Geramnya Warga Kendal gegara Atap Rumah Jadi Terminal Kabel Internet

Geramnya Warga Kendal gegara Atap Rumah Jadi Terminal Kabel Internet

Tim detikJateng - detikJateng
Sabtu, 08 Agu 2026 07:15 WIB
Ilustrasi Jaringan Internet
Ilustrasi Jaringan Internet. Foto: Shutterstock
Solo -

Sebuah video yang memperlihatkan seorang pria memotong kabel jaringan internet dan menghancurkan perangkat terminal WiFi di atap rumahnya viral di media sosial. Aksi tersebut dilakukan karena pemilik rumah mengaku perangkat itu dipasang tanpa izin dan diduga mengambil aliran listrik dari rumahnya.

Video berdurasi hampir tiga menit itu diunggah akun TikTok, Instagram, dan Facebook @igka_agustina. Dalam rekaman terlihat seorang pria memotong kabel-kabel jaringan internet, mencopot dua terminal beserta adaptor yang terpasang di atap, lalu menghancurkannya.

Pria tersebut diketahui bernama Rahmat Juni Ananta, warga Dusun Tambaroto, Desa Tambaksari, Kecamatan Rowosari, Kendal. Sementara perekam sekaligus pengunggah video adalah istrinya, Ika Agustina.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ika mengatakan peristiwa dalam video terjadi pada 3 Agustus 2026 sekitar pukul 16.00 WIB.

"Kalau kejadiannya yang divideo itu tanggal 3 Agustus 2026 sekitar jam 16.00 WIB dan saya rekam dan saya rekam mulai dari awal suamu naik tangga sampai ngancurin peralatan terminal internetnya," kata pemilik rumah, Ika Agustina kepada detikJateng, Jumat (7/8/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut Ika, persoalan bermula pada 24 Juli 2026 sekitar pukul 21.00 WIB saat seorang teknisi internet menghubunginya untuk meminta izin mengecek jaringan di atas atap rumah. Karena sudah larut malam, permintaan tersebut ditolak dan diminta datang keesokan harinya.

"Awal mulanya itu kejadian tanggal 24 Juli 2026 malam sekitar jam 21.00 WIB. Saat itu ada teknisi internet yang telpon saya dan minta ijin mau ngecek serta perbaiki kabel internet karena ada gangguan," terangnya.

"Karena sudah malam jadi saya tolak, saya suruh besok pagi atau siang saja," sambungnya.

Namun, tak lama setelah percakapan itu, Ika justru mendengar suara gaduh dari atap rumah. Saat keluar, ia mendapati dua orang berada di halaman rumah dan satu orang sudah berada di atas atap.

"Saya teriak dan minta orang yang di atas atap untuk turun. Saya juga minta mereka pergi dari rumah," ujarnya.

Keesokan harinya, Ika naik ke atap dan mendapati banyak kabel jaringan serta dua terminal internet telah terpasang. Ia menghubungi teknisi yang bersangkutan dan dijanjikan pemasangan akan dirapikan, namun hingga lebih dari sepekan tak kunjung ada tindak lanjut.

Saat suaminya, Rahmat, pulang dari Jakarta dan mengetahui hal tersebut, Rahmat mengecek langsung ke atap rumah. Di sana ia mendapati dua terminal mendapat pasokan listrik dari kotak listrik di dalam rumah tanpa sepengetahuan keluarga.

"Habis saya cerita, suami ambil tangga, bawa tang dan naik ke atap sama saya. Dia kelihatan marah dan kesal, terus dia potong-potong kabelnya dan copot semua terminalnya," ucapnya.

"Suami tambah marah saat melihat alat tersebut ambil aliran listrik dari dalam rumah tanpa ijin kita," ungkapnya.

Rahmat kemudian menurunkan seluruh perangkat dari atap dan menghancurkannya menggunakan batu.

"Kabel-kabel yang dipotongin dan perangkat terminal dibawa ke turun ke bawah. Sampai dibawah langsung dihancurin pakai batu besar, dipukul berulang kali," katanya.

Ika mengaku tidak mengetahui provider internet yang memasang perangkat tersebut. Ia menyayangkan pemasangan dilakukan tanpa persetujuan pemilik rumah, terlebih diduga mengambil listrik dari rumahnya.

"Saya nggak tahu nama pemasangnya atau nama providernya karena yang pasang adik saya, seharusnya kan mereka minta ijin dulu kepada kita kalau mau pasang terminal internet. Yang saya sesalkan sampai ambil aliran listrik dari dalam rumah lewat terminal bok listrik, itu kan mencuri," jelasnya.

Ia juga mengaku tagihan listrik rumahnya meningkat cukup signifikan sejak awal tahun. Jika sebelumnya berkisar Rp170 ribu per bulan, sejak Januari hingga Juli 2026 tagihannya naik menjadi sekitar Rp250 ribu.

"Ya atas kejadian tersebut tentunya dirugikan makanya sejak bulan Januari 2026 sampai bulan Juli, tagihan saya naik jadi Rp 250 ribu setiap bulannya. Padahal biasanya hanya Rp 170 ribu," terangnya.

Atas kejadian itu, Ika berharap pihak provider maupun teknisi yang memasang perangkat tersebut datang untuk meminta maaf sekaligus memberikan penjelasan kepada keluarganya.

"Ya tentunya kan saya sudah dirugikan baik tempat maupun listriknya, sebaiknya pihak provider dan tenaga teknisi datang ke rumah untuk meminta maaf kepada kita dan menjelaskan adanya pemasangan terminal tersebut," pungkasnya.



(alg/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads