Puluhan siswa Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Srebegan dan Cetan, Kecamatan Ceper, Klaten mengalami gejala keracunan usai santap menu MBG. Untuk sementara operasional SPPG Kurung, Kecamatan Ceper dihentikan.
"Sudah kami sampaikan ke beberapa pihak, setelah kejadian SPPG dihentikan operasionalnya," ungkap Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Klaten, Yoga Angga Pratama kepada detikJateng di ponselnya, Jumat (4/9/2026) siang.
Dijelaskan Yoga, setelah persitiwa tersebut, pihaknya langsung melakukan investigasi lapangan. Hasil pendataan ada 64 siswa bergejala.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Per hari ini jumlah total terdampak ada 64 orang. Yang berobat 21 orang dan tidak ada yang dirawat inap," lanjut Yoga.
Penghentian operasi SPPG itu, terang Yoga belum bisa dipastikan sampai kapan. Sebab pihaknya juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
" Belum bisa dipastikan sampai kapan. Hasil laboratorium nanti sebagai lampirannya, bisa lima sampai tujuh hari," jelasnya.
"Saat ini kami fokus ke siswa lebih dulu, untuk memastikan baik- baik saja semuanya," imbuh Yoga.
Diberitakan sebelumnya, puluhan siswa dari Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Srebegan dan MIM Cetan, Kecamatan Ceper, Klaten diduga keracunan makanan program MBG. Siswa dua sekolah mengalami gejala mual dan pusing.
Narni, orang tua siswa mengatakan dirinya dikabari pihak sekolah sekitar pukul 09.30 WIB. Karena khawatir, langsung datang ke sekolah.
"Sekitar pukul 09.30 WIB tadi dikabari sekolah. Anak saya mual dan muntah," kata Narni kepada detikJateng di lokasi, Kamis (3/9/2026) siang.
"Tadi sudah membaik dikasih obat. Sudah boleh pulang," ungkap Narni.
Siswi MIM Srebegan, Aqila mengatakan sebelum mual, dirinya makan MBG. Menunya ikan dori, nasi, tahu, sayur dan buah semangka.
"Tadi makan ikan sama nasinya saja. Tadi nggak ada rasanya," katanya kepada detikJateng.
Orang tua siswi MIM Cetan, Tria mengatakan dirinya kaget saat mau menjemput anaknya yang duduk di kelas 3 dan mengetahui ada kejadian tersebut. Anaknya hanya pusing kemudian langsung diberikan obat.
"Hanya pusing tidak sempat muntah karena dikasih obat. Katanya makan ikan dori, sama dengan di Srebegan karena satu dapur (SPPG)," jelas Tria kepada detikJateng.
Yayasan Sridaya Amanah Sejahtera selaku pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menduga ikan dori kemasan jadi pemicunya.
"Tadi saya sudah sidak di lokasi, saya tanyai SPPI, ahli gizi, saya tanya semuanya. Penyebabnya bukan masalah masakan, bukan human error, bukan masalah kebersihan, bukan masalah standarisasi dan yang lainnya, cuma tadi memang beli ikan dori di kemasan, padahal saya sudah menganjurkan jangan beli daging di kemasan," jelas ketua Yayasan Sridaya Amanah Sejahtera, Bambang Sridaya kepada wartawan di SPPG.
"Saat disajikan rasanya ada basi-basi. Tidak saya sebut belinya dari mana tapi di atas bagus di tengah basi," imbuhnya.
Bambang menegaskan selama ini SPPG yang dikelolanya sudah diawasi secara ketat. Jadi penyebabnya bukan SPPG kurang bersih karena semua sudah distandarisasi.
"Bukan karena SPPG kurang bersih atau apa karena semua sudah distandarisasi, sudah kita pantau cuma ya itu beli dagingnya itu kemasannya. Biasanya kita beli sesuai standarisasi fresh semua, anjuran dari pusat semua fresh," papar Bambang.
