Terungkapnya Tabir Kematian Mahasiswa UGM Sekeluarga Saat Kamping di Temanggung

Round-Up

Terungkapnya Tabir Kematian Mahasiswa UGM Sekeluarga Saat Kamping di Temanggung

Tim detikJateng - detikJateng
Selasa, 16 Jun 2026 05:30 WIB
Konferensi pers di Mapolda Jateng terkait tewasnya mahasiswa UGM sekeluarga saat kamping di Temanggung, Senin (15/6/2026).
Konferensi pers di Mapolda Jateng terkait tewasnya mahasiswa UGM sekeluarga saat kamping di Temanggung, Senin (15/6/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Temanggung -

Misteri penyebab kematian mahasiswa UGM sekeluarga di dalam tenda saat kamping di Taman Wisata Alam Posong, Temanggung, akhirnya terungkap. Polisi menyebut tewasnya keempat orang yakni Muhammad Ali Munawar atau MAM (52), Maghfirah atau M (43), Alvino Evan Hakim atau AEH (17) dan Bagas Amar Hakiki atau BAH (21) itu karena keracunan karbon monoksida.

Kepastian ini diketahui setelah polisi melakukan serangkaian analisis berbasis scientific crime investigation (SCI). Selain itu juga pemeriksaan terhadap jenazah salah satu korban Alvino Evan Hakim atau AEH (17) yang dilakukan ahli dari Bid Dokkes Polda Jawa Tengah (Jateng).

Pemeriksaan terhadap jenazah korban itu dilakukan meliputi pemeriksaan luar dan dalam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium kriminalistik dapat disimpulkan bahwa barang bukti berupa potongan organ urine dan darah positif mengandung karbon monoksida dan negatif sianida," ujar Kapolres Temanggung, AKBP Zamrul Aini dalam keterangan persnya, Senin (15/6/2026).

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, Zamrul menjelaskan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Para korban diketahui adanya tanda mati lemas karena keracunan karbon monoksida.

"Tidak didapatkan luka akibat kekerasan benda tumpul atau tajam, didapatkan tanda mati lemas dan pembusukan sebab kematian adalah keracunan karbon monoksida mengakibatkan mati lemas," ungkapnya.

Zamrul menyampaikan, karbon monoksida yang menyebabkan kematian korban berasal dari hasil pembakaran briket atau arang dari tungku yang disediakan oleh pengelola. Tungku tersebut berada di dalam tenda yang tertutup rapat.

"Penyelidik dan penyidik menyimpulkan kematian tempat korban karena keracunan karbon monoksida yang mengakibatkan mati lemas dari hasil pembakaran briket atau arang menggunakan tungku yang berada di dalam tenda dalam keadaan tertutup rapat dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan," jelas Zamrul.

Selain itu, Zamrul juga memaparkan hasil pemeriksaan penunjang yaitu toksikologi. Hasil itu semakin memperkuat kesimpulan penyelidikan yang sudah dilakukan, yakni menegaskan adanya tanda keracunan karbon monoksida.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang toksikologi, didapatkan tanda keracunan karbon monoksida. Tidak didapatkan keracunan sianida," ungkapnya.

Sebagai diketahui, jasad satu keluarga ini ditemukan petugas saat hendak mengingatkan check out pada Rabu (27/5). Namun, karena tak mendapat respons, petugas tersebut membuka pintu kamping dan menemukan keempat korban sudah terbujur kaku.

Keempat korban yakni Muhammad Ali Munawar atau MAM (52), Alvino Evan Hakim atau AEH (17) dan Bagas Amar Hakiki atau BAH (21) yang merupakan laki-laki, serta seorang perempuan berinisial Maghfirah atau M (43). Keempatnya merupakan warga Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.



(apl/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads