Siswa SMPN 1 Blora Dikeroyok Teman hingga Bibir Dijahit, Ortu Lapor Polisi

Siswa SMPN 1 Blora Dikeroyok Teman hingga Bibir Dijahit, Ortu Lapor Polisi

Achmad Niam Jamil - detikJateng
Kamis, 13 Agu 2026 12:59 WIB
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo saat ditemui di kantornya
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo saat ditemui di kantornya. (Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng)
Blora -

Seorang siswa di SMPN 1 Blora dikeroyok teman sekolahnya hingga mendapatkan luka jahitan. Kasus perundungan ini pun dilaporkan ke polisi.

Peristiwa itu terjadi pada awal Agustus 2026 lalu. Kala itu korban dipukuli dan ditendang sekelompok temannya di lingkungan sekolah. Akibatnya korban disebut mengalami luka memar dan bibirnya mendapatkan jahitan.

Kepala SMPN 1 Blora, Ainur Rofiq, saat dimintai konfirmasi membenarkan adanya perundungan tersebut. Usai mendapat informasi, pihak sekolah langsung melakukan penanganan awal terhadap siswa yang menjadi korban.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awal kejadian itu kan hari Jumat (7/8). Ketika sudah ada penanganan di hari Sabtu, kita fokus anaknya dulu. Diperiksa dan diantar pulang," kata Ainur saat ditemui di kantornya, Kamis (13/8/2026).

ADVERTISEMENT

Ainur menyebut pada Senin (10/8), pihak sekolah mengumpulkan para siswa untuk mengecek kronologi kejadian tersebut. Korban disebut meminta sekolah menjadi mediator.

"Korban minta dimediasi karena ada beberapa informasi yang harus dikroscek. Kan baru sepihak," ujarnya.

Sekolah lalu menjadwalkan mediasi pada Selasa (11/8) pukul 09.00 WIB dan mengundang orang tua siswa yang terlibat dan orang tua korban. Namun, pihak korban tidak datang dengan alasan hendak melaporkan kasus ini ke Polres.

"Saya sampaikan kepada orang tua yang terlibat bahwa korban memilih lapor ke Polres," jelasnya.

Ainur bersama guru BK pun sempat mendatangi rumah korban. Pihak sekolah meminta izin untuk melakukan pengecekan informasi, namun karena kasus telah dilaporkan ke kepolisian, sekolah memilih mengikuti proses penanganan yang dilakukan Polres.

Dalam kasus tersebut, ada empat siswa yang dilaporkan sebagai terduga pelaku. Selain itu, ada sejumlah siswa lain yang disebut terlibat dalam kejadian, tetapi menurut sekolah mereka tidak dikategorikan sebagai pelaku.

"Yang dilaporkan terduga pelaku empat orang. Tapi ada juga anak-anak yang terlibat, bukan pelaku. Tapi terlibat begitu. Korbannya kelas 9," ungkap Ainur.

Terkait dugaan perundungan, Ainur mengatakan pihak sekolah masih melakukan pendalaman. Berdasarkan cerita dari sejumlah siswa, korban disebut beberapa kali memasang jebakan berupa air di pintu kamar mandi sekolah. Saat pintu dibuka, air tersebut tumpah dan mengenai siswa yang masuk.

Sejumlah siswa yang diduga menjadi korban jebakan tersebut kemudian disebut terlibat dalam kejadian yang berujung pada pertengkaran. Namun, Ainur menegaskan informasi tersebut masih perlu dikroscek dan tidak bisa langsung dijadikan kesimpulan.

"Ini perlu dikroscek. Ada juga korban katanya pernah jadi korban itu, tapi yang memasang siapa kita juga belum tahu. Ada saksi yang mengetahui korban yang memasang itu," katanya.

Para pihak yang terlibat disebut sudah saling meminta maaf. Para siswa yang diduga terlibat pun masih diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

"Ya awalnya sudah ada maaf-maafan," ujarnya.

Ainur menyebut pihaknya sudah berupaya menggelar mediasi namun tidak berhasil. Pihaknya pun menghormati proses yang berjalan di kepolisian.

Setelah mengetahui keputusan tersebut, Ainur bersama guru BK mendatangi rumah korban. Pihak sekolah meminta izin untuk melakukan pengecekan informasi, namun karena kasus telah dilaporkan ke kepolisian, sekolah memilih mengikuti proses penanganan yang dilakukan Polres.

Dalam kasus tersebut, terdapat empat siswa yang dilaporkan sebagai terduga pelaku. Selain itu, ada sejumlah siswa lain yang disebut terlibat dalam kejadian, tetapi menurut sekolah mereka tidak dikategorikan sebagai pelaku.

"Sekolah sudah berusaha mediasi, tapi belum berhasil. Terus karena sudah dilaporkan ke Polres, ya sekolah mengikuti proses di Polres," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo, membenarkan adanya siswa yang dipukul oleh teman sekolahnya. Pihaknya pun menginstruksikan pihak sekolah untuk mengusut kasus ini.

"Kemarin saya minta bapak ibu guru hadir ke rumah korban, bertemu orang tua untuk menyampaikan kronologi kasus yang sebenarnya agar informasinya seimbang," ujar Sunaryo saat ditemui di kantornya hari ini.

Dinas Pendidikan bersama Dinas Sosial juga telah mendatangi rumah korban. Pihaknya turut berkoordinasi dengan sekolah dan siswa yang diduga terlibat untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Sunaryo mengatakan pihaknya tetap memantau laporan yang telah masuk ke Polres Blora. Jika proses hukum membutuhkan kehadiran anak-anak, Dinas Pendidikan akan berkoordinasi dengan pihak sekolah.

"Ini usia anak, jadi harus hati-hati agar tidak menimbulkan trauma. Kami berharap persoalan ini tidak berlanjut ke jalur hukum jika masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan," ujarnya.

Menurut Sunaryo, sekolah telah dibekali program budaya sekolah aman dan nyaman melalui kelompok kerja (Pokja). Namun, kasus perundungan masih menjadi tantangan di dunia pendidikan.

"Guru harus ekstra hati-hati. Banyak faktor yang memengaruhi anak sekarang, termasuk dunia digital. Pengawasan harus lebih ditingkatkan," tegasnya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin, membenarkan adanya laporan terkait dugaan perundungan yang melibatkan siswa SMPN 1 Blora. Namun, polisi menegaskan penanganan perkara tersebut saat ini masih dalam tahap penyelidikan.

Kasatreskrim Polres Blora AKP Zaenul Arifin mengatakan laporan tersebut baru diterima melalui Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). Laporan tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh Satuan Reserse Kriminal.

"Ini baru giat penyelidikan (kasus dugaan perundungan siswa SMPN)," kata Zaenul saat diminta konfirmasi via telepon.

Saat ditanya mengenai pihak yang dilaporkan dalam perkara tersebut, Zaenul belum memberikan keterangan lebih lanjut. Dia menyebut laporan dari SPKT belum turun ke Reskrim sehingga pihaknya masih melakukan pendalaman.

"(Siapa saja yang dilaporkan?) Baru di SPKT, Reskrim baru penyelidikan. Laporan SPKT belum turun, Reskrim baru penyelidikan giat," ujar Zaenul.

Halaman 2 dari 2
(ams/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads