Aksi demo dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di depan kantor Kejaksaan Negeri Pati kembali diwarnai dengan membakar keranda hingga membuang bangkai dan telur busuk. Massa menolak pejabat ruwet dan korupsi di Pati.
Pantauan detikJateng di lokasi, puluhan massa bergabung dalam AMPB mulai menggelar aksi sekira pukul 16.00 WIB. Aksi sore ini massa membawa keranda hingga replika pocong yang kemudian dibakar.
Koordinator AMPB Pati, Teguh Istiyanto, mengatakan aksi ini sebagai simbol matinya keadilan dan kebenaran di Pati. Dia menyebut terkait dengan keranda, merupakan simbol matinya nurani Kejaksaan Pati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi ini juga diwarnai dengan massa melempar bangkai ayam dan telur busuk ke kantor Kejari Pati. Tindakan ini sebagai simbol busuknya keadilan dan pelayanan di Kejaksaan Pati.
"Keranda ini simbol matinya nurani, telur busuk sebagai simbol busuknya hukum di Pati, seorang koruptor dilindungi bebas belum ditangkap padahal sudah menjadi tersangka," kata Teguh ditemui di lokasi aksi, Rabu (29/7/2026).
Baca juga: Demo di Kejari Pati Diwarnai Aksi Bakar Ban |
Salah satu peserta demo, Anik mengaku pernah dimintai uang oleh oknum jaksa setelah suaminya Supriyono alias Botok pernah tersandung masalah. Ia mengaku dimintai uang sebesar Rp 50 juta.
"Ketika itu suami saya kena masalah. Saya dimintai uang oleh seorang jaksa Rp 50 juta," jelas Anik di depan kantor Kejari Pati.
Dia mengaku mengalami sendiri insiden dugaan pemerasan tersebut. Dijelaskan saat itu, suaminya tersandung masalah taruhan pilkades. Saat itu ia dimintai uang seratusan juta dengan dijanjikan penangguhan.
"Ada (petugas bilang) pokok e rene gawa duit para Rp 75 juta jaksa, Rp 75 juta hakim. Saat itu saya teraniaya, suamiku divonis 3 bulan, nego malah divonis 4 bulan," kata dia.
Selepas aksi orasi dari perwakilan peserta akhirnya massa membubarkan diri. Rencananya aksi demo ini akan berlanjut pada besok sore.
Diberitakan sebelumnya aksi demo digelar pada Senin (27/7) kemarin. Demo sempat memanas setelah diwarnai dengan aksi bakar ban hingga saling dorong.
Koordinator AMPB Pati, Teguh Istiyanto, mengatakan aksi ini membawa keranda yang menjadi simbol matinya nurani para pejabat. Sebab pelaku korupsi dibiarkan bebas.
"Keranda ini simbol matinya nurani, kami ingin kalau sudah mati biar mati sepenuhnya," terang Teguh kepada wartawan di lokasi, Senin (27/7).
Teguh mengatakan memberikan waktu 5 hari agar menangkap pelaku korupsi dana desa Tlogosari berinisial AR agar segera ditangkap. Apabila tidak ditangkap massa akan kembali menggelar aksi lagi.
"Kami memberikan tenggat waktu 5 hari, kalau memang tersangka 5 hari ini tidak penangkapan penahanan, sebagai penggantinya Kepala Kejari Pati yang ditahan," terang dia.
Teguh mengatakan aksi ini juga sekaligus memberikan dukungan kepada Kejaksaan Agung membersihkan para pejabatnya yang diduga bertindak korupsi.
"Kami membersihkan Kejaksaan Agung, termasuk pembersihan di semua institusi," terang dia.
