Pamit Kerja di Kebun Sawit, 3 Pemuda Karanganyar Jadi Korban Kapal Virgo

Pamit Kerja di Kebun Sawit, 3 Pemuda Karanganyar Jadi Korban Kapal Virgo

Agil Trisetiawan Putra - detikJateng
Kamis, 17 Sep 2026 19:39 WIB
Camat Jaten mengunjungi korban kapal Virgo di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Kamis (17/9/2026).
Camat Jaten mengunjungi korban kapal Virgo di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Kamis (17/9/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
Karanganyar -

Tiga pemuda asal Desa Ngringo, Jaten, Karanganyar, yang menjadi korban kecelakaan kapal Virgo Transport 8 rute Surabaya-Banjarmasin di perairan Laut Jawa hingga kini belum ditemukan. Mereka dalam perjalanan merantau untuk bekerja di kebun sawit Kalimantan.

"Sampai hari ini belum ada informasi terkait (hasil pencarian) warga saya. Ada tiga (penumpang dari Desa Ngringo). Akan terus kita pantau perkembangannya," kata Camat Jaten, Dahono, kepada awak media di Desa Ngringo, Kamis (17/9/2026).

Tiga pemuda itu bernama Ahda Dhiyaurrohman (18), Aldo Nurahmansya (19), dan Jevon Joechelin Jotham (19). Kades Ngringo, Apri Linawati, menjelaskan Jevon alamat KTP-nya di Dusun Benowo, tapi domisilinya di Dusun Karangrejo. Ahda alamat KTP-nya di Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres, Solo, tapi tinggal di Desa Ngringo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Informasi dari keluarga, dulu sebelum menetap di Ngiringo, sempat punya (tinggal) di rumah kontrakan di Gandekan, Jebres," ucap Lina.

ADVERTISEMENT

Adapun Aldo alamat KTP-nya di Kelurahan Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Solo. Aldo sempat pindah KTP untuk memudahkan dalam mencari sekolah, tapi tempat tinggal orang tuanya di Desa Ngringo.

"Berdasarkan keterangan dari orang tua kenapa bisa KTP di Solo, itu dalam rangka memudahkan mencari sekolah. Sehingga awalnya tidak sempat terdeteksi karena secara manifestnya di Solo. Padahal alamat domisilinya di Ngringo," jelasnya.

Ayah Ahda, Nurul Bahri (45), mengatakan putranya dan Jevon diajak bekerja di perkebunan sawit oleh Aldo. Mereka berangkat dari Solo pada Kamis (10/9) lalu.

"Dia diajak temannya (merantau). Iya (diajak Aldo). Dia sempat ke rumah Aldo, kemudian ke Tirtonadi naik travel ke Semarang. Dia bilang ingin kerja di Kalimantan, di sawit," kata Bahri.

Di Semarang, mereka mendapat pendidikan bersama pekerja yang lain sebelum berangkat ke Kalimantan lewat Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, naik Kapal Virgo Tansport 8 pada Sabtu (12/9).

Sebelum berangkat, Ahda juga sempat pamit kepada saudara, tetangga, dan saudaranya. Disaat terakhir, Bahri sempat membujuk Ahda untuk tidak berangkat, namun keteguhan niat putranya untuk bekerja tetap tidak luntur.

"Sebelum berangkat saya bilang oke lah. Terus dia pamitan, salaman, sampai pelukan erat. Dan saya bilang ke Ahda, maafin Abi ya kamu bisa jadi tidak ketemu Abi lagi, atau Abi bisa jadi tidak ketemu Adha lagi. Itu saat pelukan erat," ucapnya.

Alasannya orangtua tidak memberikan izin, karena Ahda belum lulus sekolah. Namun anaknya ingin segera mandiri.

"Dia tidak ingin merepotkan orang tua. Dia banyak keinginan, kayak pengin beli motor RX-King, meski sudah kami kasih motor. Aku pengin beli baju, celana, aku nggak pengin minta uang Abi, aku pengin pakai uangku sendiri, aku pengin kerja," ujar Bahri.

Saat di Semarang, Ahda masih sempat menghubungi keluarga, bahkan sempat meminta dibelikan paket internet. Ahda juga sempat menghubungi saat akan pergi ke Tanjung Perak.

Saat hendak menaiki kapal, Ahda sempat mengirimkan video suasana di dermaga pelabuhan Tanjung Perak pada Sabtu pagi. Itu menjadi komunikasi terakhir keluarga dengan Ahda.

"Minggu pagi saya coba WA, itu sampai sore centang satu," ujarnya.

Opsi Membalik KM Virgo Butuh Waktu 24 Jam

Dilansir detikKalimantan, pencarian korban hilang KM Virgo Transport 8 di laut Jawa terus dilakukan. Namun, operasi under water yang menjadi salah satu opsi pencarian terus tidak bisa dieksekusi. Hal ini membuat Basarnas mencari opsi lain untuk proses evakuasi 129 korban lainnya yang masih dinyatakan hilang.

Kepala Basarnas RI Mohammad Syafii mengatakan bahwa opsi lain untuk pencarian korban hanya dengan Self-Righting Kit atau membalik kapal seperti semula. Namun, ia menyebut proses ini akan memakan waktu yang tidak sebentar.

"Kemarin disampaikan tim ahli yang memiliki pengalaman andai semua lancar, proses self kit ini akan memakan waktu kira-kira 24 jam," ujar Syafii, Rabu (16/9/2026).

Namun, apabila ada kesulitan dalam pelaksanaan operasi Self Kit, maka tidak menutup kemungkinan akan memakan waktu yang lebih lama lagi. Sehingga saat ini pihaknya masih mempertimbangkan untuk mengambil opsi penyelamatan lain.

"Apabila (dalam operasi) ada kesulitan akan memakan waktu beberapa lama lagi, dan kita tidak tau kondisi apa yang akan kita hadapi nanti, itu adalah rencana yang akan kita laksanakan dan berproses," tegasnya.

Diketahui, sejak hari kedua pencarian 129 korban hilang Kapal Virgo, opsi penyelaman telah dipilih untuk memeriksa bagian dalam kapal. Namun, Syafii mengungkapkan opsi itu belum bisa dilaksanakan karena kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi yang membuat operasi penyelaman ditunda.

Hingga memasuki hari ke empat pencarian, opsi penyelaman terus direncanakan untuk dilaksanakan. Namun, cuaca dan kecepatan arus melebihi batas maksimal yakni seharusnya 0,5 knot. Namun, Syafii menegaskan berbagai upaya akan ditempuh untuk proses pencarian para korban.



(dil/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads