Peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II digelar di Makam Kehormatan Belanda atau Ereveld Kalibanteng, Kota Semarang. Peringatan itu menjadi momentum untuk mengenang para korban perang.
Peringatan tersebut digelar Netherlands War Graves Foundation (Oorlogsgravenstichting/OGS) Indonesia. Tampak beberapa keluarga korban perang yang merupakan warga Belanda itu hadir mengenang keluarganya yang dimakamkan di Ereveld Kalibanteng.
Diketahui, di makam itu bersemayam para korban perang yang kebanyakan merupakan perempuan dan anak-anak Belanda. Namun, ada pula orang-orang Indonesia yang dimakamkan di tempat tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para keluarga korban dan peserta yang hadir terlihat sempat berdiam untuk menghormati para korban perang selama dua menit. Lagu kebangsaan Belanda juga sempat dimainkan, bersama bendera Belanda yang dikibarkan setengah tiang.
Perwakilan OGS Indonesia, Allan Akbar, mengatakan peringatan tersebut menjadi ruang untuk merefleksikan masa lalu, memahami dampak perang, dan membangun masa depan yang lebih damai.
"Di sini, masa lalu menjadi nyata ketika kita melihat makam dan monumen. Lebih dari 3.000 korban perang menemukan tempat peristirahatan terakhir di sini," kata Allan di Erevald Kalibanteng, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, ribuan makam tersebut hanya mewakili sebagian kecil dari orang-orang yang mengalami penderitaan dan kehilangan akibat perang. Mereka adalah para laki-laki, perempuan, dan anak-anak, baik sipil maupun militer, dari berbagai generasi dan bangsa.
Suasana Peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II di Erevald Kalibanteng, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Sabtu (15/8/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Allan mengatakan, kisah para korban perlu terus diceritakan oleh generasi berikutnya. Cerita tersebut dapat berasal dari para penyintas maupun peninggalan seperti buku harian, foto, hingga puisi.
"Tantangan bagi generasi saat ini dan generasi mendatang adalah mengambil kisah-kisah tersebut dan memahaminya. Tantangannya bukan untuk menghakimi atau berpihak, tetapi belajar dari kisah-kisah ini untuk menemukan jalan ke depan," ujarnya.
Salah satu keluarga korban yang hadir dalam peringatan tersebut, Henry Sandee juga turut membagikan kisah keluarganya yang memiliki hubungan erat dengan sejarah perang di Indonesia dan Asia Tenggara.
Ia menceritakan kisah kakeknya, Thomas Henry Lewis. Dia mengaku tidak pernah bertemu langsung dengan sang kakek karena sudah meninggal pada April 1945, beberapa bulan sebelum Perang Dunia II berakhir, di kamp Bangkong.
"Kita tidak tahu banyak mengenai nasib dan kehidupan Thomas. Hanya kami tahu nomor registrasinya," kata Henry.
Henry yang sempat menjadi dosen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga itu mengaku sempat mengunjungi lokasi bekas kamp Jepang tersebut di Bangkong, Kecamatan Semarang Selatan, yang kini telah berubah menjadi sekolah.
"Sulit dibayangkan bahwa kurang lebih 81 tahun yang lalu itu menjadi penjara dan di sana ditempatkan 1.400 orang," ujarnya.
Saat kakeknya meninggal, nenek Henry masih berada di kamp interniran di Jakarta. Setelah perang berakhir, neneknya kemudian mendapat kabar bahwa suaminya telah meninggal.
Kisah serupa juga dialami ayah dan paman Henry. Keduanya bekerja di Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda, dan kemudian ditangkap militer Jepang.
Mereka dibawa untuk bekerja di jalur kereta api Burma di wilayah Thailand dan Burma. Dalam perjalanan, keduanya sempat bertemu untuk terakhir kalinya ketika rombongan mereka transit di Singapura.
"Itu terakhir kali mereka bertemu," tuturnya.
Henry juga menceritakan bagaimana pengalaman keluarganya selama hidup di Indonesia telah membentuk hidupnya. Orang tuanya kemudian kembali ke Belanda setelah perang.
