-alun Panjangan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (4/9/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Warga Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, menggelar salat Istisqa di Alun-alun Panjangan. Mereka memohon hujan di tengah musim kemarau yang mengakibatkan kebakaran dan kekeringan.

Pantauan detikJateng di Alun-alun Panjangan, salat Istisqa dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Para warga dan jemaah Masjid Baitul Iman sudah bersiap sejak pagi. Rangkaian salat istisqa dimulai dengan khotbah dari imam.

"Ini bersama dengan warga sekitar Masjid Baitul Iman melaksanakan salat memohon hujan. Ini ikhtiar kita, bagian dari semangat kita," kata Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin di Masjid Baitul Iman, Minggu (4/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iswar yang turut mengikuti salat Istisqa mengatakan, salat itu menjadi salah satu bentuk ikhtiar masyarakat di tengah kondisi kemarau yang cukup panjang. Terlebih, menurut BMKG, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga November.

ADVERTISEMENT

"Tadi khatib juga sudah menyampaikan bahwa kekeringan di mana-mana, kemudian kepanasan seperti ini sudah banyak kerusakan-kerusakan diakibatkan kemarau yang begitu panjang pada tahun ini," ucapnya.

Dia pun berharap. doa dan pelaksanaan salat Istisqa dapat menjadi ikhtiar bersama agar hujan segera turun dan kondisi kekeringan di Kota Semarang dapat teratasi.

Suasana salat istisqa di Alun-alun Panjangan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (4/9/2026).Suasana salat istisqa di Alun-alun Panjangan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (4/9/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

"Mudah-mudahan kekeringan ini dapat segera teratasi," ujarnya.

Adapun, salat istisqa ini juga digelar untuk memohon hujan mampu memadamkan kebakaran di TPA Jatibarang. Menurut Iswar, kebakaran sudah mulai padam.

"Sudah padam sejak semalam. Cuma memang harus diantisipasi karena suhu di bawah itu kalau kita lihat dari drone thermal, kelihatan suhunya masih tinggi. Sewaktu-waktu itu bisa memunculkan api lagi," jelasnya.

Menurutnya, kondisi panas masih ditemukan di sejumlah titik di bawah permukaan tumpukan sampah TPA Jatibarang. Kondisi itu juga berpotensi memicu gas metana yang kemudian dapat menimbulkan api kembali.

"Kalau kita bisa melihat lewat thermal itu hampir semua lokasi di Jatibarang suhunya begitu panas di bawah. Artinya gas metana ini kan masih sangat berbahaya, berpotensi untuk kembali mengeluarkan api," katanya.

Iswar menyebut, petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) masih melakukan langkah antisipasi. Dia berharap, kebakaran di TPA Jatibarang tidak kembali muncul.

"Banyak petunjuk yang sudah diberikan oleh Bu Wali, kemarin saya juga sudah memberikan arahan. Mudah-mudahan usaha ini bisa kita antisipasi," ujarnya.

"Semoga Allah berkenan menurunkan hujan dengan hujan yang 'midron' yaitu deras, 'mansuron' memberikan pertolongan, 'masruron' menyenangkan, 'mubarakan' yang berkah, 'mughisan' yang meneteskan ke dalam hati, menjadi sejuk," lanjutnya.

Suasana salat istisqa di Alun-alun Panjangan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (4/9/2026).Suasana salat istisqa di Alun-alun Panjangan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (4/9/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Imam sekaligus khatib salat istisqa, Danusiri juga mengatakan, salat itu digelar sebagai bentuk ikhtiar umat Islam untuk memohon hujan sekaligus mengajak masyarakat melakukan introspeksi terhadap kondisi lingkungan.

"Kerusakan bumi, kerusakan ekologi, kerusakan ekosistem itu lebih banyak akibat perbuatan kecerobohan kita sendiri. Karena itu banyak sekali pelajaran-pelajaran sejak zaman kuno, kalau kita maksiat terus secara massal kepada Allah, Allah akan memperingatkan," kata Danusiri.

Menurutnya, kondisi seperti kebakaran, banjir, hingga kekeringan panjang dapat menjadi peringatan agar manusia kembali memperhatikan lingkungan. Ia lantas mengajak warga sekitar lebih berhati-hati menjaga lingkungan dan meningkatkan keimanan.

"Kami mengimbau seluruh warga Kota Semarang lebih hati-hati di dalam merawat lingkungan kita. Kemudian secara khusus agar segera Allah berkenan menurunkan hujan," katanya.

Salah satu warga yang mengikuti salat istisqa, Sri Mulyati (40) mengatakan, rumahnya memang tidak terlalu terdampak asap kebakaran TPA Jatibarang. Namun, pada pagi hari asap kebakaran disebut sempat mencapai rumahnya yang berada 4 km dari TPA Jatibarang.

"Kalau di sini tidak begitu terdampak. Kalau dari teman-teman yang di Ngaliyan mereka sangat merasakan asap itu. Kalau di sini alhamdulillah hanya sekadar kabut-kabut asap kalau pagi," kata Sri.

Dia sendiri mengaku mengikuti salat istisqa karena merasa perlu menunjukkan kepedulian terhadap warga yang terdampak kebakaran dan kondisi kemarau.

"Karena kepedulian kami sesama umat, sesama manusia. Kita punya inisiasi untuk saling peduli bahwasanya jika kebakaran itu sampai dirasakan oleh warga sekitar, kita kasihan," ujarnya.

"Harapannya Allah segera menurunkan rahmat sehingga alam ini tidak kering. Kemudian kalau dari bencana kebakaran ini, mudah-mudahan segera padam sehingga masyarakat tidak terganggu," lanjutnya.



(afn/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads