Curhat Petani di Blora Berkali-kali Gigit Jari Imbas Serangan Hama Tikus

Curhat Petani di Blora Berkali-kali Gigit Jari Imbas Serangan Hama Tikus

Achmad Niam Jamil - detikJateng
Sabtu, 22 Agu 2026 18:23 WIB
Tanaman jagung dibungkus plastik untuk cegah serangan tikus, Dukuh Gayam, Desa Todana Blora
Tanaman jagung dibungkus plastik untuk cegah serangan tikus, Dukuh Gayam, Desa Todana Blora. Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng
Blora -

Serangan hama tikus di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora semakin mengkhawatirkan. Hama tikus tidak hanya menyerang tanaman padi, tetapi juga jagung, tebu, timun, tomat hingga cabai.

Akibat serangan tersebut, sejumlah petani memilih membiarkan sawahnya tidak ditanami atau bero. Sebagian lainnya nekat menanam dengan risiko tanaman kembali dimakan tikus.

Petani Desa Karanganyar, Kecamatan Todanan, Arif Saifuddin, mengatakan serangan tikus sudah dirasakan sejak akhir 2024. Namun, serangan semakin parah hingga membuat petani mengalami gagal panen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Serangan hama tikus itu tahun 2024 akhir. Habis bersih itu 2025 kemarin. Sekarang tidak ada tanaman," kata Arif saat ditemui di Todanan, (22/8/2026).

Menurutnya, hampir seluruh tanaman yang ditanam petani menjadi sasaran tikus. Bahkan, dirinya pernah menanam tebu dan padi, namun tidak bisa memanen karena tanaman habis dimakan tikus.

ADVERTISEMENT

"Saya ada tanaman tebu dan padi. Sekarang lahan enggak ada tanamannya. Tebu enggak bisa panen, habis tak tersisa," ujarnya.

Arif menyebut sejumlah petani sudah mencoba berbagai cara untuk mengendalikan hama tersebut. Mulai dari menggunakan racun tikus, menjaga sawah pada malam hari menggunakan petasan berbahan spiritus, membuat pagar dari plastik fiber, hingga berburu tikus.

Ada pula petani yang membuat rumah burung hantu. Bahkan, sebagian warga mencoba cara tradisional dan spiritual seperti membaca doa, menggunakan rajah hingga menaburkan garam. Namun berbagai upaya tersebut belum memberikan hasil yang signifikan.

"Semua cara sudah dilakukan petani, tapi tidak ada hasil," ungkapnya.

Arif mengatakan serangan tikus terjadi secara masif. Tikus menyerang tanaman sejak masih berupa benih atau wineh. Tanaman yang berhasil tumbuh pun kembali diserang hingga gagal panen.

Tanaman jagung dibungkus plastik untuk cegah serangan tikus, Dukuh Gayam, Desa Todana BloraTanaman jagung dibungkus plastik untuk cegah serangan tikus, Dukuh Gayam, Desa Todana Blora Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

"Padi, diserang dari batangnya kemudian setelah roboh dibiarkan rusak. Tahun lalu diserang sejak wineh atau benih, benih itu diserang. Nah Sisa dari tikus itu ditanam. Wineh diserang tikus, sisanya ditanam, ketika ditanam itu juga diserang tikus," jelasnya.

Pada tanaman padi, tikus menyerang bagian batang hingga tanaman roboh dan akhirnya rusak. Pada jagung, tikus memakan tanaman sejak masih kecil hingga ketika sudah berbuah.

"Jagung ada yang baru kecil langsung dimakan. Ada yang sudah berbuah, jagung dimakan, hanya tersisa janggel atau bonggolnya," jelasnya.

Sementara tanaman tebu digerogoti dari bagian bawah hingga roboh. Setelah roboh, tanaman kemudian dicacah dan dimakan tikus.

"Timun, tomat rusak semua," imbuhnya.

Tanaman yang dinilai relatif aman dari serangan tikus yakni tembakau dan brambang atau bawang merah.

"Tanamam yang cenderung aman itu tembakau dan bawang merah," ucap Arif.

Menurut Arif, sedikitnya 22 desa dari 25 desa di Kecamatan Todanan terdampak serangan hama tikus. Di antaranya Karanganyar, Sendang, Wukirsari, Kedungwungu, Todanan, Kembang, Dalangan, Ketileng, Bedingin, Ledok, Sonokulon, Sambeng, Tinapan, Cokrowati, Pelemsengir, Prigi, Kedungbacin, Ngumbul, Bicak, Candi, Gondoriyo dan Kacangan.

"Yang aman itu Desa Dringo, Gunungan, Kajengan. Tapi ternyata Dringo, Kajengan dan Gunungan juga sebagian sudah diserang mulai April 2026," katanya.

