Video yang merekam sejumlah mahasiswa sedang berjoget bahkan moshing di Pendopo Ageng Institut Seni Indonesia (ISI) Solo jadi viral di media sosial. Pihak kampus ISI Solo mengaku kecolongan dan menyampaikan permintaan maaf.
Video tersebut diunggah akun Instagram @surakartahits_, dan menjadi sorotan warganet.
"IRONIS!!! Pendopo Ageng Institut Seni Indonesia Surakarta yang seharusnya menjadi ruang yang Agung, ruang yang mempresentasikan marwah dan identitas kampus justru di perlakukan seolah olah tidak mempunyai nilai apa apa," tulis caption postingan akun Instagram @surakartahits_, seperti yang dilihat detikJateng, Sabtu (22/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kabag Akademik dan Kemahasiswaan ISI Solo, Esha Karwinarno, momen itu terjadi saat penutupan Expo UKM ISI Solo pada Jumat (21/8) malam. Ia menyebut acara itu sudah di luar kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).
"Iya (di Pendopo ISI Solo), itu acara Expo UKM, pada joget-joget itu acaranya. Penutupannya tadi malam. Acara anak-anak closing acara, ada yang merekam justru tidak di performingnya, malah hal-hal sampingannya. Ya sudah, itu sudah terjadi, kami sudah meminta maaf," kata Esha saat dihubungi awak media, Sabtu (22/8/2026).
Esha menjelaskan, acara Expo UKM itu merupakan kegiatan untuk mengenalkan berbagai UKM di ISI Solo. Dalam acara itu, masing-masing UKM menampilkan hasil karyanya masing-masing.
Acara tersebut selesai sekira pukul 19.30 WIB. Sebelumnya acara berakhir, ditutup dengan musik band. Mahasiswa yang hadir pun berjoget.
"Sebelum acara band-band itu tampil kesenian tradisi. Jadi pembelajaran bagi kami selaku penyelenggara, karena saya ketua panitia juga, jadi ya minta maaf kepada semua pihak yang merasa terusik terhadap tradisi yang agak terganggu visual itu," ucapnya.
Pihak kampus sudah mengumpulkan mahasiswa yang menjadi panitia dalam acara tersebut. Mahasiswa telah melakukan klarifikasi melalui kanal mereka masing-masing.
Berkaitan dengan kasus ini, Esha menyebut bahwa ISI terdiri dari sejumlah fakultas dan pemahaman nilai budaya tiap mahasiswa berbeda-beda.
"Teman-teman mahasiswa sudah klarifikasi juga soal kejadian itu di medsos. Kemudian kami dari institusi/lembaga perlu untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang nilai-nilai dan budaya. Maka kita akan tambahkan materi yang memahami soal kebudayaan dan budaya," jelasnya.
"Karena begini, kami tidak hanya satu fakultas. Ya pemahaman mahasiswa masih ada yang berbeda terkait nilai-nilai, mungkin nggak sadar, nggak paham. Tidak pada tempatnya prinsipnya seperti itu," sambungnya.
Esha menyebut mahasiswa yang berjoget di acara closing Expo UKM itu kebanyakan mahasiswa senior. Dia tidak menampik soal adanya pihak luar yang ikut dalam acara tersebut. Dia menegaskan bahwa mahasiswa yang berjoget itu tidak dalam kondisi mabuk.
"Tidak (mabuk). Itu murni anak bersuka ria. Jika kita tarik garis kalau kita samakan seperti nonton konser. Tapi kami salahnya memang tempatnya di Pendopo," kata dia.
"Pendopo itu memang tempat untuk sajian yang sesuai peruntukannya, misal tari, karawitan. Pendopo itu sendiri konsep Jawa, berarti sajian yang tepat di situ tradisi dan budaya Jawa. Kemarin ada moshing dengan memegang gamelan, dan mungkin ada beberapa pihak yang merasa tidak tepat, kalau melihatnya pada satu visual saja. Dalam konteks keseluruhan sebetulnya dalam satu acara itu gamelan diperlakukan sebagaimana mestinya. Pendopo juga digunakan sebagaimana mestinya, tari-tarian seperti itu. Di penghujungnya, closing bebas itu pada naik ke panggung," tambahnya.
Esha menegaskan, pihaknya akan lebih teliti lagi dalam menyeleksi kegiatan mahasiswa.
"Kita sudah ada standarisasi. Tapi itu moment di akhir, jadi agak kecolongan juga. Sebenarnya di Pendopo kita peruntukan untuk hal-hal yang formal. Aturan baru membuat saya selaku panitia akan lebih selektif. Saya lihat di rundown-nya normal saja. Itu sesuatu di luar kendali yang muncul spontan. Bukan sesuatu dalam acara," pungkasnya.
