Empat siswa diduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati masih dirawat di rumah sakit. Mereka masih mengeluh nyeri di perut dan mual-mual.
"Memang masih nyeri di perut dan mual-mual memang pengaruh dari bakteri dan masa inkubasi bakteri ada yang 3 hari ada yang 1 minggu seperti mual dan nyeri-nyeri," kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pati, Sugiyono saat dimintai konfirmasi lewat pesan singkat, Senin (14/9/2026).
Sugiyono mengatakan empat pasien tersebut terus mendapatkan perawatan intensif. Ia meminta doanya agar para pasien ini segera pulih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semoga hari ini pulang tinggal menunggu dokter visite," ucapnya.
Sugiyono menuturkan ada 427 siswa dari sejumlah sekolah di Kecamatan Gembong yang mengalami keracunan MBG pada Selasa pekan lalu.Dari jumlah tersebut ada yang menjalani rawat inap dan juga rawat jalan.
"Bergejala ada 427 orang, yang rawat inap ada 4 orang, dari SMP Negeri 1 Gembong ada 2 orang dan 2 orang dari MTS Manbaul Ulum Gembong," jelasnya.
Sementara yang masih dirawat jalan ada 25 orang. Sedangkan itu dari 426 siswa lainnya sudah dinyatakan sembuh.
"25 orang rawat jalan dari SMP Negeri 1 Gembong ada 3 siswa, MTS Negeri 3 Pati ada 17 siswa, MTS Manbaul Ulum 3 siswa, posyandu 1 orang ibu menyusui, dan SDN Gembong 3 ada 1 siswa," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Pati menetapkan kejadian luar biasa (KLB) usai ratusan siswa dari dua sekolah di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati yang diduga keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dilakukan untuk memastikan penanganan siswa yang diduga keracunan secara maksimal.
"Karena menyangkut keselamatan korban dan (jumlah penderita ratusan) kasus tersebut masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB)," kata Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra dalam keterangan resmi kepada wartawan, Kamis (10/9).
Chandra mengatakan adapun untuk pembiayaan penanganan dalam kondisi darurat dapat menggunakan belanja tidak terduga terlebih hal ini menyangkut keselamatan korban dan kasus tersebut masuk dalam kategori KLB.
"Prioritas kami saat ini adalah memastikan seluruh siswa dan guru yang mengalami keluhan telah mendapatkan penanganan dan memastikan kondisi mereka terus terpantau," jelas dia.