Henry mengaku masih mengingat suasana komunitas tempat tinggal keluarganya yang banyak dihuni orang-orang yang pernah tinggal di Indonesia.
"Baunya kretek, ada yang pakai batik, ada yang pagi-pagi sudah makan nasi goreng. Suasananya seperti di Indonesia," katanya.
Henry juga bercerita bahwa dirinya menikah dengan perempuan Jepang. Awalnya, dia sempat khawatir bagaimana orang tuanya akan menerima keputusan tersebut mengingat pengalaman keluarganya selama pendudukan Jepang. Namun kekhawatiran itu tak terbukti.
"Menariknya, mereka sama sekali tidak keberatan. Mereka memang membenci sistem Jepang dulu, tetapi mereka sadar bahwa there's a good thing in every person (ada hal baik di setiap orang)," ujarnya.
Sementara itu, Perwakilan dari Kerajaan Belanda dan Kantor Atase Pertahanan, Commander Patrick Stähli, dalam pidatonya mengangkat kisah Gerrit van der Meulen, seorang warga Belanda yang datang ke Jakarta pada 1930-an untuk bekerja di sebuah lembaga pemerintahan.
Ia bercerita, Gerrit ditangkap dan diinternir atau ditahan pada masa pendudukan Jepang. Dia akhirnya dipaksa bekerja dalam pembangunan jalur kereta api Pekanbaru di Sumatera bersama para romusha Indonesia.
"Gerrit dan begitu banyak romusha Indonesia tidak selamat dari kerasnya kondisi tersebut," kata Patrick.
Suasana Peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II di Erevald Kalibanteng, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Sabtu (15/8/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Istri Gerrit juga disebut menjadi salah satu orang terakhir yang melihatnya. Dalam sebuah kesempatan, dia sempat menunjukkan anak bungsu mereka kepada Gerrit ketika sang suami berjalan dalam barisan tahanan.
Setelah perang berakhir, sang istri kembali ke Belanda bersama tiga anaknya dalam kondisi penuh trauma. Patrick mengatakan, dampak perang tidak berhenti ketika pertempuran berakhir, karena trauma dan kehilangan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
"Kita kehilangan bagian dari diri kita. Sering kali tanpa disadari, trauma berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya dan terus memengaruhi kita hingga saat ini," ujarnya.
Patrick juga mengingatkan bahwa perang bukan sekadar angka korban, pengeboman, atau konflik yang tercatat dalam sejarah. Di baliknya terdapat penderitaan manusia yang tidak terukur.
Dia juga menyinggung konflik yang masih berlangsung di berbagai wilayah dunia, termasuk Gaza, Ukraina, dan Sudan.
"Kita sering mengatakan, dan memang benar, bahwa kita tidak boleh menganggap perdamaian dan kebebasan sebagai sesuatu yang pasti," katanya.
Patrick juga mengutip Raja Belanda Willem-Alexander mengenai makna perdamaian. Menurutnya, masyarakat yang damai bukanlah masyarakat yang mengharuskan semua orang menjadi sama.
"Perdamaian bergantung pada kemampuan kita untuk hidup bersama dengan orang-orang yang berbeda dari kita. Melihat keberagaman bukan sebagai bahaya, tetapi sebagai karakter penting dari kehidupan kita dalam kebebasan dan sebagai sumber kekuatan," ujarnya.
Dia juga menegaskan, perdamaian tidak datang dengan sendirinya. Perdamaian harus diperjuangkan setiap hari.
"Selain itu, perjuangkan perdamaian melalui pendidikan, komunikasi, dan diplomasi. Pada akhirnya, ini tentang memberantas perang dan mencegah generasi baru mengalami trauma dan kehilangan orang-orang yang mereka cintai," katanya.
"Jadi, mari kita lebih sering mencari hubungan. Mari kita merangkul perbedaan. Mari kita setuju untuk tidak setuju. Mari kita mencari nilai-nilai yang menyatukan. Mari kita berjuang untuk perdamaian," lanjutnya.
Simak Video "Menikmati Kuliner Lezat Setelah Berbelanja Oleh-Oleh di Semarang"
[Gambas:Video 20detik] (apl/apl)


