Viral Warga Ramai-ramai Semprot Petugas Palang Pintu gegara Tidur Saat KA Lewat

Viral Warga Ramai-ramai Semprot Petugas Palang Pintu gegara Tidur Saat KA Lewat

Robby Bernardi - detikJateng
Senin, 31 Agu 2026 09:52 WIB
Ilustrasi kereta api
Ilustrasi kereta api. Foto: Getty Images/SUMAR TOYO
Pekalongan -

Palang perlintasan kereta api (KA) di wilayah Setono, Kota Pekalongan, tidak tertutup saat ada KA melintas gegara petugas jaganya diduga tertidur. Alhasil, warga sekitar langsung turun tangan menyetop kendaraan agar tidak menyeberang saat kereta lewat.

Warga kemudian mendapati seorang petugas tertidur di pos jaga. Sontak petugas jaga itu jadi sasaran emosi warga. Peristiwa itu terjadi pada Minggu (30/8) sekitar pukul 08.30 WIB. Informasi ini awalnya diunggah akun facebook Pekalonganinfo hingga jadi viral.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pekalongan, M Restu Hidayat, menyesalkan ada kejadian tersebut. Restu mengatakan pos penjagaan itu seharusnya dijaga dua orang petugas. Namun, saat kejadian hanya ada satu petugas yang diduga tertidur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang pada waktu itu, nuwun sewu nggih (mohon maaf ya), informasinya palang pintu tidak ditutup. Di perlintasan kereta itu harusnya petugasnya dua," kata Restu saat dihubungi wartawan, Senin (31/8/2026).

"(Petugas) Yang satu informasinya lagi cari sarapan. Yang satu ini (di pos jaga) memang informasi yang kita dapat kondisinya lagi ngantuk atau apa. Mungkin semalam begadang atau apa, saya kurang tahu," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Restu memastikan palang perlintasan di lokasi tidak mengalami kerusakan. Sistem palang tersebut sudah menggunakan sistem elektrik sehingga dapat dioperasikan oleh petugas.

Restu juga mengapresiasi kesigapan warga saat mengetahui ada kereta yang akan melintas. Warga disebut sempat mengingatkan petugas ketika posisi kereta sudah berjarak sekitar 100-150 meter dari perlintasan.

"Di sekitar itu memang ada kegiatan. Kurang lebih 100 sampai 150 meter sudah ada kereta. Kemudian diingatkan warga, 'Pak, itu ada kereta.' Ternyata belum ditutup. Akhirnya mungkin warga yang menutup, warga juga yang menyetop kendaraan lain," jelasnya.

Beruntung tidak ada kendaraan yang nekat menerobos perlintasan, sehingga tidak terjadi kecelakaan.

"Tidak ada yang nyelonong-nyelonong. Senang sekali masyarakat ikut serta berperan serta," kata Restu.

Dishub Kota Pekalongan akan mengevaluasi petugas yang berjaga saat kejadian. Restu menyebut ada dugaan pelanggaran SOP dan disiplin dalam pelaksanaan tugas.

"Makanya hari ini saya akan melakukan evaluasi terhadap orang-orang ini, kenapa melakukan pelanggaran SOP. Rencananya akan kita evaluasi dan kita akan melakukan tindakan disiplin pegawai," ujarnya.

Restu menegaskan, dua petugas wajib berada di setiap pos dalam satu shift. Jam kerja masing-masing shift sekitar delapan jam dengan tiga kali pergantian dalam sehari.

Ia menambahkan, saat ini terdapat sejumlah perlintasan yang berada dalam pengelolaan dan penjagaan Dishub Kota Pekalongan. Untuk penjagaan palang pintu, Dishub menyiapkan 32 petugas khusus dan satu koordinator.

"Dari empat itu semuanya total kita sudah menyiapkan 32 orang plus satu koordinator, jadi 33 orang. Khusus palang pintu," katanya.

Para petugas tersebut merupakan petugas khusus yang telah mendapatkan pelatihan terkait perkeretaapian. Sebagian telah memiliki sertifikat kompetensi, sedangkan sebagian lainnya masih dalam proses pelatihan.
Selain persoalan kedisiplinan petugas, Restu mengungkap adanya kendala dalam sistem informasi kedatangan kereta api.

Selama ini petugas Dishub berkoordinasi dengan pihak perkeretaapian menggunakan handy talky (HT). Informasi kedatangan kereta juga diperoleh dari petugas perlintasan terdekat.

"Kami itu koordinasi untuk petugas-petugas dengan KAI by HT. Jadi kalau misalkan ada kereta dari stasiun keluar ke timur, ada sinyal yang masuk di situ sebagai informasi yang kita dapatkan," jelasnya.

Namun, Dishub belum mendapatkan fasilitas sistem sinyal yang sama seperti pihak perkeretaapian. Akibatnya, petugas masih mengandalkan HT dan informasi dari petugas penjaga perlintasan terdekat.

"Selama ini kita agak kerepotan di dalam sinyal kereta api. Kita hanya mengandalkan HT dan PJL terdekat," ujarnya.

Menurut Restu, perangkat komunikasi tersebut juga beberapa kali mengalami gangguan. Kondisi itu dinilai menjadi perhatian karena informasi kedatangan kereta berkaitan langsung dengan keselamatan pengguna jalan.

Restu berharap koordinasi antara Pemkot Pekalongan, Dishub, dan pihak perkeretaapian dapat diperkuat, termasuk mengenai sistem informasi kedatangan kereta. Ia berharap pengelolaan seluruh perlintasan dapat ditangani pihak perkeretaapian.

Peristiwa palang pintu tidak ditutup saat kereta melintas juga pernah terjadi lebih dari setahun lalu. Satu sepeda motor melintas di perlintasan dua jalur ketika salah satu jalur masih terbuka. Motor tersebut kemudian tersenggol bagian belakang kereta hingga pengendaranya terjatuh ke aspal dan mengalami cedera.

Petugas yang dinilai melanggar disiplin dalam kejadian tersebut kemudian dikeluarkan dari tugas.

"Kejadiannya lebih dari satu tahun yang lalu. Karena melanggar disiplin, terus kita lakukan evaluasi," kata Restu.

Di sisi lain, Restu turut menyoroti kesejahteraan petugas penjaga perlintasan. Menurutnya, petugas menerima penghasilan sekitar Rp 2,2 juta sebelum potongan. Setelah dipotong BPJS, penghasilan yang diterima sekitar Rp 2,1 juta hingga Rp 2,15 juta.

"Gajinya Rp 2.200.000, potong BPJS kurang lebih jadi Rp 2.100.000-an. Tidak ada lebih dari itu, bahkan di bawah UMR. Padahal tanggung jawabnya besar sekali," ungkap Restu.

Halaman 2 dari 2
(dil/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads