Duh! Ada SPPG di Semarang Ditutup gegara Buang Limbah ke Selokan

Duh! Ada SPPG di Semarang Ditutup gegara Buang Limbah ke Selokan

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Selasa, 09 Jun 2026 18:38 WIB
Ilustrasi MBG
Ilustrasi MBG. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Dariia Havriusieva)
Semarang -

Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang mengungkap beberapa SPPG di Jateng ditutup gegara instalasi pengolahan air limbah (IPAL) tak memenuhi standar. Bahkan ada SPPG yang membuang limbah ke selokan.

Hal itu disampaikan Kasubag Tata Usaha KPPG Semarang, Bagus Anindito. Ia menyebut penghentian operasional sejumlah SPPG di Jateng diakibatkan IPAL yang tidak memenuhi standar.

"Kemarin ada pemberhentian sementara itu karena mereka IPAL-nya jelek," kata Bagus di KPPG Semarang, Kecamatan Semarang Selatan, Selasa (9/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi, memang Kedeputian Tauwas (Pemantauan dan Pengawasan) perintah ke kami untuk mengecek kondisi SPPG, terutama yang IPAL-nya. Nah, itu didapati kondisi IPAL-nya itu tidak sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh BGN," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Pihaknya mendapat perintah dari Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan (Tauwas) untuk mengecek kondisi SPPG, terutama di IPAL. Kemudian ditemukan ada SPPG yang membuang limbah langsung ke selokan tanpa proses penyaringan yang memadai.

"Bahkan masih ada yang tidak ada saringannya juga, ada yang langsung dibuang ke selokan atau pembuangan setempat. Makanya dari Kedeputian Tauwas memberikan suspend terkait kondisi yang jelek itu," ucapnya.

"Seingat saya kurang lebih 7 harian (setop operasional) sampai mereka bisa memperbaiki IPAL-nya. (Diberhentikannya sudah sejak) Akhir bulan kemarin," imbuhnya.

Ia mengatakan temuan itu juga didapatkan dari laporan masyarakat. Menurutnya, ada beberapa warga yang melapor karena tercium bau tak sedap dari sekitar SPPG yang kini ditutup.

"IPAL sudah jadi syarat pembukaan SPPG. Cuma mungkin awal mereka bagus, tapi perawatannya ada yang kurang. Dari BGN dan tim kami juga ada pengecekan rutin, terutama bila ada laporan-laporan dari warga," ucapnya.

Diketahui, KPPG Semarang membawahi sekitar 2400-an SPPG di 20 kabupaten/kota di Jateng dengan hampir 2 juta penerima manfaat. Dia menjelaskan ada sekitar seratusan SPPG yang ditutup gegara IPAL.

"Iya (ada laporan warga), mungkin kan jelas yang namanya IPAL kan ada aroma yang tidak enak segala macamnya. Nah, itu mungkin efek dari perawatannya yang kurang," ujar dia.

"Kalau terkait IPAL nggak sampai kalau 300-an, 100." sambungnya.

Dana SPPG Tak Cair Bukan gegara Kepala BGN Diganti

Bagus mengakui saat ini ada sejumlah SPPG di Jateng yang ditutup sementara karena masih menunggu dana operasional cair. Namun, hal itu bukan berarti dana dihentikan, melainkan masih dalam proses.

"Sebenarnya bukan tidak cair ya, mungkin belum cair tetapi itu karena saat ini kan sedang ada ada penajaman Kemenkeu," ucapnya.

"Nah, mungkin masih dalam proses itu juga dan juga dari ini kan juga SPPG kan jumlahnya ribuan satu Indonesia. Jadi, kan masih dalam proses," lanjutnya.

Ia menegaskan dana operasional SPPG yang tidak cair itu tidak berkaitan dengan pergantian Kepala BGN. Menurutnya, hal itu lebih disebabkan oleh proses administrasi dan penyesuaian anggaran yang masih berjalan di pemerintah pusat.

"Nggak ada (kaitannya dengan pergantian kepala BGN). Cuma memang karena ini dari Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan ini memang lagi program efisiensi kan seluruh kementerian lembaga di Indonesia. Dan salah satunya itu," tuturnya.

Ia menjelaskan, mekanisme pendanaan MBG kini menggunakan sistem top up berbasis virtual account (VA). Ketika saldo operasional SPPG mulai menipis, pengelola mengajukan permohonan penambahan dana yang kemudian diproses oleh pusat.

"Sekarang sistem modelnya top up. Jadi based system. Jadi kalau sudah ada yang mengatur dari pusat itu nanti dari tim PPG-nya akan mengecek berapa yang sudah mulai habis dan itu akan langsung di-auto top up sama PPG-nya," jelasnya.

"(Nominal) Sekali pencairan itu kurang lebih Rp 500 juta untuk dua periode, berarti 2 bulan. Itu sudah mencakup semua untuk belanja bahan baku, insentif mitranya," lanjutnya.




(ams/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads