Salah satu penumpang yang selamat dari tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di Laut Jawa, Haryono (58) asal Desa Diwak, Kecamatan Bergas, Semarang, mengaku menolong sejumlah korban lain untuk naik ke life raft atau perahu karet dari KM tersebut.
"Setelah sampai atas (liferaft), baru istirahat, ada lagi yang meminta tolong. Itu sampai tiga orang saya menaikkan korban-korban itu ke atas liferaft dulu. Setelah tiga orang saya naikkan, kondisi saya sudah enggak memungkinkan. Napas sudah habis, tenaga sudah habis," kata dia saat ditemui detikJateng di rumahnya, Selasa (22/9/2026).
Haryono awalnya menuturkan, dirinya bekerja sebagai pengantar tenaga kerja sawit ke Kalimantan. Dia mengantarkan orang dari berbagai daerah yang sebelumnya sudah ditampung di Ungaran. Pekerjaan itu membuat Haryono bisa naik kapal tiga kali dalam sebulan.
Saat itu Haryono bertolak ke Surabaya bersama 15 orang calon tenaga kerja perkebunan sawit naik travel sewaan. Rombongan itu tiba di Pelabuhan Surabaya pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 04.00 WIB. Ia lalu mencari tiket kapal paling pagi dan mendapatkan KM Virgo Transport 8.
"Awalnya kapal itu rencananya berangkat jam 06.00 WIB, tapi mundur jadi jam 08.00 WIB. Tapi ternyata mundur lagi sampai jam 10.00 WIB baru berangkat," imbuhnya.
Haryono menjelaskan, travel yang ditumpanginya masuk ke kapal menjelang pukul 09.00 WIB.
"Sampai di kapal itu saya sempat ketiduran sebentar bermimpi yang paling aneh ini kapal tenggelam, wah siang bolong mimpi kayak gitu. Tapi saya anggap angin lalu saja terus saya tinggal ngerokok," ungkap Haryono.
Kapal berangkat sekitar pukul 10.00 WIB. Haryono sempat menikmati makanan yang disediakan kapal sebelum akhirnya ketiduran di ruang tidur ekonomi lesehan.
Detik-detik Kapal Tenggelam
Pada pukul 01.00 WIB, Minggu (13/9), Haryono terbangun karena mendengar suara yang mengatakan kapal tenggelam.
"Waktu itu ada sebelah saya yang membangunkan temannya bilang 'kapal mau tenggelam, bangun dulu!'," ucap Haryono.
Mendengar hal itu, Haryono langsung terperanjat. Dia buru-buru mencari jaket pelampung dan memakainya.
"Begitu saya bangun langsung yang saya cari itu jaket pelampung. Begitu sudah pakai jaket pelampung baru saya mau keluar dari ruangan tidur ekonomi lesehan," ujar Haryono.
Haryono sempat kesusahan keluar dari ruangan itu karena kapal sudah miring dengan posisi pintu keluar ruangan mengarah ke atas. Dia sempat berupaya membuat tatakan agar dapat menggapai besi di samping pintu keluar.
Haryono sempat hilang harapan sesaat karena gagang besi yang dia tuju tidak tergapai. Namun tiba-tiba dia merasa ada yang mendorongnya dari bawah sehingga dia dapat memegang besi itu untuk keluar ruangan.
"Tapi saya enggak tahu yang mendorong itu bapak-bapak yang di belakang atau yang lain saya kurang tahu karena setahu saya hanya ada dua orang itu, bapak-bapak sama ibu-ibu yang sudah tua itu," tambahnya.
Setelah berhasil keluar ruangan, Haryono masih harus melewati anak tangga. Saat itulah dirinya mengalami sejumlah luka karena terlempar sebab kapal yang semakin miring.
"Setelah sampai di atas, saya mau keluar harus melewati tangga. Sampai di tangga itu saya kapal posisinya sudah hampir 90 derajat. Saya seperti dilempar. Dilempar, jatuh, kena besi pengaman yang ada di pinggir anu itu, pinggir tangga itu," ungkap Haryono.
"(Lengan kiri) ini sampai luka. Tapi ini lukanya sudah sembuh karena sudah satu minggu. Kemarin ini biru semua, sama bengkak. Habis (kena lengan) ini kelempar lagi punggung saya yang kena. Sampai sekarang masih agak nyeri-nyeri. Tapi ya tetap tidak saya rasakan yang penting pikiran saya ini hanya selamat, selamat dan selamat," imbuhnya.
Haryono mengingat betul kapal sudah dalam posisi miring saat dirinya berhasil tiba di bagian atas. Tak berselang lama, dia lalu terlempar dari kapal itu.
"Begitu sampai atas, posisi kapal itu sudah miring hampir 90 derajat. Nah, saya itu waktu itu di atas. Aku sudah pakai jaket pelampung. Hanya selang berapa menit itu enggak ada 10 menit, sekitar 5 menitan, kapal ini sudah mulai miring-miring dan tengkurap ini. Keadaan waktu itu kan gelombang tinggi. Pas mau turunnya ini saya dihantam ombak. Langsung kelempar masuk ke laut," beber Haryono.
Haryono merasa dirinya tenggelam cukup dalam karena lemparan itu. Dia mengaku sampai harus meminum air laut hingga tiga kali saat berupaya berenang naik ke permukaan
"Kebetulan waktu itu di depan saya ada almari ini, loker yang di terapung di depan saya. Akhirnya saya naik ke situ, naik ke almari loker itu. Sudah saya di situ nongkrong sendiri. Tapi (korban lain) yang di air itu kemungkinan juga banyak karena saya sendiri juga enggak tahu posisinya, waktu itu kan gelap gulita dan gelombang tinggi," tuturnya.
(dil/alg)