Benteng Keraton Kasunanan Solo yang berada di Kelurahan Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, jadi sasaran aksi vandalisme menggunakan cat semprot.
Coret-coretan jelek, tak beraturan, dan tidak memiliki nilai seni itu menghiasi sepanjang benteng di Jalan Reksoniten sejauh 500 meter lebih. Aksi vandalisme itu merusak estetika bangunan benteng yang memiliki banyak nilai sejarah.
Pantauan detikJateng, vandalisme di Benteng Keraton Solo sisi barat itu kebanyakan hanya menampilkan rangkaian huruf yang aneh, seperti HYGO, FNDC.NDIK.ITO, RKA.YL., dan lainnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo, Maretha Dinar Cahyono, mengatakan coretan vandalisme yang merusak estetika Bangunan Cagar Budaya (BCB) itu kebanyakan sudah lama.
"Itu vandalisme sudah lama, sudah sering terjadi di situ," kata Maretha saat dihubungi detikJateng, Senin (8/6/2026).
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sendiri sudah berkoordinasi dengan Satpol PP serta Dinas Pendidikan Kota Solo untuk pencegahan adanya vandalisme tersebut. Terlebih objek vandalisme merupakan termasuk Cagar Budaya.
Dinas Pendidikan diharapkan memberikan sosialisasi terkait vandalisme, sementara Satpol PP sendiri sering melakukan patroli. Namun diakuinya ada permainan kucing-kucingan dari para pelaku vandalisme ini.
"Kami koordinasi dengan Satpol PP untuk patroli di wilayah tersebut, dari Dinas Pendidikan untuk mengajak anak-anaknya tidak melakukan vandalisme," ucapnya.
"Kucing-kucingan soalnya, ada patroli tapi ada kucing-kucingan. (Beraksi) Tengah malam misalnya," imbuhnya.
Dia mengatakan, benteng tersebut masih masuk bangunan Keraton Kasunanan Surakarta, sehingga statusnya Kawasan Cagar Budaya Nasional di bawah Kementerian Kebudayaan. Karena statusnya yang merupakan bangunan cagar budaya, untuk pembersihan atau pemugaran tidak bisa dilakukan asal-asalan.
Meski demikian, pihaknya juga memberikan laporan kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Jateng agar mendapat tindak lanjut.
"Kerusakan di kawasan cagar budaya itu menjadi asistensi dari Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan, termasuk yang vandalisme itu. Kami akan koordinasi juga dengan Balai Pelestarian Kebudayaan bagaimana penanganan itu, dan ketika kami melakukan treatment bagaimana seharusnya untuk tembok yang merupakan cagar budaya," jelasnya.
Maretha berharap kasus vandalisme tidak terjadi lagi, baik di bangunan milik perorangan, fasilitas umum, hingga bangunan cagar budaya. Dia mengatakan, jika ada yang ingin membuat mural, bisa menghubungi pihaknya untuk nantinya dibuatkan kegiatan yang lebih positif.
"Kami harap yang melakukan vandalisme tidak tembok-tembok cagar budaya, karena pemeliharaan cagar budaya lebih susah daripada tembok biasa," harap Maretha.
"Mereka kalau berkegiatan meluapkan ekspresi mereka silakan datang ke kami, kami fasilitasi dengan kegiatan yang lebih positif," lanjut dia.
Dijelaskan, saat ini pihaknya tengah membuat lomba mural di tembok Gereja Katolik Santo Antonius Padua Purbayan tanggal 10 Juni. Dari 71 pendaftar, panitia sudah mengurasi 10 kelompok.
Simak Video "Video: Ribut-ribut di Penyerahan SK Pelaksana Keraton Solo oleh Fadli Zon"
(apu/dil)