Pakar Unnes Kritik Keras Bu Guru Terekam Indehoy Masih Ngajar

Pakar Unnes Kritik Keras Bu Guru Terekam Indehoy Masih Ngajar

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Jumat, 11 Sep 2026 16:45 WIB
Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Edi Subkhan, S.Pd., M.Pd.
Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Edi Subkhan, S.Pd., M.Pd. Foto: Dok Pribadi
Semarang -

Bu Guru di Pekalongan yang terekam CCTV sedang mesum dengan kepala sekolah masih mengajar. Pakar pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes) Edi Subkhan menilai hal itu bisa memicu krisis kepercayaan siswa terhadap guru.

"Akan ada degradasi rasa percaya dari siswa ke guru, akan muncul keraguan, dan bahkan keengganan ketika diminta oleh guru melakukan hal-hal baik," kata Edi saat dihubungi detikJateng, Jumat (11/9/2026).

Direktur Pusat Kajian dan Kurikulum FIPP Unnes itu menyebut, siswa bisa mempertanyakan sosok yang layak dijadikan teladan, jika guru dan kepala sekolahnya justru berperilaku tak patut di sekolah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena toh ada oknum guru yang baik di muka siswa, di kelas, tapi ternyata di balik itu berperilaku tidak patut," lanjut Edi.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, tindakan tersebut tidak hanya berdampak kepada guru yang bersangkutan, tetapi juga dapat mencoreng nama baik sesama pendidik dan sekolah. Terlebih, kepala sekolah seharusnya menjadi figur teladan.

"Bagi guru, bukan hanya pelaku yang pasti malu, tapi sesama guru juga pasti menanggung malu akibat perbuatan teman seprofesinya," ucapnya.

Dosen Prodi Teknologi Pendidikan itu pun menyoroti sanksi kepada guru yang hanya berupa pemindahan atau mutasi terhadap guru yang terlibat. Menurutnya, sanksi pemindahan itu tak cukup.

"Menurut saya hal yang perlu dilakukan bukan sekadar memindah guru saja. Tapi perlu disidang etik oleh organisasi guru di mana ia bernaung," ucapnya.

"Guru itu juga patut mendapatkan sanksi tegas sesuai dengan kode etik ASN, yang bisa saja berujung pada pemberhentian keduanya," imbuhnya.

Edi menilai keduanya secara telah sengaja mencoreng marwah pendidikan. Oleh karena itu, kasus ini perlu ditangani serius.

"Kalau dari sisi rekrutmen dan pembinaan kepala sekolah, terutama terkait profesionalitas kerja, sudah lumayan oke. Tapi, kasus tindak asusila tersebut memang di luar domain profesionalitas," ucap lulusan program doktor di Universitas Otago, Selandia Baru ini.

Menurutnya, perbuatan itu sudah masuk dimensi kepribadian masing-masing. Sementara perilaku yang berkaitan kerap lebih sulit dinilai, diukur, dan diawasi.

"Oleh karena itu, selain peningkatan profesionalitas kerja, menurut saya juga perlu upaya peningkatan kapasitas kepribadian guru, termasuk dan apalagi kepala sekolah," sarannya.

Edi juga menilai, dinas pendidikan perlu melakukan evaluasi terhadap sistem pengawasan sekolah agar kasus serupa dapat dicegah. Pemasangan CCTV juga menjadi penting untuk merekam tindakan-tindakan tak patut di lingkungan sekolah.

"CCTV perlu direview secara periodik untuk melihat hal-hal yang janggal terkait perilaku siswa, potensi bullying, atau bahkan perilaku guru," tuturnya.

Selain pengawasan menggunakan CCTV, budaya saling mengingatkan antarpendidik juga penting. Penguatan kepribadian dapat dilakukan lewat pembinaan, termasuk kegiatan keagamaan, seperti siraman rohani.

"Tapi selain itu juga bisa dilakukan dengan membangun lingkungan sekolah yang berbudaya dan menjunjung tinggi marwah pendidikan. Nah, yang ini lebih sulit, karena sesama guru harus saling menghormati, mengingatkan, menasehati," ucapnya.

Diketahui, hingga saat ini, rekomendasi sanksi untuk kepala sekolah dan bu guru yang terekam CCTV ngeseks di ruangan SD di Kedungwuni Pekalongan belum keluar. Si kepsek dimutasi ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Pekalongan, sementara bu guru dimutasi ke sekolah lain.

"Ya, nantinya sembari menunggu rekomendasi (sanksi), otomatis kami mutasi dulu," ujar Kepala Dindikbud Kabupaten Pekalongan, Kholid, saat dihubungi, Rabu (9/9).

"Hari ini guru perempuan tersebut berangkat mengajar. Ya, mengajar kelas satu SD, di sekolah berbeda" kata Kholid.



(afn/ams)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads