Doa Bersama Jurnalis Semarang untuk Rekan yang Hilang di Selat Sunda

Doa Bersama Jurnalis Semarang untuk Rekan yang Hilang di Selat Sunda

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Rabu, 16 Sep 2026 20:42 WIB
Suasa aksi doa bersama para jurnalis Kota Semarang di Patung Kuda Undip Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Rabu (16/9/2026).
Suasa aksi doa bersama para jurnalis Kota Semarang di Patung Kuda Undip Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Rabu (16/9/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Kami turut berduka atas musibah ini. Memasuki hari kesembilan operasi SAR, kami masih berharap kelima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat," kata Koordinator KKJ Jateng-DIY, Raditya Mahendra Yasa, di Patung Kuda Pleburan, Semarang, Rabu (16/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Doa bersama itu digelar di sekitar Patung Kuda Undip Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, malam ini. Kegiatan itu diikuti para jurnalis, pers mahasiswa, dan masyarakat Kota Semarang.

Mereka duduk melingkar sambil menyalakan lilin dan membawa poster solidaritas. Beberapa poster itu bertulisan 'Tak Ada Berita Seharga Nyawa', Di Mana Pun Berada, Doa Kami Menyertai', 'Pastikan Jurnalis yang Bertugas Berangkat dan Pulang Selamat'.

ADVERTISEMENT

Mahendra mengatakan, doa bersama digelar sebagai bentuk dukungan kepada delapan orang yang masih dalam pencarian serta untuk keluarga mereka.

Mahendra mengajak masyarakat dan para jurnalis untuk terus mengirimkan doa bagi para jurnalis, awak kapal, dan keluarga mereka. Ia juga mengatakan, peristiwa itu menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya keselamatan dalam kerja jurnalistik.

"Peristiwa ini sekaligus menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa tidak ada berita yang seharga dengan nyawa," ujarnya.

Menurutnya, jurnalis memang memiliki tanggung jawab menyampaikan informasi kepada publik, termasuk dari lokasi bencana. Namun, keselamatan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kerja jurnalistik.

Suasa aksi doa bersama para jurnalis Kota Semarang di Patung Kuda Undip Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Rabu (16/9/2026).Suasa aksi doa bersama para jurnalis Kota Semarang di Patung Kuda Undip Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Rabu (16/9/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

"Kecepatan dan eksklusivitas berita tidak boleh ditempatkan di atas keselamatan manusia," ujarnya.

Ia turut mengimbau jurnalis dan pers mahasiswa untuk berhati-hati saat meliput situasi rawan, terutama bencana alam.

"Sebelum berangkat, jurnalis perlu memahami kondisi lokasi, potensi bahaya, perkembangan cuaca, serta informasi dan peringatan dari otoritas terkait," imbaunya.

Jurnalis juga disebut perlu memastikan redaksi atau rekan kerja mengetahui lokasi dan rencana peliputan. Selain itu, komunikasi, jalur evakuasi, dan perlengkapan keselamatan perlu disiapkan sesuai kondisi lapangan.

"Jika situasi berubah menjadi berbahaya, jurnalis harus berani menghentikan peliputan dan tidak memaksakan diri demi mendapatkan gambar atau informasi eksklusif," ucapnya.

Mahendra juga menekankan, keselamatan jurnalis bukan hanya tanggung jawab pekerja pers di lapangan, tetapi juga perusahaan media. Ia mendesak perusahaan media tak memberikan penugasan di wilayah bencana tanpa melakukan penilaian risiko dan menyiapkan mitigasi keselamatan.

"Perusahaan media harus memastikan jurnalis mendapatkan informasi mengenai potensi bahaya, perlengkapan keselamatan, prosedur komunikasi dan evakuasi, serta dukungan yang diperlukan selama dan setelah peliputan," jelasnya.

Perusahaan media juga dinilai perlu membekali jurnalis dengan pelatihan peliputan kebencanaan, pertolongan pertama, dan bila diperlukan pelatihan survival di lokasi bencana.

"Penugasan tidak boleh sekadar berbunyi 'berangkat dan liput', tanpa mempertimbangkan risiko yang mungkin dihadapi jurnalis," kata dia.

Dia pun berharap, hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut menjadi pengingat bagi seluruh ekosistem pers mengenai pentingnya keselamatan dalam setiap penugasan.

"Kami tetap berharap dan berdoa agar seluruh jurnalis dan awak kapal yang masih hilang dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat," jelasnya.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang, Aris Mulyawan mengatakan aksi doa bersama malam ini juga menjadi bentuk pengharapan bagi stakeholder terkait untuk membantu mencari para korban.

"Kami berharap semoga semoga kawan-kawan kita segera ditemukan dan kami memohon kepada pemerintah, stakeholder maupun pihak terkait, untuk terus mencari kawan kita sampai ketemu," harapnya.

Sekretaris Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Semarang, Aprilio Akbar menambahkan, aksi solidaritas itu menjadi doa agar para jurnalis bisa kembali dengan selamat.

"Menggelar doa dan menyalakan lilin harapan sebagai bentuk solidaritas kami untuk terus optimis dan berharap bahwa teman-teman kami, kelima jurnalis dan tiga awak kapal, dapat ditemukan dalam kondisi selamat, serta sehat dan kembali ke keluarga masing-masing," harapnya.



(afn/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads