Pelaksana Perlindungan, Pengembangan, dan/atau Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, memprediksi dualisme takhta yang tengah membelit Keraton Solo bakal selesai dalam 8 tahun. Hal itu diungkapkan Tedjowulan dalam sambutan penandaan revitalisasi Keraton Solo bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Awalnya, Tedjowulan mengatakan akan mengajak dua Paku Buwono XIV di Keraton Solo untuk melaksanakan tugas pokok dan kewajiban. Tedjowulan mengatakan, dirinya mengajak dua Paku Buwono XIV berdiskusi di kantor barunya.
"Ya saya nanti akan mengajak beliau generasi-generasi muda ini untuk berpikir, untuk saya ajak tugas pokok dan tanggung jawabnya apa, hak dan kewajibannya itu apa sebetulnya," kata Tedjowulan dalam sambutannya di Keraton Solo, Rabu (23/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tedjowulan pun memprediksi delapan tahun ke depan Keraton Solo dapat mewujudkan hal yang diharapkan pemerintah.
"Karena saya prediksikan sampai dengan 8 tahun lah, 8 tahun ke depan itu Keraton Surakarta harus sudah bisa mewujudkan apa yang diinginkan oleh pemerintah. Mudah-mudahan kita diberi kesehatan lahir dan batin, sadar diri," ungkapnya.
Sehingga, nanti dirinya akan berkantor di Keraton Solo dan mengajak Paku Buwono XIV Mangkubumi dan Paku Buwono XIV Purbaya berkantor bersama. Tedjowulan mengaku akan mengajak untuk membagikan rencana program-program jangka pendek hingga jangka panjang.
"Jadi nanti saya akan berkantor untuk sementara dengan Sisusuhunan Paku Buwono XIV yang di hadapan saya sekarang ini. Setelah nanti berkantor di situ, saya akan mencoba untuk mengajak program-program kerja tahun anggaran jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang itu seperti apa. Tentunya saya berharap Sisusuhunan Paku Buwono selaku pemimpin itu harus bisa menjabarkan tugas pokok," bebernya.
Tedjowulan kemudian menjelaskan angka 8 tahun itu bisa diperoleh dari perhitungan dirinya. Menurutnya, setelah delapan tahun akan ada satu raja.
"Lho, gini ya. Ini gurauan saja. Kan ada Paku Buwono dua, XIV sama XIV. Jumlah berapa, 28 kan. Nah, 2 ditambah 8 berapa, 10 kan. 10 itu angka berapa, 1 dan 0 kan, pasti nanti akan terjadi 1 toh," ucapnya.
Dirinya mengaku sempat menanyakan program-program kepada dua Paku Buwono XIV itu. Ia mengaku menanyakan program 5 hingga 8 tahun ke depan.
"Saya tanya satu-satu tuh belum bisa menjawab. Apa yang namanya Purbaya itu saya tanya juga, 'Kowe-kowe dadi Ratu, Ratu sing kepiye?' Programmu seperti apa, nggak usah panjang-panjang, 1.000 hari saja bapakmu, nggak 5 tahun. Nanti kalau saya bilang berapa tahun, 8 tahun kan," ucapnya.
"Sama dengan si Mangkubumi itu. Saya tanya juga, gitu lho. Nah, itu nanti kantor jadi, mau saya jadikan satu di situ, saya ajak rembukan. Entah itu mingguan, entah itu bulanan, gitu lho. Kalau mau! Kalau enggak mau ya saya tinggal. Gitu," terangnya.
Dirinya menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada raja definitif di Keraton Solo. Ia pun belum mengakui keduanya sebagai raja Keraton Solo.
"Tidak ada yang saya akui. Yang ngakui nanti kalau sudah 2 tambah 8 jadinya berapa, 10. 1 tambah 0 jadinya berapa, 1," tuturnya.
Tedjowulan juga menyinggung tugas yang diterimanya melalui SK 08. Dia mengatakan petunjuk pelaksanaan (juklak) terkait tugas tersebut belum tersedia sehingga dirinya menyusun sendiri konsep pelaksanaannya.
"Jadi di bidang 4P itu tadi, bidang 1, 2, 3, 4 itu apa saja itu. Nah nanti akan saya koordinasikan dengan Sisusuhunan Paku Buwono XIV, khususnya dan utamanya adalah kepada Gusti Wandan, sehingga kita itu tidak diadu-adu gitu loh. Jadi kita bergerak, berjalan, itu memang ada patokannya," pungkasnya.
Di kesempatan yang sama, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon berharap ada kerja sama dari berbagai pihak untuk menjaga keberlangsungan keraton. Ia mengatakan pemerintah ingin Keraton Solo bisa terus berkesinambungan.
"Saya kira inilah dari pemerintah. Harapan kita ke depan bagaimana keraton ini bisa terus hidup berkesinambungan sampai puluhan tahun yang akan datang, sampai ratusan tahun yang akan datang, hidup dengan ekosistem yang kondusif," kata Fadli Zon.
Dirinya juga meminta KGPH Panembahan Agung Tedjowulan bisa merukunkan dualisme yang ada di Keraton Solo.
"Salah satu yang dituakan di sini ada Panembahan Agung. Tujuh bulan ini kita tunjuk sebagai pelaksana. Ada Gusti Moeng, lembaga adat, dan juga yang muda-muda, para Gusti yang lain," ucapnya.
"Nanti bagaimana merukunkan yang tadi 28 menjadi 14. Jadi bagaimana itu menjadi 14. Ini saya kira salah satu PR dari Panembahan Agung dan juga semua pihak," sambungnya.
Dirinya yakin persoalan internal di Keraton Solo dapat diselesaikan melalui musyawarah dan mufakat. Menurutnya, upaya penyelesaian secara kekeluargaan juga telah dicontohkan oleh para Sinuhun sebelumnya.
"Saya yakin tidak ada yang tidak bisa kita selesaikan dengan musyawarah dan mufakat. Apalagi sudah diberi contoh oleh Sinuhun-Sinuhun sebelumnya," pungkasnya.
