Paku Buwono XIV Mangkubumi telah menyelesaikan seluruh rangkaian kenaikan takhta atau jumenengan pada hari ini. Dalam jumenengan hari ini turut dihadiri Raja-raja Nusantara, termasuk perwakilan dari Keraton Jogja hingga Pakualaman.
Pengageng Sasana Wilapa Paku Buwono XIV Mangkubumi yang juga Ketua LDA GRAy Koes Murtiyah atau Gusti Moeng mengatakan persiapan Jumenengan dilakukan selama sepekan.
"Alhamdulillah sudah jangkep selesai. Persiapan sebetulnya saya ya satu minggu untuk keseluruhan ini, memang kami juga menginginkan supaya tidak ada yang kececer. Semua protokol keraton itu kan bersumber dari gamelan," ujarnya di Keraton Solo, Sabtu (5/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam persiapan sepekan itu, Gusti Moeng mengatakan ada total 13 perangkat dikeluarkan. Menurutnya, ada satu perangkat gamelan langka dari zaman Sunan Paku Buwono (PB) IX tahun 1872 yang baru dikeluarkan kembali pada momen kali ini.
Gamelan bernama Kyai Udan Arum dan Udan Asih itu disimpan di Pradonggolor (Pusat Musik).
"Gamelan itu juga biasa dipakai mengiringi beliau saat memainkan wayang, karena beliau pintar mendalang juga," lanjutnya.
Gusti Moeng mengungkap tanggal pelaksanaan jumengan ini sudah dihitung sejak sebulan lalu melalui perhitungan hari kelahiran Sinuwun dan hari berdirinya keraton. Dalam prosesi ini, Paku Buwono XIV Mangkubumi juga mengucapkan ikrar penting terkait garis kepemimpinan.
"Tanggal itu sebetulnya sudah kita cari sejak sebulan yang lalu. Cuma, hari yang paling baik-dihitung dari hari kelahiran Sinuwun dan hari berdirinya keraton jatuhnya ya hari ini," terangnya.
Dia menjelaskan prosesi Jumenengan PB XIV Mangkubumi dimulai dari dalam Keraton Solo lalu keluar menuju Pagelaran dan Siti Hinggil mengucapkan ikrar.
"Tadi kan prosesinya keluar langsung menuju ke Pagelaran berdiri di Watu Gilang juga mengucapkan hal yang sama seperti di Siti Hinggil Manguntur Tangkil, di sana kan para pangrawit diiringi dengan tampilan-tampilan.
Alhamdulillah, ada beberapa pusaka yang dimiliki oleh keraton dan tersimpan di beberapa tempat, kami kumpulkan untuk mengiringi Sinuhun tadi," jelasnya.
"Intinya, beliau bersumpah untuk meneruskan benang merah dari Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram. Beliau bersumpah untuk bisa menjadi pengayom dan menjadi pengikat semua sentono serta abdi dalem yang hadir saat itu kami batasi sekitar 2.500 orang," jelasnya.
Alasan Tanpa Kirab
Terkait ketiadaan kirab keliling kota dalam rangkaian acara hari ini, Gusti Moeng menjelaskan bahwa hal tersebut berkaitan dengan proses revitalisasi yang masih berjalan.
"Saya memang menyampaikan kepada pemerintah, dalam hal ini kepada Pak Menteri Kebudayaan, supaya menyampaikan kepada Bapak Presiden bahwa kami ini sedang menyelesaikan upacara adat yang harus kami penuhi. Nanti kirabnya dilaksanakan setelah selesai revitalisasi, insyaallah begitu," ungkapnya.
Selain itu, ada pula pergantian busana atau ageman yang dikenakan oleh PB XIV Mangkubumi selama prosesi di Siti Hinggil dan Sasana Sewaka.
"Kalau yang tadi itu Sekepan Ageng, sedangkan yang ini Takwo. Nggih, karena di sini posisinya lenggah siniwoko. Kalau di sana kan di Manguntur Tangkil. Memang beda, biasanya kalau ageman seperti itu langsung dirap. Tapi karena beliau tidak kirap, ya hanya sampai di Pagelaran saja," paparnya.
Ditanya mengenai tanggal tingalan jumenengan, Gusti Moeng mengaku akan melakukan rembukan terlebih dahulu. Menurutnya, Jumenengan PB XIV Mangkubumi sudah dilaksanakan pada 13 November 2025 dan hari ini untuk melengkapi prosesi Jumenengan.
"Itu akan kami rembuk bersama, karena sebetulnya kita kan sudah jumeneng pada tanggal 13 November 2025. Nah, ini judulnya untuk melengkapi upacara jumenengnya Sinuhun XIV ngaten. Nggih, matur nuwun," pungkasnya.
