Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) membagikan kisah perjalanan hidupnya saat memberikan motivasi kepada ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Zulhas mengingatkan mahasiswa bahwa kesuksesan tidak ditentukan semata oleh kampus maupun dosen, tetapi keberanian setiap individu dalam menentukan masa depannya.
Zulhas bahkan bercerita dirinya pernah tidak menyelesaikan pendidikan di Pendidikan Guru Agama (PGA). Saat itu, dia mengaku kesulitan mengikuti pelajaran bahasa Arab hingga memilih sering bolos.
"Saya saja PGA itu tidak lulus. Cuma sampai 3,5 tahun karena ada pelajaran bahasa Arab, susah, tidak sanggup saya. Asal pelajaran bahasa Arab saya bolos, sehingga tidak bisa lanjut," kata Zulhas di hadapan mahasiswa UMP, Selasa (1/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski tidak lulus PGA, perjalanan hidup Zulhas kemudian membawanya menduduki sejumlah jabatan penting. Ia pernah menjadi Ketua MPR selama lima tahun, Menteri Perdagangan, hingga kini dipercaya sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan.
"Yang nggak lulus PGA saja bisa jadi Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia. Sebelumnya menjadi Ketua MPR lima tahun. Pernah jadi Menteri Perdagangan," ujarnya.
Menurut Zulhas, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa masa depan seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh kondisi pendidikan pada masa lalu.
"Hidup itu milih. Kamu milih masa depanmu tergantung kamu," katanya.
Karena itu, Zulhas meminta mahasiswa baru UMP tidak hanya merasa bangga bisa diterima di kampus, tetapi juga memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik-baiknya.
"Kampus UMP boleh keren, rektor boleh hebat, dekan boleh hebat, dosen boleh hebat, sukses atau tidak tergantung dirimu masing-masing," tegasnya.
Zulhas juga menekankan pentingnya keberanian bagi anak muda yang ingin meraih kesuksesan. Menurut dia, tidak ada perjalanan menuju keberhasilan yang benar-benar lurus dan mudah.
"Orang sukses itu, satu yang penting berani dulu, berani ambil risiko. Tapi tidak ada jalan yang lurus. Untuk menuju kesuksesan jalannya berliku. Menuju keberhasilan jalannya penuh tantangan," jelasnya.
Ia kemudian menceritakan kondisi dirinya ketika masih muda. Zulhas mengaku sudah memiliki penghasilan sejak berusia sekitar 19-20 tahun, meski perjalanan pendidikannya tidak berjalan mulus.
"Saya usia 19-20 tahun sudah punya penghasilan. Kalau uang sekarang, baru lulus SMA, kuliah saya 13 tahun baru lulus S1. Tapi saya sudah punya penghasilan semester satu kuliah, kalau uang sekarang Rp 1 miliar satu bulan," ungkap Zulhas.
Ia juga mengenang masa sekolahnya ketika harus berjalan kaki setiap hari. Saat bersekolah di PGA, Zulhas mengaku berjalan kaki sekitar 3,3 kilometer untuk berangkat dan jarak yang sama ketika pulang.
"Saya sekolah PGA itu tadi jalan kaki, pergi 3,3 kilometer, pulang 3,3 kilometer jalan kaki. Tapi sekarang itulah yang membentuk kepribadian kita," tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Zulhas juga menyinggung ketatnya persaingan dunia kerja yang akan dihadapi generasi muda. Dia meminta mahasiswa tidak terpaku pada satu jenis pekerjaan atau profesi.
Menurutnya, peluang justru terbuka luas jika anak muda mampu melihat berbagai bidang yang bisa dikembangkan.
"Begitu luas Allah kasih berbagai bidang peluang. Di pertanian tidak hanya nanam padi. Dia bisa menjadi agen, macam-macam. Bisa logistiknya, bisa olahannya, bisa teknologinya. Begitu luas lapangan peluang," ujarnya.
Dia menilai persaingan akan semakin sempit apabila semua orang hanya mengejar profesi yang sama. Sebaliknya, keberanian untuk masuk ke bidang-bidang baru dapat membuka peluang yang lebih besar.
"Asal mau berani saja. Tapi kalau berebut menjadi petani, jadinya sempit kan. Walau bidangnya begitu luas," kata Zulhas.
Zulhas pun mengaku optimistis melihat ribuan mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan di UMP. Menurutnya, semangat generasi muda tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi masa depan.
"Saya optimistis. Kalau lihat hampir 5.000 mahasiswa baru, kita yakin bahwa masa depan kita cerah, Gen Z. Melihat wajah dan semangatnya luar biasa. Perlu berani saja anak-anak muda kita," pungkasnya.
