Hasil pemeriksaan laboratorium terkait kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 6 Semarang telah keluar. Hasilnya, lauk MBG berupa rendang, ayam, dan telur puyuh positif mengandung bakteri E coli, Staphylococcus, dan Salmonella.
"Hasil (pemeriksaan) keracunan di SMKN 6 Semarang, E coli positif, Staphylococcus positif, Salmonella positif, terutama pada lauk," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Abdul Hakam di Balai Kota Semarang, Selasa (11/8/2026).
"Lauknya kan kemarin rendang, ayam, telur puyuh. Rata-rata di sana. Jadi memang tiga-tiganya yang protein positif semuanya," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain pemeriksaan mikrobiologi, Dinkes Kota Semarang juga melakukan pemeriksaan kimia. Namun, hasil pemeriksaan tersebut tidak menemukan adanya zat kimia berbahaya.
"Untuk pemeriksaan kimia negatif semua. Pemeriksaan kimia itu misalnya formalin, boraks, kemudian pewarna, negatif semua," jelasnya.
Hasil tersebut telah dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan. Menurut Hakam, beberapa kasus dugaan keracunan MBG di Kota Semarang lebih banyak disebabkan oleh mikrobiologi.
"Keracunan pangan di tujuh tempat itu, dari 2025 sampai sekarang, rata-rata didominasi oleh pemeriksaan mikrobiologi. E coli positif, Salmonella positif, Staphylococcus juga positif," ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi, Hakam mendorong agar dilakukan pemeriksaan mikrobiologi secara rutin pada menu MBG. Kebijakan itu telah dibahas dalam rapat Satgas MBG.
"Kemarin Satgas MBG rapat dan dipimpin langsung oleh Ibu Wali Kota. Sudah disampaikan bahwa ke depan kita minta ada pemeriksaan mikrobiologi setiap hari," kata dia.
Pemeriksaan tersebut nantinya melibatkan Dinkes, puskesmas, serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Petugas akan mengambil sampel makanan untuk diperiksa kandungan mikrobiologinya.
"Misalnya satu item, lauk yang berkuah, nanti kita periksa E coli-nya. Kalau positif, kita sampaikan E coli-nya sekian dan hasil mikrobiologinya positif. Selanjutnya terserah SPPG atau KPPG atau BGN mau diapakan. Yang penting kita kasih rekomendasi," jelasnya.
"Harapannya supaya tidak terjadi berulang-ulang. Kalau pemeriksaannya hanya setelah terjadi keracunan seperti ini, kan seperti mengejar yang sudah putus," imbuh dia.
Hakam juga menjelaskan, hal itu dikarenakan proses penyimpanan dan penanganan yang tidak sesuai standar. Misal makanan yang seharusnya disimpan dalam kulkas tidak ditempatkan pada suhu yang sesuai.
"Kalau protein misalnya tidak ditutup, kemudian harusnya dimasukkan ke lemari es tetapi suhunya tidak sesuai, itu pertumbuhan bakteri bisa tinggi," terangnya.
"Kalau misalnya tidak cuci tangan, Staphylococcus-nya sudah banyak. Staphylococcus itu memang ada di lapisan kulit kita. Berarti penjamah makanannya yang tidak higienis," lanjutnya.
Sebelumnya diberitakan, ratusan siswa SMKN 6 Semarang, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain siswa, korban keracunan juga ada dari guru.
"Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 707 orang mengalami gejala, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru," kata Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, Sabtu (1/8).
