Di dalam Pasar Johar, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, terdapat satu pasar yang dikenal sebagai Pasar Maling. Lantas, bagaimana cerita dibalik munculnya penyebutan "maling" itu? Simak kisahnya berikut.
Pantauan detikJateng pada Jumat (26/6) sore, Pasar Maling atau kini lebih sering disebut PM, terletak di lantai 2 dan 3 di blok Pasar Johar Selatan. Banyak pedagang telah menggelar lapak.
Kebanyakan barang yang dijual di PM Johar berupa pakaian. Ada pula yang menjual barang lainnya seperti sepatu maupun kuliner.
Namun, PM Johar terlihat sepi pengunjung. Hanya terlihat segelintir pembeli yang tengah melihat-lihat pakaian.
Tampak pula seorang pria paruh baya tengah berdiskusi bersama pedagang lainnya. Dia adalah Yuli Eko, salah satu tokoh PM Johar yang telah melapak sejak 1981.
Eko menuturkan dirinya merupakan generasi kedua dari keluarganya yang berdagang di PM Johar sejak 1959. Awal mula saat dirinya berdagang saat itu baru saja berusia sekitar siswa SMP.
Eko remaja mendapat modal berupa dua lusin kaus dari ibunya untuk dijual. Sukses menjual dagangannya, dia pun menggunakan hasilnya untuk membeli sebuah kalung emas.
"Dikasih kaus dua lusin dulu. Bati banyak, lebaran tak belikan kalung emas jadi tak pakai pas lebaran," kata Eko kepada detikJateng di PM Johar hari ini.
Eko menuturkan, mulanya para pedagang di PM Johar mendapat barang luar negeri dari pelabuhan. Barang-barang bermerek itu pun dijual dengan harga murah.
"Kita tuh waktu itu banyak barang-barang dari pelabuhan mungkin dari Singapura. Itu semua kan larinya ke pasar. Dan situ memang kita memang nggak matok harga mahal. Harganya yang murah-murah," ungkapnya.
Seiring waktu, pedagang di PM Johar semakin banyak. Pada malam harinya, mereka berjualan di sekitar wilayah Kanjengan, tidak jauh dari Pasar Johar.
"Seiring kemudian, dari pihak pedagang semakin banyak. Terus ada yang jualan malam di depan Kanjengan. Kita jualnya pakai petromax-petromax. Terus pakaian di samping," jelasnya.
Lantaran berjualan pada malam hari dengan penerangan yang minim itu, Eko menyebut, barang yang dijual seperti didapat dari maling. Terlebih barang yang dijual di bawah harga pasar. Dari situlah penyebutan "Pasar Maling" mulai ramai.
"Lah di situ kadang-kadang, maaf, jualnya kan murah, peteng-peteng (gelap) kok kayak barang malingan (hasil maling). Jadi terkenal kebetulan barangnya murah-murah do plesetke wong (diplesetkan) barang ini murah-murah kayak barang colongan, kayak barang malingan," bebernya.
Adapun barang yang dijual bukanlah curian. Eko menilai, saat itu barang yang dijual tidak juga terlalu murah. Hanya saja pedagang mengambil sedikit untung.
"Barangnya juga enggak murah-murah amat. Cuma kita memang jualnya nggak ngambil untung banyak. Kalau di toko waktu itu kan belum ada seperti ini supermarket," tuturnya.
"Dari situ semuanya timbul nama barang kok murah-murah, barang malingan. Akhirnya timbulnya seperti 'Pasar Maling'," lanjutnya.
Eko menyebut, saat itu para pedagang menjual berbagai barang seperti gitar. Barang yang dijual pun dari jenama terkenal.
"Ada gitar. Ada sepatu-sepatu branded," sebutnya.
Pada awal mula PM Johar bergeliat, Eko tidak menampik jika kemungkinan ada barang hasil curian yang dijual meskipun tidak banyak. Dia mengatakan, barang tersebut didapat pedagang dari orang lain yang menjual.
"Ada mungkin satu dua (barang hasil curian), tidak bisa menolak. Misalkan, maaf, njenengan jual pakaian sama saya, apa ada info saat itu barang itu curian apa nggak? Ya, saya beli toh sesuai dengan standar harga barang bekas," sebutnya.
Senada dengan Eko, Kepala Bidang Penataan dan Penetapan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Bagas Yuwono Ario Negoro, menyebut barang-barang yang dijual di PM Johar memang bermerek. Murahnya barang yang dijual memunculkan penyebutan "Pasar Maling".
"Pasar Maling itu kan dulu terkenal sekali dengan adanya barang-barang branded atau barang-barang yang mungkin second. Dan itu lebih murah, makanya (namanya) Pasar Maling," kata Bagas.
Ada juga versi yang menyebutkan bahwa penamaan Pasar Maling karena lokasinya yang berdekatan dengan Masjid Agung Semarang. Sebuah amsal menyebutkan bahkan sandal yang hilang di masjid tersebut pun bisa ditemukan di PM Johar.
"Tapi ada yang omongan, karena dekat masjid, sandalnya itu hilang, biasanya dijual di Pasar Maling. Jadinya akhirnya jadinya Pasar Maling, perumpamaannya," ungkap Bagas.
Simak Video "Merasakan Sensasi Malam di Bianglala Citra Grand, Semarang"
(afn/apl)