Antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghadapi fenomena El Nino Godzilla tahun 2026, mulai dipersiapkan. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, pun memetakan sejumlah wilayah yang rawan terjadi karhutla.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Heru Djatmika, mengungkap sejumlah daerah di Jawa Tengah rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan imbas El Nino Godzilla. Selain kawasan pegunungan, menurutnya daerah-daerah yang kering juga dinilai rawan kebakaran.
"Di Jawa Tengah itu daerah-daerah yang rawan kebakaran termasuk di gunung-gunung. Di Gunung Lawu, di Gunung Merbabu, Gunung Merapi maupun Gunung Slamet itu sangat rawan kebakaran hutan. Kalau tidak di gunung, mungkin di daerah-daerah yang kering seperti Blora, Rembang itu juga rawan kebakaran hutan," ungkap Heru Djatmika, ditemui usai Apel Kesiapsiagaan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2026 di Bumi Perkemahan Indra Prastha, Desa Candisari, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Rabu (24/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Heru menyebut luas kawasan hutan di Jateng sekitar 600 ribu hektare, dan hampir 50 persen masuk kategori rawan terbakar. Di tahun 2025 kemarin, wilayah Jawa Tengah relatif aman tanpa terjadi kebakaran hutan karena terjadi fenomena La Nina di mana curah hujannya cukup tinggi.
"Yang besar (terjadi kebakaran hutan dan lahan) di tahun 2023, tapi bisa kita tangani," jelasnya.
Kebakaran hutan dan lahan pada 2023 lalu disebut yang paling besar dalam lima tahun terakhir. Namun, Heru tak memerinci luas lahan yang terbakar.
"Luas (lahan yang terbakar) tahun 2023 itu saya belum pasti, tapi itu yang jelas selama 5 tahun terakhir, itu yang paling besar," terang dia.
Untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, pihaknya juga menggandeng berbagai pihak dan unsur masyarakat lainnya. Selain TNI, Polri, Pemerintah Daerah, juga menggandeng SAR, relawan dan masyarakat peduli api (MPA).
"Terutama MPA, masyarakat peduli api, itu yang penting. Jadi kegiatan kami salah satunya adalah membentuk MPA-MPA di sekitar daerah rawan kebakaran hutan. Karena tanpa bantuan masyarakat kita tidak mungkin bisa memadamkan kebakaran hutan itu," tegasnya.
Sementara itu Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), Anggit Haryoso, menambahkan pihaknya sudah melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan perangkat desa hingga aparat penegak hukum. Untuk mengantisipasi kebakaran hutan di musim kemarau 2026 ini, yang akan terjadi fenomena El Nino moderat kuat.
Pihaknya juga menggandeng berbagai unsur pemerintah dan masyarakat. Dengan harapan mampu menjaga dan memitigasi kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan cepat.
"Dan ini merupakan bentuk kolaborasi bersama antara pemerintah, masyarakat dengan harapan kita mampu memitigasi resiko El Nino moderat kuat. Jadi sekali lagi, tidak El Nino Godzilla tapi El Nino-nya moderat kuat. Jadi harapannya kita siap siaga dalam bulan-bulan puncak yaitu yang diperkirakan di bulan Agustus dan September," kata Anggit.
Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu yang diantisipasi paling rawan terjadi kebakaran, menurut Anggit, mengacu kejadian kebakaran tahun-tahun sebelumnya. Wilayah itu yakni di wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali.
"Di Taman Nasional Gunung Merbabu berdasarkan kejadian yang sudah, antara lain kerawanannya ada di Kabupaten Semarang, di wilayah Kopeng. Kemudian di Kabupaten Boyolali yaitu di Selo. Jadi untuk dua lokasi itu kita memberikan perhatian lebih, antara lain dengan membuat sekat bakar agar potensi bahan bakar yang selama ini tersimpan bisa dikurangi," pungkasnya.
