Video dengan narasi seorang warga wafat saat mengikuti tadarus di Masjid Nurul Huda, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, jadi viral di media sosial. Warga tersebut bernama Djumari (76).
Video tersebut diunggah oleh anak almarhum, Yuni Nuraini, di akun Instagram pribadinya. Dalam takarirnya, Yeni menjelaskan ayahnya yang bernama Djumari (76) itu wafat saat mengikuti tadarus di Masjid Nurul Huda.
Dalam video rekaman CCTV itu terlihat beberapa pria tengah duduk melingkar di dalam masjid. Mereka sedang membaca Al-Qur'an. Tak lama kemudian, seorang pria yang duduk di ujung tergeletak. Sementara itu warga lainnya awalnya tampak tidak mengetahui kejadian tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu kaki pria yang tergeletak itu tampak berselonjor. Tangannya juga tampak bergerak. Al-Qur'an pun terjatuh dari meja kecil saat dia tergeletak.
Selang dua menit, salah satu jemaah melihat Djumari dalam keadaan terlentang. Sontak pria lainnya berupaya menolong.
Seorang takmir Masjid Nurul Huda yang berada di lokasi saat itu, Rosidi (75), mengatakan tadarus itu berlangsung pada Sabtu (8/8) bakda Magrib. Saat itu terdapat 12 jemaah yang merupakan pria sepuh.
Djumari (76) meninggal dunia saat tadarus di Masjid Nurul Huda, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Sabtu (8/8/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng |
"Itu pas ngaji Sabtu malam habis salat Magrib langsung sampai salat Isya," kata Rosidi saat ditemui di Masjid Nurul Huda, Rabu (12/8/2026) sore.
Rosidi mengatakan, Djumari wafat usai membaca Al-Qur'an. Dia mengatakan, dirinya mengetahui kawannya itu telah tergeletak.
"Habis giliran (membaca), terus bapak satunya, terus itu jatuhnya," ungkapnya.
Para jemaah menyadari Djumari terjatuh saat salah seorang dari mereka menunjuk pria pensiunan PLN itu. Mereka pun langsung menolong Djumari.
"Teman-teman melihat terus, 'Allahuakbar!'. Ditolong di tempat itu sudah meninggal," terang Rosidi.
Kemudian mereka memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Djumari. Pria tersebut pun dinyatakan meninggal dunia.
"Terus dipanggilkan dokter, dipastikan (meninggal)," sebutnya.
Lantas mendiang Djumari dibawa pulang. Rumahnya pun tak jauh dari masjid.
Marbot Masjid Nurul Huda, Wartoyo (25), saat itu tidak mengikuti tadarus malam. Dia mengetahui Djumari meninggal ketika hendak bersiap untuk azan Isya.
"Aku di dalam kamar. Setelah itu keluar mau persiapan salat Isya mau azan," kata Wartoyo.
Dia mengatakan, saat itu pihak keluarga telah berada di masjid. Begitu pula dengan petugas puskesmas setempat.
"Udah ada pihak keluarganya, sama pihak puskesmas," jelasnya.
Anak ketiga Djumari, Yuni, mengatakan saat itu dirinya berada di Bandung. Mendengar kabar ayahnya wafat, dia langsung ke Semarang.
"Kebetulan saya tinggal di Bandung. Syok juga ya kita waktu itu bener-bener memang tujuan Bapak sore berangkat dalam keadaan sehat walafiat," kata Yuni saat ditemui di rumah duka sore ini.
Pada pagi hari sebelum tadarus, Djumari sempat menanyakan kabar cucunya atau anaknya Yani. Djumari menuju ke masjid menggunakan motor listrik.
"Bahkan dari paginya tuh masih sempet nanya cucunya gitu. Sampai sorenya naik sepeda listrik seperti biasa karena ini kan jalannya nanjak," ungkapnya.
"Terus sehat kondisinya pas ke masjid juga sehat. Kemudian pas jam 18.30 magrib juga seperti biasa habis magrib menjelang Isyak tadarusan. Jam 18.35 itu sesuai dengan waktu yang ada di CCTV, Bapak udah mulai ngerasain nggak nyaman dan kemudian terjatuh," kata dia.
Aktif ke Masjid
Rekan Djumari sekaligus takmir Masjid Nurul Huda, Rosidi (75), menyebut Djumari rutin ke masjid untuk salat berjemaah. Pensiun PLN itu juga aktif mengikuti pengajian.
"Jemaah lima waktu aktif. Ngaji aktif," kata Rosidi.
Rosidi menyebut, Djumari tampak bugar meski usianya sudah 76 tahun. Biasanya, Djumari pergi ke masjid dengan mengendarai motor listrik.
"Merasa kehilangan dan iri, mudah-mudahan saya bisa seperti itu (wafat saat tadarus). Kesannya tanda-tanda khusnul khatimahnya jelas sekali. Waktu dikubur, kafannya di sini (di bagian wajah) itu ceria sekali, putih. Itu salah satu tanda husnul khatimah," ujar dia.
Menurut putrinya, Yuni, ayahnya dikenal pendiam dan sering ke masjid.
"Kebetulan kemarin memang ada tadarus dan juga ada perkumpulan di masjid dan Bapak hadir di situ," kata Yuni saat ditemui di rumah duka.
Yuni mengatakan, wajah almarhum ayahnya terlihat cerah baik saaat dimandikan hingga saat hendak dimakamkan.
"Saya lihat wajah Bapak tuh, masyaallah, bener-bener kayak cerah gitu, kayak bersih banget," sebutnya.
"Masyaallah sedih sekaligus lega karena Bapak meninggal dalam kondisi yang sebaik-baiknya," imbuh dia.

