Keberadaan Pasar Maling di kawasan Jalan Stasiun Wonokromo, Surabaya, kembali menjadi sorotan setelah Pemerintah Kota Surabaya merelokasi para pedagang. Selain dikenal sebagai pusat jual beli barang bekas, pasar ini juga menyimpan sejarah panjang yang lekat dengan kehidupan masyarakat kota.
Pemkot Surabaya memindahkan pedagang Pasar Maling-yang selama ini berjualan di sekitar Jalan Stasiun Wonokromo-ke lokasi lain, seperti Sentra Wisata Kuliner (SWK) maupun fasilitas dagang milik pemerintah kota. Kebijakan ini diambil untuk mengurai kemacetan dan mengembalikan fungsi jalan yang kerap dipadati aktivitas jual beli serta parkir kendaraan di badan jalan.
Di balik penertiban itu, Pasar Maling Wonokromo telah lama dikenal sebagai salah satu pasar legendaris dengan cerita asal-usul yang unik. Nama "Pasar Maling" sendiri tidak semata merujuk pada tindak kejahatan, melainkan muncul dari kebiasaan transaksi barang bekas yang berlangsung secara informal, bahkan kerap dilakukan pada waktu-waktu tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana sejarah terbentuknya Pasar Maling dan apa yang melatarbelakangi penamaan tersebut?
Asal-Usul Terbentuknya Pasar Maling
Melansir jurnal berjudul Faktor yang Mempengaruhi Konsumen Memilih "Pasar Maling" Surabaya oleh Wahyu Tri Wiyoso dan Warsono, Pasar Maling Wonokromo sudah ada sejak sebelum dibangunnya Pasar Wonokromo, tepatnya sekitar tahun 1955.
Awalnya, kawasan tersebut digunakan sebagai tempat mangkal oleh pekerja seks komersial (PSK) yang menunggu pelanggan pada malam hari. Seiring waktu, aktivitas tersebut menarik pedagang kaki lima untuk berjualan di lokasi yang sama, hingga akhirnya terbentuk sebuah pasar di kawasan Wonokromo.
Perkembangan pasar ini kemudian mendorong pemerintah kota membangun pasar yang kini dikenal sebagai Dharmo Trade Center (DTC). Pada siang hari, DTC beroperasi sebagai pasar umum. Namun saat malam, aktivitas di kawasan tersebut berubah menjadi pasar gelap (black market) yang kemudian berkembang menjadi Pasar Maling Surabaya.
Para pedagang yang semula berjualan di area DTC kemudian berpindah ke pinggir Jalan Wonokromo, baik di sisi kiri maupun kanan jalan. Karena sering ditertibkan, para pedagang akhirnya dipusatkan di sisi kiri dekat Stasiun Wonokromo.
Menariknya, tidak semua pedagang hanya menjual barang, tetapi juga membeli barang dari masyarakat, terutama barang elektronik seperti ponsel. Transaksi dilakukan dengan sistem tawar-menawar hingga tercapai kesepakatan antara penjual dan pembeli.
Selain barang elektronik, pedagang juga menerima berbagai jenis barang lain, seperti pakaian, sandal, hingga barang bekas yang masih layak pakai untuk dijual kembali. Harga yang ditawarkan pun relatif murah dibandingkan pusat perbelanjaan lain, karena sebagian barang merupakan barang bekas, selundupan, bahkan diduga hasil curian.
Mengapa Disebut Pasar Maling?
Nama "Pasar Maling" tidak muncul tanpa alasan. Berdasarkan jurnal yang sama, sebutan ini muncul karena banyak barang yang dijual memiliki asal-usul yang tidak jelas, termasuk yang diduga berasal dari hasil curian.
Penamaan tersebut bukan berasal dari pemerintah, melainkan dari masyarakat-baik pembeli, penjual, maupun warga sekitar-yang kemudian secara turun-temurun menyebut kawasan itu sebagai Pasar Maling.
Bahkan, terdapat kisah dari seorang warga yang mengaku pernah menemukan kembali ponsel temannya yang hilang di salah satu lapak pedagang di pasar tersebut. Hal ini semakin menguatkan persepsi masyarakat bahwa barang yang dijual di sana sebagian berasal dari sumber yang tidak jelas.
Warga lainnya juga menyebutkan bahwa barang yang diperjualbelikan di Pasar Maling umumnya berasal dari barang bekas, selundupan, hingga barang curian. Dari sinilah nama "Pasar Maling" melekat kuat sebagai identitas pasar tersebut.
Meski kini tengah direlokasi dan ditata ulang, Pasar Maling Wonokromo tetap menjadi bagian dari sejarah urban Surabaya yang sulit dipisahkan dari ingatan warganya. Di balik nama yang kontroversial, pasar ini merekam dinamika ekonomi masyarakat, ruang transaksi informal, hingga perubahan wajah kota dari masa ke masa.
Kini, di tengah upaya penertiban, kisah Pasar Maling tidak hanya tentang jual beli barang bekas, tetapi juga menjadi potret bagaimana sebuah kawasan tumbuh dari kebutuhan, kebiasaan, dan cerita masyarakat di sekitarnya.
(ihc/dpe)











