Desa Karanganyar dan Sendang disebut menjadi wilayah yang pertama kali mengalami serangan tikus. Kini serangan tersebut telah meluas ke sejumlah wilayah lain.

Akibat sawah tidak bisa ditanami, sebagian warga terpaksa mencari pekerjaan lain. Ada yang menjadi buruh kasar, kuli pasir hingga merantau ke luar pulau untuk bekerja di sektor pertambangan.

"Sejak kecil sampai sekarang baru tahu warga petani beli beras. Biasanya tidak pernah membeli beras," tutur Arif.

Dia mengatakan warga Desa Karanganyar, Sendang dan Wukirsari banyak yang merantau, termasuk anak muda lulusan SMK. Sebagian bekerja di sektor tambang emas di Sumatera dan Kalimantan.

"Istilahnya itu mocok. Kuli pasir, kuli kasar lah intinya. Yang banyak pada merantau di tambang. Sumatera, Kalimantan. Bekerja di sektor tambang emas," papar dia.

Di sisi lain, pembangunan Bendungan Cabean juga membuka pekerjaan sementara bagi warga terdampak. Sejumlah warga kini bekerja sebagai tukang atau kuli batu karena banyak warga yang mendapatkan ganti untung dan kemudian membangun rumah.

"Akhir akhir ini ada yang menjadi tukang kuli batu, dari yang dapat ganti untung karena terdampak Bendungan Cabean Todanan kan pada membangun rumah, jadi banyak pekerjaan," jelasnya.

Arif menyebut kondisi tersebut menjadi pukulan berat bagi petani. Dalam dua tahun terakhir, ada tanaman yang sempat ditanam tetapi tidak menghasilkan panen.

"Sudah dua tahun ada tanduran tapi tidak panen. Tidak menutup modal awal, diganggu tikus, belum lagi modal pupuk," ujarnya.

Bungkus Jagung Pakai Plastik

Petani lain, dari Dukuh Gayam, Desa Kedungwungu, Todanan, Diah Sri Suyati mencegah serangan tikus dengan metode yang cukup unik. Yaitu buah jagung dibungkus dengan menggunakan plastik.

"Saya mencoba dengan metode dibungkus plastik. Itu yang dibungkus plastik itu kiranya ada yang sudah aman," jelasnya saat ditemui di lahannya.

Tanaman jagung dibungkus plastik untuk cegah serangan tikus, Dukuh Gayam, Desa Todana BloraTanaman jagung dibungkus plastik untuk cegah serangan tikus, Dukuh Gayam, Desa Todana Blora Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

Cara ini tergolong cukup ampuh dari serangan tikus. Mayoritas jagung yang sudah dibungkus menggunakan plastik tidak diserang tikus.

"Tapi kemarin belum selesai dipasang plastik itu malamnya sudah diserang. Ini dibungkus semua pakai plastik," jelasnya.

Menurutnya tanaman jagung berusia muda sudah diteror oleh tikus, ada juga jagung yang diserang sudah berbuah. Metode bungkus plastik meski ampuh, Diah tetap waspada. Jarak tanam yang mulanya rapat, kini harus sedikit lebar dari biasanya.

"Kalau di sawah aku, jagung mulai diserang usia 2 bulan. HMa tikus kan beda beda, ada yang sejak dini sudah diserang, jadi ada yang enggak panen. Kalau di sini nyerangnya sudah berbunga atau klobot," ucap Diah.

Dia menyebut ada petani lain yang jagungnya tidak dibungkus plastik, tetapi diberi plastik hitam putih yang dipotong memanjang sehingga menyerupai ular. Ada yang diberi barikade line. Selain itu ada juga yang dijaga saat malam hari, diusir menggunakan petasan.

"Harapan pemerintah kayaknya enggak ada harapan. Ya kita sendiri yang berusaha. Ya kalau ada bantuan obat tikus ya tidak apa apa," ucapnya.

Dinas Pertanian Sebut Serangan Meningkat

Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora, Ngaliman, membenarkan adanya serangan hama tikus di Kecamatan Todanan.

"Kita sudah mengadakan gerakan terus. Sudah tiga bulan lalu bersama kelompok-kelompok tani," kata Ngaliman.

Menurutnya, DP4 telah menyiapkan pestisida untuk pengendalian tikus. Gerakan pengendalian dilakukan bersama kelompok tani, meski belum seluruh kelompok mengikuti kegiatan tersebut.

"Kalau yang melakukan gerakan sudah menurun. Tidak semua kelompok mau," ujarnya.

Ngaliman mengatakan hama tikus sebenarnya sudah lama ditemukan di Todanan. Namun tahun ini populasinya meningkat.

