Tradisi Sekaten Bikin Konflik Keraton Solo Kembali Memanas

Round-Up

Tradisi Sekaten Bikin Konflik Keraton Solo Kembali Memanas

Tim detikJateng - detikJateng
Kamis, 27 Agu 2026 04:00 WIB
Abdi dalem mengeluarkan Gamelan Kyai Sekati menyambut Maulid Nabi, Rabu (19/8/2026).
Abdi dalem mengeluarkan Gamelan Kyai Sekati menyambut Maulid Nabi, Rabu (19/8/2026). Foto: Dok. detikJateng
Solo -

Perseteruan dua kubu di Keraton Solo, yakni kubu PB XIV Purbaya dengan kubu PB XIV Mangkubumi, semakin memanas. Gelaran Garebek Gunungan Sekaten menjadi salah satu pemicunya hingga kedua kubu saling melapor ke polisi.

Saat gelaran tradisi Sekaten dalam prosesi Miyos Gangsa Gamelan Sekaten di Keraton Solo kedua kubu terlibat keributan. Buntutnya, kubu Paku Buwono (PB) XIV Purbaya membuat laporan ke Mapolresta Solo buntut polemik gamelan Sekaten dengan pihak Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo yang dipimpin oleh Gusti Raden Ayu (GRAy) Koes Moertiyah atau Gusti Moeng.

Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, menjelaskan kedatangannya ke Mapolresta Solo untuk menindaklanjuti somasi yang sudah layangkan ke LDA sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menindaklanjuti somasi yang kemarin saya layangkan, batas waktunya kan hari ini jam 10.00 WIB tadi pagi. Karena tidak ada klarifikasi, saya melaporkan sesuai dengan somasi yang saya layangkan," kata Gusti Timoer kepada awak media di Mapolresta Solo, Senin (24/8/2026).

"Langsung laporan tindak pidana," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Dijelaskan, laporannya terkait penguasaan tiga set gamelan sekatan yakni Kyai Guntur Madu, Kyai Guntur Sari, dan Monggang Ageng.

"Sehingga dengan penguasaan atau pencurian atau penggelapan itu kami selaku Pengageng Sasono Wilopo tidak dapat melaksanakan upacara adat menggunakan gamelan sekaten," jelasnya.

GKR Dilaporkan Balik

Di kubu PB XIV Mangkubumi, seorang Abdi Dalem bernama Ananda Versa Bagus Priono (26) mengadukan Pengageng Sasana Wilapa Paku Buwono XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay dan BRM Yudhistira ke Polresta Surakarta atas dugaan pengeroyokan dan penganiayaan.

Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor STBP/612/VIII/2026/Reskrim Polresta Surakarta. Kuasa hukum korban, Purnomo Susanto, mengatakan bahwa laporan diajukan pada 20 Agustus 2026 dini hari.

"Klien kami, Ananda Versa Bagus Priono, memberikan kuasa kepada kami untuk mendampingi perkara dugaan tindak pidana pengeroyokan dan penganiayaan yang dialaminya pada Rabu, 19 Agustus 2026, di Bangsal Pagongan Selatan. Laporannya tanggal 20 Agustus dini hari," ujar Purnomo kepada wartawan, Selasa (25/8/2026) malam.

Purnomo menjelaskan, peristiwa bermula saat kliennya yang bertugas sebagai Abdi Dalem Pejagan sedang mengamankan jalannya prosesi Miyos Gangsa Gamelan Sekaten. Ia mengatakan saat itu Rumbay dan Yudhistira datang ke lokasi.

Ia mengatakan, situasi di Kawasan Masjid Agung sempat memanas hingga terjadi aksi dorong-dorongan. Berdasarkan pengakuan korban, ia menyebut sempat terjadi cekcok antara korban dengan BRM Yudhistira.

"Ada provokasi berupa teriakan dari saudara BRM Yudhistira, lalu sempat terjadi pemukulan mengenai dada klien kami hingga sesak. Setelah itu GKR Timoer Rumbay diduga terpancing dan melakukan penamparan ke arah pipi korban sebanyak tiga kali," jelasnya.

Kubu PB XIV Purbaya Sebut Ada Sabotase Saat Garebek

GKR Penambahan Timoer Rumbay mengatakan bahwa memang ada kesepakatan bersama untuk Garebek Maulid dilakukan terpisah. Hal itu dilakukan agar tidak ada gesekan massa.

"Ya, kami lebih baik apa, membuat langkah-langkah supaya tidak ada gesekan, sehingga kami mengalah untuk membiarkan mereka melakukan terlebih dahulu," katanya ditemui di Keraton Solo, Rabu (26/8/2026).

Meski telah berbagi waktu, Rumbay mengaku ada tindakan sabotase saat hendak memukul gamelan.

"Tapi ternyata di sisi lain, pemukul gamelan itu sepertinya, enggak tahu ya, pokoknya tidak ada saja. Tidak ada, jadi tadi untuk gamelannya kita bawa dari sini. Jadi memang apa ya, menurut saya itu sabotase ya, karena pemukulnya tidak ada," ungkapnya.

Rumbay menjelaskan bahwa pihaknya terpaksa membawa alat penabuh sendiri dari dalam kediaman karena alat yang seharusnya tersedia di lokasi mendadak hilang. Tapi pihaknya sudah mengantisipasi kendala tersebut sehingga prosesi adat tetap bisa berjalan.

"Kebetulan kami sudah mengantisipasi, jadi ya kami bawa (sendiri). Alhamdulillah tetap lancar," lanjutnya.

LDA Bantah Sabotase

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi membantah adanya sabotase gamelan yang akan digunakan kubu Paku Buwono XIV Purbaya. Ia mengatakan, justru pihaknya membantu saat meminta Gamelan Monggang.

"Tidak ada (sabotase), tadi mereka minta Gamelan Monggang juga saya bantu langsung, kita kasih," katanya dihubungi detikJateng, Rabu (26/8/2026).

Lebih lanjut Eddy mengatakan bahwa sempat kehilangan beberapa gamelan saat Gerebek Idul Adha. Ia mengatakan ada satu set tabuh yang hilang.

"Saya tidak tahu persis, keterangan yang di lapangan waktu kehilangan kecer 3 biji saat grebeg idul adha juga hilang 1 set tabuhnya. Pikiran anggong (yang urus gamelan) mereka sudah nyimpan 1 set tabuh gamelan," bebernya.

GKR Rumbay Ngaku Dilecehkan

Di sisi lain lain, Rumbay menyebut bahwa dirinya dan Yudhistira sedang menyiapkan bukti-bukti terkait adanya tindakan pelecehan. Ia mengatakan, dugaan pelecehan tersebut terjadi pada saat adanya adu mulut Miyos Gongsa di Masjid Agung.

"Tapi untuk saat ini saya dan Mas Yudis juga sedang mengumpulkan data dan bukti untuk melaporkan balik, melaporkan balik," bebernya.

"Karena apa yang saya lakukan itu defense saya karena ada oknum yang melecehkan saya gitu. Memegang pantat saya. Di hari Rabu kemarin. Iya," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(apl/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads