Job Fair Jawa Tengah (Jateng) di Kota Semarang diikuti para pencari kerja dari berbagai usia dan latar belakang. Beberapa pencari kerja mengikuti Job Fair dan berkeluh kesah sulitnya mencari kerja karena terbatas usia.
Salah satunya warga Kota Semarang, Trisnadi (51). Meski memiliki pendidikan S2 Kenotariatan Universitas Diponegoro (Undip) dan pengalaman bekerja di perusahaan besar, dia mengaku masih susah mencari kerja.
"Saya cari pekerjaan untuk nyambung hidup. Saya sudah pernah kerja sekitar 5 tahunan yang lalu," kata Trisnadi di Job Fair Jateng, Kamis (17/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trisnadi mengaku, sebelumnya bekerja sebagai legal officer salah satu operator seluler di Semarang dan bekerja di bidang HRD di perusahaan di Magelang. Namun, ia harus berhenti saat pandemi COVID-19, sehingga sejak itu dia lebih banyak berada di rumah.
"Waktu itu (berhenti) masa Corona. Banyak penonaktifan, karena faktor Corona. Boleh dikatakan PHK waktu itu," ujarnya.
Selama vakum bekerja, kata Trisnadi, ia mengaku aktif sebagai pekerja sosial sambil merawat orang tuanya. Dia kemudian kembali mencari pekerjaan setelah kondisi keluarganya memungkinkan.
"Sebenarnya ada kesempatan, tapi di rumah itu membantu orang tua. Jadi sudah, saya menunda dulu," katanya.
Kini, dia mencari pekerjaan di bidang yang masih sesuai dengan pengalamannya, seperti HRD maupun legal. Namun meski sudah beberapa kali mengikuti job fair dan melamar pekerjaan, ia terhambat batas usia.
Suasana para pencari kerja di Job Fair Jateng, di Lapangan Parkir Eks E-Plaza, Kecamatan Semarang, Kota Semarang, Kamis (17/9/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
"Kesulitannya ya karena lihat umur saya 51. Tapi saya karena ada S2 Kenotariatan di Undip, jadi ada rasa percaya diri sedikit, pendidikannya tidak hanya S1, berani tawar menawar soal faktor umur, barangkali punya bargaining position" ujarnya.
Trisnadi juga mengatakan dirinya terbuka untuk menyesuaikan posisi maupun gaji dengan kesempatan kerja yang tersedia. Namun, ia mencari perusahaan yang berada di Kota Semarang agar tak keluar kota.
"Soal kemampuan mungkin bisa diadu lah dengan yang muda. Kalau soal biaya atau gaji, saya boleh diturunkan nggak apa-apa. Sebenarnya sudah ada panggilan, tapi jaraknya jauh, orang tua saya hampir 90 tahun," ungkapnya.
Dia berharap, perusahaan tak semata-mata menggunakan batas usia sebagai penentu awal dalam proses rekrutmen. Menurutnya, kemampuan dan pengalaman pelamar juga perlu dipertimbangkan.
"Semoga saya bisa cepat keterima kerja. Kerja apa adanya lah," katanya.
Pengalaman serupa disampaikan Solikin (39), warga Bandarharjo, Semarang Utara. Pria yang memiliki latar belakang SMK Akuntansi dan D1 Teknisi Komputer itu juga tengah mencari pekerjaan setelah kontraknya di perusahaan sebelumnya berakhir.
"Saya dulu kerja di bidang farmasi tapi warehouse, dari tahun 2018. Kontraknya habis Juli kemarin. Sudah dua bulan berhenti kerja, aktivitasnya selama ini kerja serabutan di bengkel kapal, harian lepas gitu," ungkapnya.
Dia mengungkapkan, salah satu kesulitan mencari pekerjaan saat ini adalah banyak perusahaan menetapkan batas usia pelamar maksimal 35 tahun.
"Susah cari kerja. Maksimal sekarang 35 tahun, saya 39 tahun. Jadi sebelum coba hari ini sudah lamar ke mana-mana, tanya teman juga, tapi katanya maksimal 35 tahun," kata Solikin.
"Harusnya untuk ke depan bisa untuk cari yang pengalaman aja, dilihat dulu, nggak berdasarkan usia saja. Siapa tahu mungkin usia segitu tapi masih mampu. Coba dulu," harapnya.
Solikin mengatakan, dirinya bersedia bekerja di berbagai posisi yang sesuai dengan kemampuan dan pengalamannya. Dia juga telah membawa CV saat mendatangi Job Fair Jateng.
"Saya pernah di perhotelan 6 tahun, di leasing, di supermarket, ganti-ganti, tapi nggak perpanjang juga. Ada job fair ini sudah bagus, cuma kadang pencari kerjanya banyak, tapi lowongannya nggak sesuai sama yang kita cari," ucapnya.
"Jumlahnya juga nggak sepadan. Terus giliran dapat mungkin outsourcing, kontrak habis, terus nggak diperpanjang," sambungnya.