"Kalau tikus sudah lama. Apalagi yang tanamannya tidak pernah berhenti. Bertahun-tahun sudah ada hama tikus. Memang sekarang banyak, tahun ini lebih banyak," jelasnya.

Salah satu faktor yang diduga menyebabkan populasi tikus meningkat adalah ketersediaan makanan sepanjang tahun. Musim hujan yang mendukung aktivitas tanam membuat sumber makanan tikus tersedia sehingga perkembangbiakannya meningkat.

"Kemarin musim hujannya kan bagus untuk menanam. Sehingga tikus beranak terus, karena tersedia pangan," katanya.

Selain pengendalian menggunakan pestisida untuk jangka pendek, DP4 juga mendorong penggunaan predator alami seperti burung hantu untuk jangka panjang.

"Kita mengembangkan rumah burung hantu. Tapi karena saking banyaknya desa itu terbatas. Petani kan enggak percaya dengan burung hantu, makanya kita kasih contoh," ungkapnya.

Ngaliman mengatakan rumah burung hantu juga diarahkan melalui dukungan CSR. Menurutnya, ketika rumah burung hantu sudah tersedia, burung tersebut dapat datang dan menempatinya.

Selain itu, DP4 juga mengenalkan ramuan bioyoso sebagai umpan pengendali tikus. Cara tersebut telah dipraktikkan di Kecamatan Kedungtuban dan Cepu.

"Ramuan itu sebagai umpan agar dimakan tikus. Tikus memakan ramuan itu, tikusnya bisa ompong," katanya.

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Todanan, Heri, mengatakan serangan awal terdeteksi di wilayah utara, terutama Desa Karanganyar, Bicak dan Sendang yang berbatasan dengan Kabupaten Pati.

"Serangan pertama di daerah utara di Desa Karanganyar, terus Desa Bicak, di Desa Sendang yang berbatasan dengan Kabupaten Pati. Tapi dulu belum separah ini. Hama tikus itu awalnya di hutan," jelasnya.

Menurutnya, serangan mulai terlihat sejak akhir 2024. Namun saat itu belum separah sekarang.

"Tapi kok tiba-tiba seperti wabah. Musim tanam padi pertama sudah bagus, musim tanam kedua padi bunting, tikusnya seperti migrasi, gabungan mungkin dari hutan," kata Heri.

Ia menduga tikus bermigrasi dari kawasan hutan menuju areal persawahan ketika sumber makanan di hutan berkurang.

"Jagung habis dari hutan kelihatannya migrasi ke sawah, yang membuat serangannya masif. Sekarang semakin ke timur. Hampir merata, tapi masih spot-spot," jelasnya.

Saat kemarau seperti sekarang, tikus disebut cenderung berkumpul di wilayah yang masih memiliki sumber air, terutama di sekitar sungai.

"Posisi saat ini karena kemarau kelihatannya di pinggir sungai yang ada airnya ngumpul di situ," ujarnya.

Heri mengatakan gerakan pengendalian bersama petani terus dilakukan. Salah satunya gropyokan tikus seperti yang dilakukan di Desa Sonokulon pada akhir Juli.

Selain itu, penyuluh juga memberikan bantuan racun serta mendorong penggunaan belerang dan kompor gas untuk membasmi tikus dari lubangnya. Namun pelaksanaannya masih terbatas karena anggaran.

Untuk rumah burung hantu, tercatat sudah ada di Desa Pelemsengir dan Bicak. Di Pelemsengir terdapat sekitar 12 rumah burung hantu, sedangkan di Bicak sekitar tiga.

"Rubuha di Desa Bicak sudah dan Pelemsengir," kata Heri.

Ia menambahkan, saat ini sebagian petani mulai mencoba tanaman alternatif yang relatif lebih aman dari serangan tikus, seperti tembakau dan bawang merah.

"Kalau tani yang mau kemitraan dengan menanam tembakau aman, bawang merah, cabai rawit agak aman lah. Itu alternatif," ujarnya.

Namun bagi petani yang tetap mencoba menanam jagung, risiko serangan masih tinggi. Bahkan tanaman jagung yang baru tumbuh bisa langsung dimakan tikus.

"Sedikit yang ditanami jagung, baru tumbuh sudah dimakan tikus," katanya.

Heri mengatakan kondisi serangan saat ini memang mulai berkurang karena kemarau membuat sebagian besar sawah dalam kondisi bero. Namun sejumlah petani yang nekat menanam masih menghadapi serangan tikus.

"Kalau kemarau ini serangan tikus berkurang karena enggak ada tanaman. Tapi bero, ada spot-spot jagung yang nekat menanam," terang dia.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Puluhan Rumah di Blora dan Grobogan Rusak Usai Diterjang Hujan Angin"
[Gambas:Video 20detik] (afn/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads