Batu Lingga Bertulis di Gumulan Klaten Mirip 2 Prasasti Temuan Belanda

Batu Lingga Bertulis di Gumulan Klaten Mirip 2 Prasasti Temuan Belanda

Achmad Husain Syauqi - detikJateng
Minggu, 14 Jun 2026 19:36 WIB
Prasasti Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Minggu (14/6/2026).
Prasasti Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Minggu (14/6/2026). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Sebuah batu lingga prasasti ditemukan di gang Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten. Lingga prasasti itu memiliki kesamaan dengan dua prasasti lain yang ditemukan pada masa kolonial Belanda, yaitu prasasti yang ditemukan di Srago dan Mudal, Klaten.

Dukuh Srago saat ini masuk wilayah Kelurahan Mojayan, Klaten Tengah. Jaraknya hanya sekitar satu kilometer di barat Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Klaten Tengah.

Sedangkan Dukuh Mudal saat ini masuk wilayah Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara, Klaten. Jarak Dukuh Mudal juga sekitar satu kilometer di utara Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam buku laporan Dr. J.L.A Brandes berjudul Oud- Javaansche Oorkonden (terbitan 1913) yang dilihat detikJateng, isi prasasti yang ditemukan di Srago dan Mudal ditulis jelas. Satu alenia tentang prasasti Mudal berbunyi:

"In de bestuurs-vergadering van het Bataviaasch Genootschap, van 4 September 1888 (zie de Notulen van dat jaar, pag. 154, VII, a) deelde Dr. J. L. A. Brandes schriftelijk het volgende meΓ©: Door tussehenkomst van den heer G. P. Rouffaer, werd ik in kennis gesteld van het bestaan van een voor de helft verminkte lingga (2), in der tijdgevonden in een sawah van desa Moedal, op 1/ 2 paal ten N. 0. van Klaten. Deze lingga (?). die sedert eenigen tijd overgebracht is naar de van den heer van der Spek, administrateur der indigo-onderneming Jonggrangan, is in de richting der lengte-as in tweeΓ«n gespleten, en draagt eopsehritt, waarvan een gedeelte, met een stuk van den steen is verloren ge Uit een afschrift, dat de heer Rouffaer bij zijn bericht zond bljkt het opschrift luidde: Palyangan.

ADVERTISEMENT
Prasasti Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Minggu (14/6/2026).Prasasti Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Minggu (14/6/2026). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Terjemahan:
Pada rapat dewan Batavia Society tanggal 4 September 1888 (lihat Risalah tahun itu, halaman 154, VII, a), Dr. J. L. A. Brandes menyampaikan hal berikut secara tertulis: Bapak G. P. Rouffaer, saya diberitahu tentang keberadaan lingga (?) yang setengah rusak, yang ditemukan pada saat itu di sawah di desa Moedal, pada titik 1/2 di timur laut Klaten. Lingga (?) ini, yang beberapa waktu lalu dipindahkan ke tambang milik Bapak van der Spek, pengelola perkebunan indigo Jonggrangan, terbelah menjadi dua di sepanjang sumbu longitudinal, dan terdapat prasasti, yang sebagiannya telah hilang bersama dengan sebagian batunya. Berdasarkan salinan yang dikirim oleh Bapak Rouffaer bersama pesannya, tampaknya tulisan tersebut berbunyi: Palyangan.

Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi menjelaskan, merujuk laporan J.L.A Brandes, di Srago dan Mudal ditemukan lingga prasasti menyerupai prasasti Jogodayoh Lor. Prasasti Srago dan Mudal ditemukan berbeda tahun.

"Prasasti Srago ditemukan tahun 1886 dan prasasti Moedal tahun 1888. Untuk yang Mudal prasastinya hilang di Jonggrangan sebagaimana laporan Brandes itu," kata Hari kepada detikJateng, Minggu (14/6/2026) siang.

Menurut Hari, kedua prasasti itu sama dengan prasasti temuan di Jogodayoh Lor yang bertulisan kata palyangan. Dari sisi bentuk lingga dan aksara yang digunakan juga sama.

"Aksaranya sama (Jawa kuno) abad 9-10 Masehi, mirip Jawa Timur tapi cuma dibikin lebar, melesak ke bawah," ujar Hari.

Hari menjelaskan, temuan di Srago itu dilaporkan di rapat Batavia Society tanggal 7 September 1886 oleh Brandes yang menyatakan ditemukan tiang batu di perkebunan Srago dekat Klaten. Tiang itu berbentuk silinder pendek bagian atas kerucut, alas persegi, tinggi 75 sentimeter dan diameter 36 sentimeter.

"Berbentuk silinder pendek dengan bagian atas kerucut, alas persegi, tinggi 75 sentimeter dan diameter 36 sentimeter. Pada bagian samping tengah silinder juga tertulis tulisan Jawa kuno, berbunyi Palyangan," sebut Hari.

Hari mengatakan, prasasti Srago dibawa ke Batavia atau Jakarta dan disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D.51 sampai sekarang. Sedang Prasasti Mudal hilang, sebagaimana laporan Brandes.

"Prasasti Mudal hilang saat dibawa administratur pabrik Jonggrangan, hilang tapi sudah dicatat Brandes. Bacaan aksaranya sama yaitu palyangan, bentuk aksaranya juga sama, bentuk fisiknya juga sama. Jadi ada kesinambungan dua prasasti tersebut dengan prasasti yang kemarin ditemukan di Dukuh Jogodayoh. Terlebih jarak Jogodayoh Lor, Srago, Mudal, itu tidak terlalu jauh," ungkap Hari.

"Secara fisik ukuran dan bentuk prasasti ketiganya hampir sama, Srago dan Mudal itu tinggi 75 sentimeter dan Jogodayoh Lor sekitar 80 sentimeter, bentuknya dwibagha juga, kubus di bawah dan atas silinder yang ada aksaranya tersebut," pungkas Hari.

Sebelumnya diberitakan, sebuah batu lingga bertulis atau prasasti ditemukan di gang buntu Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten Sabtu (13/6). Lingga tersebut diperkirakan dibuat abad 9 Masehi.

"Kisaran abad 9 Masehi kalau dari penglihatan saya berdasar bentuk aksaranya," kata epigraf Goenawan A Sambodo saat dimintai konfirmasi detikJateng, Minggu (14/6/2026).

Goenawan mengatakan, dirinya sudah mencoba membaca lingga tersebut. Kalimat dalam prasasti itu berbunyi Palyangan.

"Untuk aksara Jawa kuno, terbaca sementara seperti yang sudah ditulis Mas Yoan (pegiat sejarah Klaten) di Facebooknya. Artinya belum pasti masih dalam proses pencarian," kata Goenawan.

Pegiat sejarah Klaten, Yohanes Sudaryanto, menyatakan tulisan pada prasasti sudah terbaca oleh epigraf Goenawan A Sambodo, yaitu kata 'Palyangan'. Kata tersebut kemungkinan nama wilayah.

"Palyangan, mungkin nama sebuah wilayah, mungkin ya," ungkap pria yang akrab disapa Yoan itu kepada detikJateng.

Menurut Yoan, lingga patok prasasti itu mungkin patok wilayah yang biasanya tidak hanya satu. Namun artinya apa juga belum bisa dipastikan

"Jadi belum bisa diartikan. Tapi saya sempat mencari tahu, secara harfiah dalam bahasa Sansekerta, kata Palyangan tidak ditemukan sebagai kosakata baku yang memiliki arti tunggal," kata Yoan.

Halaman 2 dari 2
(dil/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads