Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menantang mahasiswa baru Universitas Diponegoro (Undip) Semarang untuk mandiri secara finansial tanpa minta orang tua. Amran juga memberikan modal usaha jutaan rupiah ke sejumlah maba Undip.
Hal itu disampaikan Amran saat memberikan kuliah umum di hadapan sekitar 16.267 mahasiswa baru Undip, di Muladi Dome, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Ia meminta mahasiswa berani mencari penghasilan sendiri.
"Yang berani mulai hari ini tidak minta uang pada orang tuanya, mana? Aku mau lihat," kata Amran di Undip, Kamis (6/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amran mengatakan keputusan untuk mandiri sejak kuliah akan menjadi titik awal perubahan masa depan mahasiswa, yang hasilnya bisa dituai 15 tahun ke depan.
"Kalau (sedang) bukan di kampus berarti di lapangan menjual cendol, menjual martabak, atau apa saja. Yang penting halal. Siap? Siap," ucapnya.
Amran kemudian memanggil empat mahasiswa baru yang telah memiliki usaha sampingan. Salah satunya Eka Saputra yang membuka jasa percetakan menggunakan printer miliknya.
Setelah mengetahui usaha maba tersebut menghasilkan sekitar Rp 500 ribu per bulan, hanya bermodalkan printer yang diturunkan oleh ayah Eka, Amran langsung menawarkan bantuan modal.
"Mau nggak saya belikan printer?" tanya Amran yang langsung disambut Eka antusias.
Amran lalu mengatakan akan membantu pengadaan sejumlah printer agar usaha mahasiswa tersebut dapat berkembang.
"Maaf ya, bukan dari menteri. Ini sebagai pengusaha aku datang. Nanti ini bukan juga uang negara, uang pribadi. Ini harus klir dulu Pak Rektor. Ini bisa masalah nih," ucapnya.
"Nah, jadi ini printer berarti satu Rp 500 ribu ya? Tapi kalau dibelikan satu printer bisa dapat Rp 300 ribu dong per bulan? Berarti kalau saya belikan 10 berarti Rp 5 juta. Kalau 20 berarti Rp 10 juta. Nih. Beli printer. Beli 10 ya," lanjutnya.
Tak hanya itu, Amran juga menambah modal usaha seorang mahasiswi yang berjualan donat di sebuah toko. Setelah menghitung potensi keuntungan usahanya, Amran memberikan tambahan modal.
"Modalnya berarti Rp 600 ribu bisa jual 100 biji. Jadi, Rp 600 ribu modalnya, kalau kali 10 berani? Kali 20 berani? Ya. Niatkan. Ini dari pengusaha, bukan dari menteri," tuturnya.
Menurut Amran, mahasiswa yang ingin menjadi pengusaha harus mulai membangun usaha sejak kuliah. Ia menyarankan mahasiswa mencari pengalaman berjualan daripada hanya mengandalkan kiriman orang tua.
"Makin menantang makin asyik, itu pendekar. Syarat berikutnya adalah jangan minta uang pada kedua orang tuanya. Putuskan mulai hari ini," pintanya.
Amran juga sempat mengenang masa-masa sulit yang pernah dialaminya saat masih menjadi mahasiswa. Ia bercerita lahir dari keluarga sederhana dan pernah merasakan hidup dalam kemiskinan.
"Saya katakan, saya lahir miskin, dihina, dan tinggal di kos-kosan. Tapi jangan sampai saya mati dalam keadaan miskin dan hina. Itu adalah salah saya," ungkapnya.
"Saya pernah jual batu dan bukan setelah kuliah, kelas 3 SD. Jual batu gunung, harganya saya masih hafal sampai hari ini. ini. Harganya Rp 16 ribu 1 kubik. Ini sampai melepuh jempol tangan umur 9 tahun," lanjutnya.
